|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Peningkatan
partisipasi masyarakat dan peran Lintas sektor di
daerah
Pemberantasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue(4)
|
Bila lingkungan sekitar kita kering atau tidak ada media air sebagai tempat bertelur nyamuk maka nyamuk aedes aegypti akan berkurang di sekitar kita, sehingga dengan sendirinya penyakit demam berdarah akan berkurang. Bila tidak, dapat kita terapkan metode konvensional sederhana untuk membasmi nyamuk dewasa, dikombinasikan dengan pembasmian jentik aedes aegypti yang digunakan saat ini melalui Gerakan 3M Plus, yang dikembangkan menjadi Gerakan Multi M atau Gerakan Multi P yang pembuatannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat (Sumakul JA.)
Diketahui bahwa penyakit de-mam berdarah berkaitan lang-sung dengan musim hujan. Ber-dasarkan Data curah hujan di Kota Manado yang diperoleh dari Badan Meteologi dan Geofisika Propinsi Sulut; selang Tahun 2000 sampai awal Tahun 2006, curah hujan di Kota Manado mempunyai pola rata-rata de-ngan grafik yang hampir sama setiap tahun.
Biasanya, pada bulan Agustus didapatkan curah hujan teren-dah, dan pada bulan-bulan se-lanjutnya curah hujan akan meningkat terus sampai bulan Februari setiap tahunnya curah hujan mencapai puncak tertinggi; kemudian pada bulan April curah hujan akan menurun terus dan pada bulan Agustus curah hujan tercatat sangat sedikit sekali bahkan kadang terukur tidak ada curah hujan sama sekali pada bulan Agustus.
Umumnya pada bulan Septem-ber curah hujan akan mening-kat lagi dan mencapai puncak tertinggi pada bulan Februari, pada bulan Februari Tahun 2006 curah hujan tercatat paling ting-gi selang beberapa tahun ter-akhir, di mana di Kota Manado mengalami kejadian bencana alam seperti banjir dan tanah longsor oleh karena sangat ting-ginya curah hujan.
Berdasarkan data yang ada untuk Kota Manado, tingkat kelembaban juga mengikuti pola hujan setiap tahunnya, tingkat kelembaban tertinggi tercatat pada bulan Februari bersamaan dengan tingginya curah hujan dimana tercatat sering terjadi peningkatan kasus DBD, se-dangkan tingkat kelembaban terendah tercatat pada bulan Agustus saat terjadi musim ke-marau di mana sering terjadi masa paceklik panen pertanian dan bencana kekeringan.
Berdasarkan Data penyakit DBD di Dinas Kesehatan Pro-pinsi Sulut bahwa selang Tahun 2000–2005 ditemukan 3.500 penderita DBD termasuk bebe-rapa orang yang meninggal.
Sesuai data yang ada diketa-hui bahwa pola distribusi pe-nyakit DBD mengikuti pola hu-jan dan tingkat kelembaban, di mana pada periode bulan Mei sampai September kasus DBD akan menurun. Pada bulan Ok-tober kasus DBD secara perlahan akan meningkat terus dan pada bulan Desember sam-pai Januari kasus DBD meroket atau meningkat secara tajam dan mencapai puncak tertinggi pada bulan Februari setiap ta-hunnya, selanjutnya kasus DBD akan menurun secara dramatis pada bulan Maret dan April dan kemudian kasus DBD terus me-nurun secara lambat pada bulan Mei sampai bulan September untuk kemudian akan mening-kat lagi pada bulan-bulan selan-jutnya.
Berdasarkan data yang ada pada beberapa tahun terakhir; diketahui bahwa pada bulan Agustus di mana curah hujan sangat kurang atau bahkan ti-dak ada sama sekali; di mana sampah-sampah anorganik seperti kaleng, botol, ban bekas kemungkinan besar tidak terisi air; namun kasus DBD kadang malah meningkat, hal ini ke-mungkinan berkaitan dengan adanya tempat perindukan nya-muk aedes aegypti pada sumur-sumur gali, tempat penam-pungan air atau saluran air lim-bah yang ada di masyarakat (se-suai sifatnya, nyamuk aedes agypti suka bertelur pada air yang bersih).
Selanjutnya, secara ekonomis berdasarkan data yang ada bila dikalkulasikan secara kasar bahwa setiap penderita yang masuk rumah sakit selama bebe-rapa hari (4 hari) maka selama di rumah sakit keluarga pen-derita akan mengalami kerugian seperti menanggung biaya pe-rawatan dan pengobatan, biaya transport, biaya petugas penja-ga, tambahan biaya lainnya (biaya makan lebih mahal) serta kehi-langan produktivitas jam kerja.
Diperkirakan, besarnya biaya yang dikeluarkan dapat berva-riasi tergantung dari keadaan sosiol-ekonomi keluarga (makin tinggi status ekonomi makin be-sar biaya dikeluarkan) yang da-pat dihitung rata-rata berupa: Perkiraan biaya perawatan di rumah sakit: Rp 1.750.000. Per-kiraan biaya transport (3 Orang x 4 hari x Rp 10.000): Rp 120.000. Perkiraan biaya makan dan minum (2 OH x 4 hari x 12.500): Rp 100.000. Perkiraan biaya pe-tugas penjaga (1 OH x 4 hari x Rp 25.000): Rp 100.000. Per-kiraan kehilangan produktivitas jam kerja (2 OH x 4 hari x Rp 50.000): Rp 400.000. Perkiraan biaya lain-lain Rp 30.000. Perki-raan total kerugian keluarga sebesar: Rp 2.500.000. Untuk setiap penderita. Dana ini belum termasuk subsidi pemerintah bagi pasien yang masuk rumah sakit dan biaya untuk program pencegahan dan pemberan-tasan penyakit DBD.
Bila dikalkulasikan selama lima tahun maka berdasarkan data penyakit untuk Propinsi Sulut, maka diperkirakan ma-syarakat mengalami kerugian untuk biaya perawatan di RS bagi 3.500 penderita sebesar: 3.500 penderita x Rp 2.500.000 = Rp 8.750.000.000. Perkiraan Biaya program pemberantasan DBD dan perkiraan biaya sub-sidi Pemerintah bagi pasien di RS: Rp 3.000.000.000. Perkiraan Total kerugian biaya akibat pe-nyakit DBD di Propinsi Sulut se-lang Tahun 2000–2005 sebesar: Rp 11.750.000.000. Perkiraan biaya ini belum termasuk pen-derita yang suspek DBD namun tidak terdata dan hanya di rawat atau berobat jalan di rumah (karena yang terdata adalah penderita yang harus ada diagnosa pasti dari pihak RS).
Sebagai asumsi untuk Tahun 2006–2010 Propinsi Sulut akan mengalami peningkatan biaya sebagai kerugian Daerah dengan asumsi sebesar 15 miliar. Diper-kirakan pada Tahun 2010-2015 maka Propinsi Sulut akan me-ngalami kerugian lebih dari 20 milyar setiap lima tahunnya se-bagai akibat dari kehilangan pro-duktivitas jam kerja pada masya-rakat, biaya perawatan dan pengobatan di rumah sakit, biaya pemberantasan penyakit DBD serta biaya subsidi Pemerintah bagi penderita (Gakin) selama penderita masuk rumah sakit.
Selain itu keadaan kondisi higiene sanitasi lingkungan yang begitu baik di daerah ini juga turut mempengaruhi dalam menumbuhkan akan kepercayaan masyarakat internasional akan jaminan kondisi higiene dan sanitasi lingkungan serta kesehatan di daerah ini, yang dapat mem-pengaruhi secara langsung pertumbuhan beberapa sektor lainnya seperti sektor pariwisa-ta, sektor kelautan, sektor eko-nomi termasuk investasi dan dunia usaha di daerah ini.
Berdasarkan taksiran perki-raan biaya tersebut dengan mem-pertimbangkan kegunaan jang-ka panjang dengan melihat man-faat yang diperoleh masyarakat selama 5–10 tahun ke depan serta manfaat lainnya bagi per-tumbuhan sektor pariwisata, sektor kelautan, sektor ekono-mi meliputi investasi dan dunia usaha adalah lebih mengun-tungkan bila kita melaksanakan revitalisasi sarana prasarana kesehatan lingkungan dan peningkatan manajemen bagi penyediaan air bersih untuk tujuan menurunkan angka kesakitan dan angka kematian penyakit DBD melalui upaya pembasmian tempat perindukan nyamuk aedes aegypti serta pe-laksanaan pembasmian nya-muk dewasa aedes aegypti dengan metode konvensional yang se-derhana.
Hal ini dapat direalisasikan melalui pelaksanakan “Gerakan Multi M” atau “Gerakan Multi P” yang dapat dilaksanakan secara lintas program dan lintas sek-toral oleh beberapa instansi atau dinas terkait melalui pelak-sanaan program kegiatan di-maksusd dengan melibatkan partisipasi aktif pihak swasta dan masyarakat secara luas se-suai kemampuan yang ada, demi keberhasilan pelaksanaan pro-gram pemberantasan penyakit DBD tersebut.
VISI
· Terwujudnya Indonesia Sehat di Tahun 2010 (Nasional).
· Terwujudnya Sulut Sehat di Tahun 2010 (Propinsi).
· Manado Kota Sehat Menuju Terwujudnya Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 (Kota Manado).
MISI
1. Terciptanya kondisi ling-kungan pemukiman masyara-kat perkotaan dan pedesaan yang bebas nyamuk aedes aegypti yang merupakan vektor dari virus dengue yang menyebabkan pe-nyakit DBD.
2. Meningkatnya derajad kesehatan masyarakat dengan menurunnya angka kesakitan dan angka kematian penyakit DBD di wilayah perkotaan dan pedesaan.
3. Meningkatnya derajad eko-nomi masyarakat dengan menu-runnya angka kesakitan dan angka kematian akibat penyakit DBD.
4. Terciptanya penghematan anggaran pembangunan melalui sektor kesehatan (dengan me-nurunnya angka kesakitan dan angka kematian penyakit DBD) maka anggarannya dapat di-gunakan untuk penggunaan pembelanjaan pembangunan pada bidang kesehatan lainnya (pemberantasan TBC) atau digu-nakan untuk pemanfaatan be-lanja pembangunan sektor lain-nya di luar instansi kesehatan.
SASARAN STRATEGIS
Berdasarkan perumusan misi tersebut maka sasaran strategis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatnya kualitas higiene sanitasi lingkungan pada kawas-an pemukiman di wilayah perko-taan dan pedesaan.(Bersambung)
|
|