|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Teolog Dunia Berdebat Dasar Teologis Tentang Kekerasan
|
DUA puluh lima teolog dari se-luruh dunia akan berkumpul di de-kat Lausanne, Swiss, pada 5 sam-pai 8 Desember, untuk mendebat-kan mengapa dan untuk apa keke-jaman tertentu dapat diperhitung-kan sebagai tema baru bagi reflek-si teologi.
Pertemuan yang akan dilaksa-nakan di kota Crêt-Bérard itu diperlakukan sebagai prioritas utama setelah adanya publisitas berkelanjutan yang melingkupi berbagai macam isu di seluruh dunia tahun-tahun terakhir ini.
Pertemuan itu akan berfokus pada dasar teologis untuk mem-bahas isu-isu seperti tahanan politik di Irak dan Guantanamo, Libanon yang terjebak antara Hisbullah dan Israel, genosida masa lalu dan saat ini, kekerasan terhadap suku Dalit, penggunaan pemerkosaan sebagai senjata perang, berbagai macam bentuk terorisme dan counter tero-risme, penyiksaan, xenofobia dan rasisme, kekerasan domestic se-mua adalah contoh kekejaman yang dipub-likasikan media di seluruh dunia.
Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches/WCC), menje-lang acara tersebut telah menga-jukan beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan: “Apakah kekeja-man? Apakah itu benar-benar to-pos teologis yang baru? Apa kaitannya dengan kemanusiaan si korban dan juga si pelaku? Bagai-manakah kekejaman dapat mem-buat rekonsiliasi menjadi proses yang sulit dan rumit karena hasil traumanya yang “menular” di siklus kekerasan yang tiada akhir? Dan yang paling penting, bagaimana gereja-gereja dapat merespon berbagai manifestasi yang berbe-da mengenai kekejaman?”
Diorganisir oleh WCC dan Evange-lical Lutheran Church in America (ELCA), pertemuan para teolog itu akan membahas isu-isu kekejaman yang melampaui pandangan umum bahwa itu hanyalah suatu perilaku kebiasaan sebuah perspektif yang mengantarnya ke alam psikologi.
Mereka akan berfokus pada fakta yang sering dilupakan, bahwa nyatanya, budaya, tradisi dan juga struktur sosial, ekonomi dan politik mempunyai kekejaman, dan juga menciptakan etos yang “memam-pukan” orang menjadi kejam.
Dua kasus studi dari konteks dan perspektif yang berbeda akan me-nyediakan dasar untuk debat teo-logis. Studi-studi itu adalah me-ngenai terorisme dan counter-te-rorisme, penyiksaan, genosida, apartheid, rasisme, pemerkosaan sebagai senjata, sex trafficking, okupasi militer, kastaisme, dan ke-kerasan terhadap wanita.
Di semua kasus, diskusi akan ber-fokus pada pelajaran yang didapat dari komunitas yang sedang dan masih berjuang dan bertahan menghadapi situasi kekejaman, untuk mengeksplorasi sebuah teologi baru mengenai salib yang, mengatasi pemojokan korban, mengarahkan kebaikan, belas ka-sih dan pengampunan, dan me-mampukan gereja-gereja meres-pon fenomena dengan penger-tian akan rekonsiliasi yang diper-baharui.
Konsultasi yang berjudul, ‘Se-buah refleksi teologis terhadap kekejaman, si wajah buruk dari kekerasan’ itu adalah bagian dari pekerjaan komisi Iman dan Atu-ran WCC untuk memfasilitasi ref-leksi teologis mengenai keda-maian dalam konteks Dekade untuk Mengatasi Kekerasan (De-cade to Overcome Violence).(gcm)
|
|