|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Alda Diduga Pesta
Narkoba Sebelum Tewas
|
Kematian artis Alda Risma Elvariani (24) dipastikan karena over dosis narkoba. Polisi men-duga konsumsi obat-obatan terlarang oleh Alda dilakukan bersama teman-temannya da-lam sebuah pesta narkoba. “Saya rasa ada indikasi pesta narkoba, karena banyak jarum suntik,” ujar Kasat Narkoba Pol-res Jakarta Timur Kompol
Gembong Yuda di Mapolresta Jakarta Timur, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur, Rabu (13/12).
Namun Gembong menolak berkomentar apakah pesta narkoba itu dibumbui dengan pesta seks. “Kalau pesta seks itu bukan urusan saya,” elaknya seperti dilansir detik. Saat ditanya lebih lanjut me-ngenai adanya jaringan pema-sok narkoba kepada Alda dan rekan-rekannya, Gembong menyatakan pihaknya masih mengembangkan kasus ini untuk mengetahui jaringan tersebut.
Sementara itu, Kapolres Ja-karta Timur Kombes Pol Ro-binson Manurung menyata-kan pihaknya masih membu-ru rekan pria Alda yang dike-tahui bernama Ferry.
“Status Feri dapat menjadi tersangka atau menjadi saksi yang membiarkan korban. Ya nanti kita lihat pengemba-ngan kasus ini,” beber dia.
Menurut keterangan polisi, sebelum meninggal, Alda check in di Hotel Menteng Raya, Jl Matraman Jakarta Timur, bersama seorang pria. Pria ini belakangan diketahui bernama Ferry. Pada 12 Desember, Ferry menghubu-ngi petugas hotel untuk men-cari taksi karena Alda sakit. Dimungkinkan Alda mening-gal saat perjalanan menuju RS Mitra Internasional, Kam-pung Melayu.
“Setelah sampai di RS Mitra Internasional Alda masih ditemani Ferry. Namun ketika jenazah Alda dilempar ke RSCM, Ferry menghilang,” ujar Robinson di Mapolresta Jakarta Timur. “Sampai seka-rang petugas kami masih di lapangan mengejar Ferry yang keluarganya pun belum mengetahui sejak beberapa hari yang lalu,” tambah dia.
Robinson mengemukakan, kesimpulan sementara me-nyatakan Alda meninggal ka-rena kelebihan dosis metam-phetamin, yang merupakan jenis psikotropika.
Apakah ada upaya pembu-nuhan dan kekerasan sek-sual? “Kita masih dalami. Be-lum ada tanda-tanda kekera-san seksual,” tandas dia. Yang pasti di tubuh Alda terdapat 25 bekas tusukan.
Alda yang dilahirkan di Bogor, 23 November 1982 itu, sempat mencuri perhatian banyak pihak ketika berhasil menyalip ketenaran para penyanyi lain yang jauh lebih “senior” semacam Memes, Krisdayanti, Rita Effendi, dan Mayangsari. Lewat lagu “Aku tak Biasa” yang diciptakan Rudy Loho, Alda berhasil me-raih reputasi sebagai Penya-nyi Pop Wanita Terbaik di ajang Anugerah Musik In-donesia 1998.
Inilah yang menghantar-kanya menjadi bintang yang berkilau. Albumnya Aku Tidak Biasa terjual sekitar 200.000 kopi, dan sempat bertengger di tangga lagu sejumlah radio Tanah Air waktu itu. Sebagai penyanyi, Alda termasuk beruntung. Ketika baru berusia 15 tahun, dia diberi kesempatan menyanyi bareng grup mancanegara Code Red dalam lagu We Can Make It.
Ia pun sempat menjadi wakil Indonesia di ajang 99 Shang-hai Asia Music Festival, di International Gymnasium Shanghai, 27 - 30 November 1999. Sayang Alda dikalah-kan rekan senegaranya Dea Mirella, yang berhasil menda-patkan juara ketiga. Juara pertama diraih penyanyi Malaysia Siti Nurhaliza.
Dari dunia nyanyi, ia pun menjelajah dunia akting. Peran pertamannya diperoleh lewat sinetron Kesucian Prasasti.
Seiring berjalan waktu, kabar Alda tak lebih dari sebuah kabar sensasi. Ia bahkan sempat dikabarkan menjadi cem-ceman seorang produser dan dikaruniai anak. Belaka-ngan, ia juga disebut-sebut sering berhubungan dengan barang haram alias norkoba. Dan, kabar itu pun bergulir bak bola liar, hingga ajal men-jemputnya.(dtc/kcm)
|
|