|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Polda Selidiki Keberadaan 14 Koruptor di Sulut
|
Belum ditemukannya 14 buronan korupsi, ternyata menjadi perhatian aparat Polda Sulut. Kepada Komentar, Kabid Humas Polda Sulut AKBP Drs Benny Bella mengatakan meski tidak diminta sudah menjadi tugas kepolisian untuk membantu pihak kejaksaan dalam mencari keberadaan para koruptor ini.
“Saat ini kami sedang menyelidiki keberadaan 14 koruptor di Sulut tersebut,” tukas Bella.
Apalagi, kata Bella, salah satu koruptor yakni Sherny Kojongian berasal dari daerah ini. “Jadi tidak menutup kemungkinan Sherny lari dan bersembunyi di kampung halamannya di Sulut,” ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Sorong ini.
Sekadar diketahui, sebelumnya Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulut telah menginstruksikan agar jajarannya terutama Kejaksaan Negeri (kejari) untuk memonitor secara langsung keberadaan sejumlah koruptor kelas kakap termasuk Sherny Kojongian (42), buronan tindak pidana korupsi tersangka kasus kredit fiktif PT Bank Harapan Sentosa (BHS) senilai Rp 1,95 triliun. Instruksi tersebut telah disampaikan ke semua kejari menindaklanjuti surat perintah Kejaksaan Agung (Kejagung) yang diterima pekan lalu.
Demikian diakui Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Sulut, AH Siregar SH kepada Komentar, Rabu (22/11) lalu. Menurutnya, surat dari kejagung yang disertai dengan dengan foto dan ciri-ciri tersangka secara umum disebarkan ke seluruh Indonesia terutama daerah-daerah yang dianggap kuat dapat dijadikan tempat pelarian buronan-buronan tersebut.
Kojongian disidangkan secara in absentia karena melarikan diri sebelum keputusan pengadilan dijatuhkan. Selain Kojongian, 13 koruptor lain yang sedang diburu masing-masing Eko Putranto, Samadikun Hartono, Lesamana Basuki, Sudjiono Timan, Hendro Bambang Sumantri BBA, Eddy Djunaedi, Ir Ede Utoyo, Tony Suherman, Bambang Sutrisno, Andrian Kiki Ariyawan. Hari Matalata alias Hariram Ramchmand Melwani, Drs Nader Thaher MBA dan Drs Dharmono K Lawi.(jok)
|
|