HOME : FOOTBALL

Headlines News  

16 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Alkitab Jangan Dipolitisir


Kehadiran Partai Kristen Demokrat (PKD) yang memba-wa-bawa nama Alkitab sebagai asas partai, mengundang tanggapan kritisi dari Anggota DPD RI asal Sulut, Ir Marhany Pua. Mantan Ketua Pemuda GMIM ini menyatakan tidak sependapat jika ada parpol yang menggunakan Alkitab sebagai asasnya. 
Menurut Pua, pengertian Al-kitab artinya sangat luas, ter-lebih menyangkut nilai Alki-tab itu sendiri. Dia kuatir de-ngan menjadi asas parpol, Alkitab bisa disalahartikan oleh masyarakat. Ditegaskan-nya, dasar Alkitab yang kudus untuk perjuangan dan jangan dipolitisir. 
“Kalau untuk perjuangan ok, tetapi dalam konteks politik tetap (harus) Pancasila,” ujar Pua ketika diwawancarai koran ini di Jakarta, kemarin (15/12). 
Senada dengan Pua, mantan Ketua Umum PGI, DR Nathan Setiabudi juga menilai tidak tepat urusan politik mem-bawa-bawa Alkitab. 
“Kalau urusan politik dicam-pur Alkitab kurang tepat. Alkitab dipergunakan di gere-ja,” katanya seraya menam-bahkan, antara firman Tuhan yang bersimbulkan pedang dengan politik yang diper-gunakan untuk meraih ke-kuasaan, tidak boleh dicam-puradukkan. Untuk itu, dia melihat perlu diperjelas mak-sud PKD menggunakan asas Alkitab.
Rohaniwan Katolik Pastor DR Joannis Mangkey MSC yang juga Rektor Universitas De La Salle Manado juga menga-takan, sangat tidak dibenar-kan jika sebuah partai politik menggunakan Alkitab sebagai asas partainya. Dijelaskan Mangkey, Alkitab di pandang umat Kristen sebagai pedoman dan panutan hidup yang berisikan nilai-nilai spiritual dan moral untuk kehidupan bersama. Karena itu akan sa-ngat sulit jika dijadikan alat politik, karena di satu sisi, agama tidak bisa dipolitisir, tapi juga di sisi lain politik lebih cenderung untuk mem-persatukan kepentingan-kepentingan sendiri atau ke-lompok tertentu.
“Kita jangan lagi dikotak-kotakan entah itu menurut identitas agama ataupun me-nurut identitas suku. Jika identitas agama dijadikan se-bagai sebuah asas parpol, ma-ka sulit membangun sebuah kebersamaan,” ujarnya. Di-akui mantan Sekertaris Jen-deral Tarekat MSC ini, mem-bentuk sebuah partai pada prinsipnya adalah kebebasan setiap orang. Hanya saja akan menjadi sebuah persoalan jika asas dari partai tersebut mengambil identitas agama tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu pula yang sifatnya eksklusif.
“Indonesia bukan negara agama tapi negara Pancasila. Masyarakatnya adalah ma-syarakat plural yang berasal dari pelbagai agama dan suku, di mana yang menyatukannya melalui dialog bersama. Karena itu akan sulit jika iden-titas agama tertentu dijadikan sebagai asas dari sebuah parpol,” jelasnya.
Ketua Pemuda Sinode GMIM, Billy Lombok juga berpen-dapat, sebagai orang Kristen tentunya harus hidup ber-dasarkan alkitabiah. Tapi se-bagai warga negara dan dalam kiprahnya di dunia politik, sudah seharusnya dalam kerangka mempertahankan dan menjamin Pancasila. 
Ditakutkannya, jika ada parpol menggunakan asas kitab suci orang Kristen, bisa juga timbul parpol lain dengan kitab suci agama lain. Ini katanya bisa membahayakan ideologi negara, Pancasila. ‘’Sebab, bisa-bisa saja ada yang berpendapat lebih baik ganti saja ideologi,’’ katanya. Lombok malah menilai, hal ini malah akan tidak mengun-tungkan umat Kristen.
Di sisi lain, Sekretaris Remaja GPdI Sulut, Pdt Haezar Sumual MA mengatakan, munculnya PDK sebagai partai baru yang berasaskan Alkitab, tidak perlu ditanggapi secara apriori. 
Sebab, kehadiran partai yang masih belum lolos verifikasi ini diharapkan mampu membawa kebenaran. “Partai Kristen yang ada selama ini, pada awalnya menyatakan menuju pada nilai-nilai Alkitab. Tetapi pada kenyataannya di la-pangan, semua janji dan ko-mitmen yang diucapkan tidak sejalan, jauh melenceng dan mengalami pergeseran. Mala-han, tidak sedikit kader-kader yang direkrut sangat jauh dari yang diharapkan,’’ katanya.
Dinilainya, jika muncul partai kristen baru, hal itu bukan karena partai Kristen yang ada sebelumnya keku-rangan publik kristiani. Tetapi hal ini lebih didorong oleh keterpanggilan untuk me-ngembalikan kebenaran Alki-tab, tanpa harus dibarengi dengan janji-janji bombastis, antara lain seperti salib masuk istana dan sebagainya. 
‘’Slogan-slogan seperti itu, secara otomatis telah menja-dikan publik tertekan,” papar Sumual seraya menambahkan dengan hadirnya PDK paling tidak telah memberi alternatif baru bagi konstituen Kristen dalam memperjuangkan nilai-nilai kekristenannya. 
Sementara Wakil Ketua Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Sulut Pdt Honny Supit Sira-panji dalam menyikapi ke-munculan PDK perlu disikapi secara arif. Pasalnya, hal-hal seperti ini pasti menimbulkan pro kontra. 
“Di dalam gereja ada ber-bagai partai. Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana jika kita sebagai orang Kristen dapat meletakkan tindakan dan perkataan sesuai dengan Firman Tuhan. Artinya jika ada partai politik yang ber-keinginan untuk melakukan Firman Tuhan itu adalah sah-sah saja. Dan ini adalah ha-rapan kita bersama. Sebab, kerinduan kita adalah kebe-naran dapat dinyatakan,” tu-turnya.(zal/eda/imo)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin