HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

16 December 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Perempuan

 IKUTI BERITA LAIN

Kondektur Teri vs Koruptor Kakap

SURAT PEMBACA

Wakil Rakyat Harus Tahu Diri

 COMMENTAREN

Menyoal Kinerja PNS


Banyak cerita tentang perempuan. Perempuan menjadi tokoh yang tidak pernah bosan untuk dibicarakan. Zaman dahulu perempuan tidak pernah didengar kecuali pada level tertentu. Seperti Ratu Elisabeth dan Ratu Victoria dari Inggris, yang namanya dikenal sampai sekarang dengan “Victorian style” karena gaya hidupnya saat itu, yang masih hidup sampai sekarang. Ada juga Nefertity dan Cleopatra dari Mesir. Dan masih banyak lagi perempuan yang beruntung dan namanya tercatat dalam sejarah dunia.

Tetapi bagi mereka yang ber-ada pada level yang sulit, ini merupakan malapetaka. Karena tempatnya cuma didapur atau pendamping hidup bahkan pendapatnya tidak didengar. Tetapi kehidupan terus ber-langsung dan banyak orang yang peduli dengan perempuan. Ba-nyak tokoh perempuan yang la-hir memperjuangkan hak-hak perempuan. Aku mungkin salah satu dari perempuan yang ber-untung karena aku lahir di zaman modern dan di zaman emansipasipasi. Tetapi eman-sipasi tidak hidup diseluruh dunia. Masih banyak perem-puan yang tidak merasakan arti emansipasi yang sesungguhnya. Aku pernah menonton acara talkshow dari “ OPRAH”. Dan saat itu “Oprah” membicarakan dan menunjukkan bagaimana kehidupan perempuan di Pakis-tan. Bagimana perlakuan laki-laki disana sampai membakar istrinya. Dan istrinya dilarang buka mulut, dan setiap mela-kukan penyelidikan terhadap apa yang terjadi selalu sulit, karena ditutup-tutupi oleh
pihak tertentu. Aku ingat be-berapa waktu lalu ada temanku berkata “ Apa yang harus kita lakukan sebagai perempuan untuk mengatasi hal ini?”. Dengan spontan aku menjawab “mungkin harus tampil sexi seperti perempuan arab kalau berada di rumah “. Semua terta-wa mendengar jawabanku. Maksud temanku adalah cerita poligami yang saat ini lagi heboh dan berkembang dinegaraku. Karena dalam konsep poligami, perempuan siap untuk hidup sebagai orang kedua dalam kehidupan berumah tangga.
Mungkin maksud dari poligami ini bagus, untuk mencegah ke-miskinan, tapi bagaimana dengan perasaan seorang wanita. Suatu pagi telepon ru-mahku berdering. Saat itu aku lagi tidur, dengan malas kuang-kat gagang telepon yang berada di samping tempat tidur dan “Halo”, terus aku dengar suara laki-laki di seberang sana de-ngan bahasa Arab. Dalam terje-mahan bahasa Indonesianya “ Selamat pagi madam, bisa bicara dengan Fatima” Itu adalah nama pembantuku . Dengan malas aku bangun memanggil Fatima, untuk mengangkat telepon di ruangan sebelah dan kembali lagi untuk melanjutkan tidur-ku. Tiba-tiba terdengar suara ribut di ruangan sebelah, akhir-nya aku bangun. Pelan-pelan aku berjalan ke dapur dan men-dapati pembantuku lagi me-nangis. Pura-pura aku tidak memperhatikan dia yang lagi menangis dan bilang “Good Morning” dia terkejut dan men-ceritakan apa yang terjadi de-ngan suaminya. Buat aku itu masalah biasa dalam berumah tangga, lalu aku menyuruh dia menyiapkan sarapan seperti biasanya. Tapi waktu aku pu-lang rumah sekitar jam 6 sore, dia masih berada di rumah. Aku kaget karena jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Katanya dia tidak bisa pulang rumah. Bakalan ada perang besar karena alat pemotong marber dicuri orang di rumah. Dan dia yang harus bertanggung jawab. Katanya, pendapat dia tidak diterima dan dia harus mendengarkan apa kata suami. Artinya dia yang harus mengg-antikannya. Waw, itu namanya tidak adil. Berarti “ ringan sama dijinjing, dan berat pikul sendiri “Ternyata keadilan terhadap perempuan itu ada dibelahan bumi mana saja.Walaupun dalam konsep yang berbeda. Te-tapi intinya perempuan selalu menjadi tempat curahan keti-dakadilan. Sepertinya ketidak-adilan bagi kaum perempuan masih hidup sampai sekarang. Bagaimanapun juga perempuan itu manusia sama seperti laki-laki. Yang punya hati dan pera-saan Jadi mereka layak menda-patkan perlakuan yang sama dan seimbang seperti laki-laki dan juga hak-haknya harus di-hormati bukan dikesampingkan atau tidak didengar sama sekali.(*)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin