HOME : FOOTBALL

Berita Opini Pembaca dan Redaksi 

16 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Kondektur Teri vs Koruptor Kakap

 

Awal Bulan Desember 2006 melalui TV RCTI ditayangkan lagi foto dan nama beberapa orang yang menjadi buron karena tersangka sebagai koruptor kelas kakap. Memang tanggal 9 Desember merupakan peringatan “hari korupsi”, artinya menurut saya adalah hari untuk memperingati “rasa malu menjadi koruptor. Koruptor kakap adalah mereka yang menarik atau mengambil uang negara/rakyat ratusan miliar sampai sekian triliun. 

Menayangkan foto dan nama bagi para koruptor kakap ru-panya bukan persoalan bagi me-reka. Rasa malu bukan lagi me-rupakan persoalan utama bagi para koruptor, karena budaya rasa malu di Indonesia bukan lagi persoalan penting, karena begitu banyak orang yang masih tetap bekerja, melayani dan memimpin walaupun sebenar-nya mereka sudah dan semen-tara “dipermalukan” karena diduga telah melakukan korupsi. Lain halnya seperti di negara-negara maju tertentu misalnya Jepang, banyak publik figur dan pejabat pemerintah yang rela mundur, karena mereka telah diterpa isu korupsi atau berbuat cabul/ mesum dan Korea Selatan yang pernah mengadili dua mantan Presiden dengan tuduhan korupsi dan bersedia mengembalikan hasil korupsi mereka.
Koruptor kakap biasanya me-narik/ mengambil uang dengan jumlah yang sangat besar, bisa miliaran bahkan triliun rupiah , tidak seperti kondektur teri yang hanya mampu menarik/ me-ngambil uang dari penumpang angkot, bus dengan jumlah ratusan ribu rupiah. Namun de-mikian beberapa dari “kondek-tur” telah kena ekseskusi karena dianggap kurang jujur dalam pekerjaannya oleh para pengusaha atau juga oleh ins-tansi terkait. Orang-orang kelas teri seperti kondektur dan seje-nisnya, tidak memiliki perlin-dungan yang kuat dari peker-jaan mereka, mereka tidak bisa berbuat pelanggaran sekalipun kecil. Orang-orang seperti me-reka, tidak memiliki jaminan hidup masa depan, mudah kena teguran, mudah kena skors, bah-kan bila perlu di PHK, tanpa pe-sangon. Padahal uang di tangan kondektur hanya sebentar un-tuk diteruskan kepada majikan, pengusaha atau pemerintah. Kapan mereka bisa korupsi ya?
Bagaimana dengan koruptor kakap, kok bisa diberi maaf, sudah ada indikasi korupsi ma-sih dapat pinjaman lagi dan bisa terus aktif bekerja dan berope-rasi. Pinjaman tidak tanggung-tanggung sampai mencapai ratusan miliar dan trilinan. Se-harusnya ada keadilan dalam hal ini. Perilaku yang diskrimi-natif dan tidak disiplin seperti ini sangat merugikan banyak orang. Segelintir orang yang terlalu diberikan “kepercayaan” ternyata bertindak jauh lebih jahat dari para penjahat kebanyakan yang terlibat pencopetan dan pencurian, karena terdesak tidak pernah pegang uang 1-2 juta di tangan untuk beberapa hari. Belum lagi kita harus kecewa menyaksikan ada pejabat pemerintahan yang ikut korupsi uang negara/ rakyat karena diberi kepercayaan mengelola keuangan ratusan juta atau miliaran. Perlu kita tahu, hasil survei World Bank dari 175 negara, Indonesia me-nempati urutan ke-135 mela-kukan korupsi dan di tingkat ASEAN, Indonesia menempati ranking terkorup.
Kalau dibiarkan terus perilaku seperti ini, negara ini bisa bang-krut. Semakin banyak rakyat akan menderita dan jatuh miskin, sementara ada segelintir orang tetap bebas menikmati uang “bersama” tanpa rasa malu dan beban. Bagaimana kalau kita usulkan, supaya terjadi roling jabatan dan profesi. Para kondektur dan sejenisnya, diberikan kepercayaan untuk mengelola uang negara/ rakyat lebih besar. Siapa tahu, mereka dapat mengelolanya dengan baik, karena profesi mereka dulu telah membentuk nereka menghitung uang receh secara teliti, sehingga mentalitas yang teliti dan bertanggungjawab seperti ini lebih dapat dipercaya, jika dibandingkan dengan semua koruptor yang nama dan wajah mereka telah ditayangkan di TV.
Orang yang suka korupsi menganggap agama bukan sesuatu yang penting. Kalaupun beragama, supaya mendapat legitimasi kepercayaan menge-lola uang yang banyak. Mereka melihat agama tanpa Tuhan, dan karena itu mereka tidak takut melakukan tindakan pencurian(Orang Manado bilang “papancuri”), walaupun Firman Tuhan berkata: “Jangan men-curi”. Agama dipakai sebagai ke-dok menyimpan segala “keja-hatan” besar. Orang yang korup-si uang miliaran dan triliunan rupiah adalah penjahat besar, karena mereka ikut menyeng-sarakan jutaan rakyat. Kalau saja uang tersebut dipakai un-tuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan, mungkin jutaan rakyat tidak akan terus hidup dalam kemiskinan. Hal yang menarik di sisi lain, ternyata para koruptor ikut melibatkan institusi agama melalui pem-berian sumbangan. Para korup-tor kelihatan begitu dermawan, karena institusi agama, apakah pribadi atau atas nama institusi banyak mengusulkan proposal dan tak malu-malu meminta-minta belas kasihan untuk urusan studi banding dan jalan-jalan ke dalam dan luar negeri dan membangun sarana fisik tempat umat beribadah.
Bangsa ini kalau ingin mak-mur, mari kita berhenti dari praktek korupsi. Kembalikan semua uang hasil korupsi baik yang sudah tersangka maupun yang pintar bersembunyi. Kem-balikan semua uang tersebut dan percayakan uang tersebut kepada mentalitas para kondek-tur untuk mengelolanya. Siapa tahu, mereka tidak korupsi dan dalam waktu dekat negara kita akan sungguh-sungguh mak-mur. Beleive it or not, sejarah yang akan menceritakannya.(**)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin