|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Manado kuning, jagung berjasa
yang ditinggalkan dalam crash program jagung
Keberhasilan Crash Program Jagung di Sulut
|
Crash Program (CP) Jagung yang menjadi salah satu program Pemerintah Propinsi (Pemprop) Sulawesi Utara (Sulut) telah berjalan dan mendapat respons yang luas dari masyarakat. Hal ini terbukti dengan pelampauan target tanam, yang menurut rencana hanya 10.000 hektar namun realisasi tanam sampai dengan Maret 2006 sudah mencapai 21.604 hektar. Dilihat dari pelampauan target tanam tersebut maka Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Sulut berpendapat program CP Jagung yang dicanangkan pada akhir 2005 berhasil (Komentar Selasa, 28 Maret 2006).
Sayangnya berkelanjutan ke-berhasilan CP jagung tersebut memang sedikit terganggu oleh musim kemarau yang berke-panjangan akhir-akhir ini, yang mengakibatkan mundurnya musim tanam dari waktu yang direncanakan. Namun demikian, walaupun hujan yang turun be-lum merata, paling lambat akhir November 2006 yang lalu Disper-tanak Sulut sudah akan menga-lokasikan benih jagung Hibrida sebanyak 36 ribu kilogram, yang khusus diperuntukan bagi lahan tidur seluas 1.800 hektar (Komen-tar, Kamis, 9 November 2006).
Pengalokasian benih jagung hibrida yang dalam jumlah yang sangat banyak tersebut, memang harus diakui bahwa hal ini meru-pakan salah satu faktor, bahkan kalau boleh dikatakan sebagai faktor yang paling menentukan keberhasilan CP jagung. Karena apa pun input teknologi yang akan diberikan kepada tanaman jagung, seperti pengairan, pe-mupukan, pengendalian gulma, dll tidak akan berhasil me-ningkatkan produktivitas ta-naman kalau mutu genetik benih jagung ditanam rendah.
Benih jagung hibrida, seperti varietas Jaya-1, N-35, yang ba-nyak disebarkan Dispertanak untuk ditanam oleh petani di daerah ini memiliki keunggulan dalam segi produktivitas tana-mannya. Jagung hibrida varietas Jaya-1 mempunyai potensi hasil 15,5 ton per hektar dengan rata-rata hasil 9 ton per hektar. Hasil rata-rata jagung hibrida tersebut lebih tinggi sembilan kali lipat dibandingkan dengan rata-rata hasil jagung varietas Manado Kuning. Hasil rata-rata jagung Manado Kuning waktu dilepas pada tahun 1945 hanya satu ton per hektar pada pemupukan dosis rendah. Menurut Edwin Monding SP. Kepala Sub Bagian Peren-canaan dan Keuangan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Kehewanan Kabupaten Minahasa Selatan, tingginya produktivitas jagung hibrida tersebut adalah merupakan faktor utama yang mendorong Dinas Pertanian untuk mengem-bangkan penanamannya di lahan-lahan pertanian.
Jagung varietas Mana-do Kuning, Tantangan dan Harapan
Di tengah gencarnya pengem-bangan jagung hibrida, yang akan memasuki musim tanam akhir tahun ini, ada hal menarik yang dijumpai ketika tim penulis melakukan sosialisasi program penggunaan pupuk pelengkap cair (PPC) Plant Catalist untuk me-ningkatkan produksi tanaman jagung di Desa Talikuran Keca-matan Tompaso, beberapa petani yang sempat dijumpai di desa ini ternyata lebih menyukai mena-nam jagung varietas Manado Ku-ning dibandingkan dengan mena-nam jagung hibrida, walaupun kenyataannya produktivitas ja-gung varietas Manado kuning me-mang jauh lebih rendah diban-dingkan dengan jagung hibrida. Data produksi jagung Manado Ku-ning di daerah ini sulit diperoleh karena petani tidak berorientasi pasar. Jagung yang dihasilkan ter-utama untuk makanan kuda pacu.
Oleh karena itu tim tertarik un-tuk mengetahui lebih lanjut me-ngapa petani - petani tersebut le-bih menyukai menanam jagung varietas Manado Kuning diban-dingkan dengan menanam jagung hibrida. Alasan utama petani di desa tersebut, seperti Bapak Jan Kawulur, Bapak Sam Mamesah, dan Bapak Melky Mamesah kare-na dibandingkan dengan jagung hibrida, hasil jagung varietas Manado kuning, baik biji maupun daun dan batangnya lebih disukai oleh kuda pacu dan sapi yang banyak dimiliki oleh petani yang sekaligus juga sebagai peternak kuda pacu.
Berdasarkan kenyataan yang antagonis tersebut di atas, di sisi yang satu petani yang sekaligus sebagai peternak harus mening-katkan produksi komoditi jagung untuk memenuhi kebutuhan pasar, tapi di sisi yang lain peta-ni harus juga memenuhi kebu-tuhan makanan ternaknya. Ke-putusannya ternyata petani lebih memilih untuk menanam jagung varietas Manado Kuning demi memenuhi makanan ternaknya daripada menanam jagung hib-rida walaupun produksinya jelas jauh lebih tinggi.
Untuk memecahkan masalah tersebut di atas, maka harus ada upaya untuk meningkatkan pro-duktivitas jagung Manado Kuning, agar supaya baik kebutuhan untuk makanan ternak terpenuhi dibarengi dengan hasil yang tinggi untuk meningkatkan pendapat-an sebagai tujuan akhir dari suatu usaha budidaya tanaman, terma-suk jagung. Ini adalah sebuah tantangan dan harapan.
Harapan petani yang disampai-kan kepada penulis adalah mere-ka sangat mendambakan agar hasil jagung varietas Manado kuning yang mereka andalkan mampu berproduksi lebih tinggi dari produksi yang ada sekarang ini. Harapan petani ini menjadi tantangan bagi tim peneliti jagung di Fakultas Pertanian Unsrat. Ka-rena apabila hasil rata-rata tana-man jagung varietas Manado Ku-ning tidak dapat ditingkatkan ma-ka suatu hari kelak varietas jagu-ng, yang telah begitu dikenal bah-kan kalau boleh dikata satu-satunya varietas tanaman yang membawa nama ibu kota Propinsi Sulawesi Utara sejak tahun 1945, yaitu Manado, suatu hari kelak akan juga ditinggalkan oleh pe-tani. Hal ini tentunya tidak kita inginkan, apalagi dewasa ini kota Manado diidentikan dengan ma-kanan khas daerah ini, yaitu Tinu-tuan “Manado Kota Tinutuan”.
Berbicara mengenai Manado Kota Tinutuan, maka sebagai orang Manado pasti kita tidak bisa melu-pakan bahwa Jagung Manado kuning (orang Manado bilang milu) adalah salah satu bahan dasar Tinutuan. Makanan khas Minahasa ini yang sudah terkenal secara nasional dengan nama Bubur Manado. Jagung Manado kuning yang sudah lama menyatu dengan bubur Manado, perannya rasanya tidak tergantikan oleh ja-gung hibrida, yang menurut pen-dapat beberapa orang yang sem-pat ditanyakan bahwa rasa jagu-ng Manado kuning, terutama milu muda kalau rebus, rasanya lebih manis dibandingkan dengan jagung hibrida. Dengan demikian apabila para petani tidak lagi me-nanam jagung Manado kuning ini maka dapat kita bayangkan bagai-mana rasanya Tinutuan tanpa mi-lu Manado kuning?
Di pihak lain, sebagaimana te-lah diungkapkan terlebih dahu-lu, bahwa petani menanam ja-gung Manado kuning karena ter-nak lebih menyukai jagung varietas ini dibandingkan dengan jagung hibrida. Mengapa ternak, terutama kuda pacu lebih menyukai jagung Manado kuning mungkin disebabkan gizinya yang lebih baik. Menurut pengalaman petani jagung hibrida lebih banyak menjadi tepung kalau digiling, sedang-kan jagung Manado Kuning se-dikit yang menjadi tepung dan sebagian besar masih berbentuk butiran. Hal ini mungkin perlu diteliti lebih lanjut mengenai perbandingan gizi antara jagung Manado kuning dan jagung hib-rida, seperti Jaya-1 dan N35.
Kuda pacu yang diternakan di daerah Tompaso, Pinabetengan dan sekitarnya sudah lama ter-kenal sebagai kuda pacu yang bermutu tinggi. Tidak sedikit kuda pacu yang sering memenangi ke-juraan, bahkan sampai tingkat nasional berasal dari daerah ini. Saat ini, kuda pacu di daerah ini bahkan sudah diternakan dalam jumlah yang cukup besar, seperti Maesa Stable, Belantara Stable, Minahasa Blessing Stable, Barac-cuda Stable dan Rednos Stable. Jadi bisa kita bayangkan, akan-kah daerah kita akan terus meng-hasilkan kuda - kuda pacu yang bermutu jika seandainya jagung Manado Kuning sudah juga diting-galkan oleh petani?
Agar supaya jagung Manado ku-ning tidak hilang dari daerah ini dan petani tetap menanamnya, maka tim sedang meneliti untuk meningkatkan produktivitas tanaman ini dengan mengguna-kan metode pemuliaan tanaman seperti seleksi massa dan mung-kin juga dengan melakukan persilangan, diikuti dengan per-baikan kultur teknis seperti input teknologi pupuk pelengkap cair (PPC) sehingga jagung ini tidak kalah bersaing dengan jagung- jagung hibrida yang banyak diha-silkan oleh perusahaan-perusa-haan dari luar negri, seperti Jaya-1 dikembangkan oleh Asian Hybrid Seed Technologies Inc. di Filipina.
Dilihat dari aspek yang lain, me-nurut Prof Dr Ir Dantje T Sembel BagrSc. (Dekan Fakultas Pertani-an Unsrat). Mengapa jagung Ma-nado kuning perlu dikembangkan karena jagung ini sudah terbukti tahan terhadap hama penggerek batang dan hal ini sudah terbukti sekitar 60 tahun lamanya. Peng-gerek batang ini merupakan salah satu hama penting pada tanaman jagung.
Lebih lanjut beliau mengingat-kan tentang bahaya melakukan introduksi suatu jenis atau varie-tas tanaman baru, bahwa kita perlu belajar dari tanaman kelapa. Daerah Sulawesi Utara sudah sangat terkenal produksi kelapa tipe dalam, seperti kelapa Dalam Tenga (DTA), Dalam Mapanget (DMT), termasuk didalamnya secara nasional kelapa Dalam Palu (DPU) dan kelapa Dalam Bali (DBI). Kelapa-kelapa tipe dalam ini walaupun produksinya relatif rendah, tetapi tahan terhadap pe-nyakit, terutama penyakit Phy-tophthora. Bahkan dulunya pe-nyakit ini bukan merupakan ma-salah di daerah ini sampai kelapa Hibrida PB-121 diintroduksi dari Pantai Gading, Afrika pada tahun 1980-an. Sekarang ternyata ke-lapa hibrida ini rentan terhadap penyakit tersebut, yang menga-kibatkan gugurnya buah kelapa yang masih muda (penyakit gugur buah) dan matinya pucuk tana-man kelapa dewasa (penyakit bu-suk pucuk).
Akhirnya semoga tulisan ini dapat mendorong petani, khusus-nya petani di Desa Talikuran, Kecamatan Tompaso, untuk terus mengembangkan komoditi ini sambil kita berharap semoga upa-ya yang sedang dilakukan untuk meningkatkan hasil Jagung Manado Kuning berhasil diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat di daerah Nyiur Melambai.(*)
Penulis Ketua Tim, Dr Sem D Runtunuwu.
1Ketua UPT Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Fakultas Pertanian UNSRAT,
2Ketua Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Unsrat,
3Sekretaris Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian Unsrat, 4Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Unsrat
|
|