|
|
|
|
![]() |
![]() |
ADA dua sejarah terindah tercipta tahun ini yang pasti akan terukir abadi dengan tinta emas sepanjang peradaban Totabuan. Itu adalah dinobatkannya Dra Hj Marlina Moha Siahaan-Drs Hi Sehan Mokoapa Mokoagow sebagai bupati dan wakil bupati pertama pilihan langsung rakyat. Serta, kelahiran dua bayi kembar, Kota Kotamobagu dan Bolmong Utara di penghujung 2006.
Pilkada langsung pertama yang digulir 20 Maret, banyak memberikan pendidikan politik kepada rakyat Bolmong sendiri. Di antaranya membuat penya-daran tentang betapa penting-nya posisi rakyat dalam menen-tukan sosok yang layak memim-pin Totabuan. Sejak itu, rakyat boleh berbangga, karena suara mereka tidak perlu lagi diwakil-kan kepada legislator, seperti yang terjadi di pilkada tahun-tahun sebelumnya.
Sebaliknya, empat pasang kandidat terpaksa harus memu-tar otak untuk merebut hati 300 lebih pemilih yang ada. Konse-kuensinya, terjadi perang opini, bahkan sampai pada aksi saling menjatuhkan pamor. Seakan hanya ‘saya yang terbaik’. Akibat doktrin yang ditanamkan setiap kandidat, muncullah semacam ‘isme’ yang begitu mensakralkan keberadaan manusia.
‘Isme’ baru ini pun cukup mena-rik disimak. Betapa tidak, perbe-daan kepercayaan kepada Tuhan saja tak menimbulkan gejolak di tanah Totabuan ini, juga tak sam-pai merusak tali persaudaraan. Tetapi ketika perbedaan itu mun-cul pada dukungan terhadap se-sama manusia (Sebab setiap pa-sang kandidat itu adalah manusia juga, red), justru telah banyak merusak tatanan kekeluargaan warga Bolmong sendiri. Hingga ada orang tua pendukung kan-didat ‘A’ terpaksa mengusir anak-nya yang mendukung si ‘B’, juga ada warga satu kepercayaan ke-pada Tuhan terpaksa saling me-musuhi. Pokoknya, di Pilkada Bolmong baru-baru ini, setiap kandidat mengklaim diri sebagai yang paling benar, lalu ia me-nularkan kepada pendukungnya agar punya penilaian yang sama.
Belakangan, kandidat berlabel MARS meraup dukungan terba-nyak. Itu terlihat dari pleno KPUD Bolmong 27 Maret, yang mene-tapkan pasangan MMS-SMM mengoleksi 128.352 suara, disu-sul Djelantik-Wahid (DEWA) de-ngan 93.736, berikut di tempat ke-tiga Syamsudin-Suryono (Sang Surya) dengan 47.388 suara, dan juru kunci pasangan Ros-Denny (RADEN) dengan 3.106 suara. Ada pun total suara yang sah adalah 272.582, sedangkan suara yang tidak sah 2.615.
Atas sukses meraup suara ter-banyak itu, MMS-SMM pun dilan-tik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bolmong masa bhakti 2006-2001. Sekaligus dinobatkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bolmong pertama pilihan langsung rakyat. Hebatnya, dalam setiap per-nyataan, baik MMS maupun SMM selalu mengklaim bahwa itu semua adalah kemenangan seluruh rakyat Bolmong.
Masih di tahun 2006, ketika duet ini baru mulai menata pemerin-tahan yang sempat goyang pas-capilkada, rakyat disodorkan satu kemenangan lagi. Itu ketika perjuangan tak kenal lelah sela-ma bertahun-tahun, akhirnya membuahkan hasil. Dengan disahkannya RUU pembentukan Kota Kotamobagu KK dan Kabu-paten Bolmut menjadi UU dalam rapat paripurna DPR RI, 8 De-sember 2006. Seperti rasa bahagia seorang ibu yang baru melahirkan, begitu pun rasa yang timbul dalam sanubari MMS ketika baru saja melahir-kan dua bayi kembar ini, KK dan Bolmut. Makanya jangan terlalu banyak berisik, karena Bunda Totabuan kini masih sedang menyusui keduanya agar nanti bisa mandiri.(sugianto babay)
|
|