|
|
|
|
![]() |
![]() |
Pemkab Warning Pangkalan MT
Lonjakan harga minyak tanah di sebagian wilayah di Mina-hasa, diduga dipicu karena adanya penimbunan oleh ok-num-oknum tak bertanggung jawab. Melihat fenomena yang terjadi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa langsung bertindak.
Kepada sejumlah wartawan, Kabag Perekonomian Setdakab Minahasa, Vicky Tanor SPi, menegaskan bahwa jika ter-bukti ada pangkalan yang melakukan penimbunan, pihak-nya tidak akan segan-segan mencabut izin pangkalan tersebut. “Kami akan terus memantau hal ini. Jika dida-pati ada pangkalan yang se-ngaja menimbun MT, izinnya akan dicabut,” tegas Ta-nor.(dav)
Program ‘Celebes Corn Island ’ Diprotes
Program ‘ Celebes Corn Is-land ’ di Kabupaten Minahasa, menuai sorotan dari sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok tani. Pasalnya, ke-lompok tani penerima dana program ini tidak diperboleh-kan membeli benih jagung dari distributor lain, selain yang ditentukan Dinas Per-tanian Kabupaten Minahasa.
Menurut Herry Warbung, Ketua KT Getsemani Leleko Kecamatan Remboken, Dinas Pertanian terkesan secara se-pihak mengeluarkan kebija-kan. Sebab dana dari Depar-temen Pertanian untuk ke-lompok tani yang disalurkan lewat Bank Sulut, tidak ber-tahan lama di rekening se-jumlah kelompok tani. Rupa-nya, dana ini langsung di-debet ke rekening atas nama Abdul Said, yang dikabarkan adalah satu-satunya distri-butor benih jagung pilihan Dinas Pertanian. “Seharusnya kelompok tani diberi kebe-basan memilih distributor. Apalagi harga benih pada distributor yang ditentukan ini lebih mahal dari harga jual distributor lain,” protes War-bung.
Secara terpisah, Kadis Per-tanian Kabupaten Minahasa, Ir Refly Mambu, tak menam-pik soal adanya kebijakan di atas. Jelas Mambu, ini dila-kukan semata untuk meng-antisipasi jangan-jangan ada kelompok tani yang tidak merealisasikan dana bantuan Departemen Pertanian terse-but. Dan memang, lanjut dia, kebijakan ini merupakan instruksi Departemen Per-tanian.
“Kebijakan ini positif agar dana yang diberikan tidak disalahgunakan. Kan bisa saja ada kelompok yang tidak menyalurkan dana untuk pembelian bibit jagung,” tandas Mambu.(dav)
THR dan uang makan kabur 900 PNS Relokasi Mengeluh
Sedikitnya sekitar 900 PNS relokasi yang telah kembali ke Minahasa, mengaku belum menerima tunjangan uang makan per hari sebesar Rp 4.000, dan Tunjangan Hari Raya (THR). Kekhawatiran pun langsung mencuat, jangan-jangan Pemkab Minahasa tidak menganggarkan dana THR dan uang makan bagi ratusan PNS relokasi tersebut.
Menurut pengakuan sejum-lah PNS relokasi asal Lango-wan dan Kawangkoan, kekha-watiran mereka sangat-sangat beralasan. Sebab sampai sela-ma ini tidak pernah ada ke-pastian bahwa PNS relokasi akan menerima THR dan tun-jangan uang makan. “Memang torang pe gaji masih di Minut. Mar kalo tunjangan seperti THR dan tunjangan uang makan, torang so nyanda dianggarkan di Minut. Jadi kalo Pemkab Minahasa nyan-da anggarkan torang pe THR deng tunjangan uang makan, berarti torang nyanda mo dapa apa-apa selain gaji dari Pem-kab Minut,” tandas seorang PNS relokasi asal Langowan.
Sementara itu, Glady Kawatu SH MSi selaku Jubir Pemkab Minahasa, menandaskan bahwa THR dan Tunjangan Uang Makan bagi PNS relokasi telah dianggarkan Pemkab Minahasa. Namun jika dana ini belum sampai ke tangan para PNS relokasi, itu bukan kelalaian pemkab. “Penya-luran sudah dilakukan lewat pemegang kas. Jadi kalau ada keterlambatan penerimaan, itu adalah kelalaian pemegang kas. Yang pasti, semua PNS Minahasa termasuk PNS relokasi, akan mendapat THR dan tunjangan uang makan,” kata Kadis Infokom Minahasa itu.(dav)
Opa Cabuli Gadis Cilik
Tondano-Malang nasib sebut saja Mawar (6), warga di sebuah kelurahan di Keca-matan Tondano Timur. Kamis (14/12) lalu sekitar pukul 14.30 WITA, Mawar diduga menjadi korban aksi cabul TK alias Tek (63), warga Kelurahan Kating-golan Tondano Timur.
Dari informasi yang dihimpun, menyebut kalau pelecehen sek-sual terhadap gadis dibawah umur itu berawal ketika tersang-ka mendatangi Mawar, yang se-dang asyik bermain di halaman rumahnya. Mawar pun dibujuk agar mau dicabuli, dengan iming-iming sebuah gelang tangan. Rayuan tersangka ternyata manjur. Di sebuah tempat sepi, gadis cilik itu berhasil dicabuli tersangka.
Kapolres Minahasa melalui Ka SPK B Aiptu FL Kumesan, membenarkan sudah mene-rima laporan tersebut.(dav)
Aset Pariwisata Terbengkalai, Promosi Ratusan Juta Sia-sia
Kabupaten Minahasa yang kini identik dengan Persmin, memang mulai dikenal di se-jumlah pelosok tanah air. Na-mun The Real Minahasa sebe-narnya bukan hanya Persmin saja. Realita yang ada, Minaha-sa menyimpan sejuta potensi alam. Sayang, sejumlah potensi alam yang bisa dijadikan mo-dal untuk mendatangkan inco-me melalui sektor pariwisata, belum dikelola secara maksimal.
Memang pada tahun 2006, Pemerintah Kabupaten (Pem-kab) Minahasa telah melaku-kan upaya untuk menggenjot sektor pariwisata, lewat empat leading sector. Leading sektor dimaksud yakni bidang pendi-dikan, kesehatan, lingkungan dan pariwisata. Khusus sektor pariwisata, pemkab telah mem-bangun infrastruktur penun-jang, seperti akses jalan menuju objek wisata. Tapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa usaha ini belum maksimal.
Parameternya gampang saja, ada beberapa akses jalan menu-ju objek wisata yang rusak parah tanpa adanya perbaikan. Seperti kerusakan pada ruas jalan me-nuju objek wisata Watu Pinawe-tengan di Kecamatan Tompaso dan kerusakan jalan menuju objek wisata pantai Wale in Sorit di Desa Temboan, Kecamatan Langowan Selatan. Di sisi lain, potensi Danau Tondano belum disentuh. Malahan, hampir tak ada upaya penanggulangan Eceng Gondok di danau ini.
Padahal, pada 2006 ini pem-kab telah melakukan berbagai promosi di bidang pariwisata. Baik melalui Pameran Pemba-ngunan Sulut di Kayuwatu Ma-nado, ajang Sulut Expo di Ja-karta, serta promosi melalui du-ta budaya dan pariwisata Mina-hasa, Wulan Waraney Minaha-sa. Biaya promosi ini tentu tak sedikit, apalagi puluhan perso-nel Ikatan Wulan Waraney Mi-nahasa sempat diterbangkan ke sejumlah negara di benua Ero-pa pada medio September silam.
Jadi bisa disimpulkan, sia-sia sudah promosi pariwisata tahun 2006 yang telah menghabiskan dana ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah. Sebab promosi tanpa dibarengi pembenahan in-frastruktur pariwisata, sama ju-ga bohong. Makanya jangan he-ran jika timbul pertanyaan dari warga, apakah Minahasa telah siap menjamu wisatawan luar, setelah gencar melakukan pro-mosi ke sejumlah daerah dan negara?. Atau apakah para wisa-tawan ini hanya akan disuguhi kehebatan dan prestasi Persmin Minahasa?. Mudah-mudahan 2007 nanti perhatian pemkab terhadap pariwisata lebih serius lagi.(david)
|
|