HOME : FOOTBALL

Berita Mimbar dan Keagamaan 

20 December 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Kilas balik perjalanan PKB GMIM di Xiamen 
Tantangan dan Harapan Penginjilan di China 
Oleh Jeffry Th Pay

 

 IKUTI BERITA LAIN

Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 31 Desember

Varia Natal

PADA bulan Juli 2006 lalu, tim paduan suara Pria Kaum Bapa (PKB) GMIM mengikuti World Choir Games (Lomba Paduan Suara se-Dunia) di Kota Xiamen, China. Ikut dalam rombongan ini sejumlah wartawan asal Sulut. Kami berada di China selama dua pekan. Selain mengunjungi Xiamen, kami juga mengunjungi sejumlah kota lainnya di China, yaitu Shenzhen dan Hongkong. Negeri China memang terkenal dengan ideologi komunis. Tapi kenyataannya, mereka mulai terbuka dengan kegiatan keagamaan. Dalam World Choir Games sendiri, banyak lagu-lagu gerejawi dikumandangkan dalam jenis Gospel and Spiritual. Bagaimana sebetulnya kehidupan gereja dan kekristenan di China, berikut beberapa catatan saya berkaitan dengan tantangan dan harapan penginjilan di Negeri China.


BICARA China, orang akan teringat negara ini adalah peringkat pertama dalam hal kepadatan penduduk. Populasi penduduk di China pada tahun 2000 mencapai jumlah 1.262.556.787 orang (1.2 Milyar). Dan kalau mau menghitung seluruh komunitas China di dunia, maka etnis China (Tionghoa) memang paling besar jumlahnya di planet bumi ini.
Negara China yang terkenal dengan sebutan tirai bambu, telah lama dikenal sebagai negara yang berideologi komunis. Dan bicara komunis selalu identik dengan anti agama. Tapi bersyukur karena akhir-akhir ini, meskipun banyak hambatan, China yang juga dikenal dengan Tiongkok, mulai terbuka dengan aktivitas keagamaan, termasuk Olimpic Choir IV yang berlangsung di Xiamen, di mana duta-duta paduan suara asal Sulut pernah ikut ‘bertarung’.
Menurut catatan, orang Kristen di China berjumlah sekitar 7,25 persen, atau 91.535.367 orang (91 juta). Tidak tersedia statistik yang akurat tentang jumlah orang Kristen di China. Data tersebut, yang dikumpulkan/dihitung, hanya merupakan indikasi tentang betapa luar biasanya karya Roh Kudus di China. Saat ini, diperkirakan (estimasi) jumlah semua orang Kristen di China berkisar antara 30 juta orang (batas minimum) sampai dengan 150 juta orang (batas optimis/maximum).
-----------------------------------------------------------
Penduduk Jumlah Pertumbuhan/th. Kepadatan
-----------------------------------------------------------
2000 1.262.556.787 0,93% 132/km2
2010 1.356.939.193 0,69% 142/km2
2025 1.462.931.461 0,35% 153/km2
-----------------------------------------------------------
Di China bahasa resmi yang dipakai, yaitu: Bahasa Putonghua (Mandarin Cina); dan bahasa lokal dipakai dalam 5 daerah otonomi. Jumlah bahasa 470. Ibukotanya: Beijing (Peking) dengan penduduk 12,033 juta.
Berdasarkan data ini, dalam visi Kristen, maka dapat dikatakan ada 1 miliyar lebih orang China belum mengenal Kristus. Dan ini tentu merupakan tantangan sekaligus harapan bagi dunia penginjilan. Dikatakan tantangan, karena memang masih banyak hambatan yang menghalangi penginjilan di sana, terutama karena ideologi bangsa dan negara China yang komunis. 
Sulitnya melakukan penginjilan di sana memang masih terasa sampai saat ini. Para pendeta Kristen yang akan masuk di sana pun harus memberikan pernyataan tidak akan melakukan penginjilan atau menyiarkan agama. Seperti juga yang dialami Wakil Ketua Sinode GMIM Bidang Misi dan Oikumene Pdt Roy Tamaweol ThM yang ikut sebagai pembimbing rohani bagi tim koor PKB Sinode GMIM ke Xiamen, bersama pendeta GMIM lainnya yang ikut rombongan. “Kami memang harus membuat pernyataan seperti itu. Karena harus menghargai sikap negara tersebut,” ujar Tamaweol.
Di sisi lain menjadi harapan besar, karena dengan belum mengenal agama, maka Kekristenan bakal berkembang bila banyak orang yang terpanggil untuk mengerjakan penginjilan di sana.
Yang sungguh ironis dan mengherankan, di Indonesia sangat banyak gereja-gereja yang di dalamnya digerakkan orang-orang etnis China. Hanya saja yang terjadi di Indonesia yang sangat disayangkan, lebih banyak bukan mencari domba tapi ‘mencuri domba’ sesama umat Kristen sendiri.
Karena itu para penginjil di Indonesia, terutama dari kalangan etnis China, ditantang untuk menginjil di tanah leluhur mereka, di mana miliaran orang menanti kabar baik (Injil).
Di China ternyata sudah banyak berdiri gereja. Sebagaimana juga di Xiamen, di mana tim Paduan Suara PKB sempat mengadakan Konser di salah satu gereja di sana. Yang sangat menakjubkan orang Kristen di kota ini terlihat sangat beriman.
Melihat kenyataan ini, penginjilan di China, memang terutama harus digerakkan oleh orang Kristen yang berada di China sendiri. Berhubung pemerintah masih keras melarang penginjilan dari luar. Yang memungkinkan adalah para penginjil dan Pelayan gereja di China perlu belajar banyak bagaimana dapat mengabarkan Injil kepada sesama mereka di sana.

SEJARAH PENGINJILAN DI CHINA
Dari sejarah penginjilan, sebagaimana diperoleh dari berbagai situs, menunjukkan bahwa kekristenan mulai membuat terobosan pertamanya di Cina pada tahun 635 Masehi. Penginjilan itu dilakukan oleh orang- orang Kristen Nestorian. Namun usaha itu gagal berakar di antara penduduk di sana. Upaya-upaya misionaris Katolik dari Fransiskan pada abad ke-13 dan ke-14 serta oleh para Yesuit pada abad ke-16 dan ke-17 juga gagal menghasilkan penyebarluasan yang berlangsung lama. Cina sejak dulu memang memiliki peradaban tertutup yang menentang ide-ide asing. 
Tapi, perdagangan memaksa Cina terbuka, dan para misionaris Protestan pada tahun 1800-an datang bergandengan tangan dengan para pedagang. Hudson Taylor dari Inggris, berbuat banyak untuk melepaskan diri dari pola-pola misi kolonial dengan mengadopsi pakaian dan kebiasaan Cina, serta memberanikan diri mendatangi daerah-daerah yang membutuhkan. Tetapi tahun 1800-an adalah masa-masa sulit bagi Cina. Dinasti Manchu luput dari beberapa pemberontakan. Dan dunia sekelilingnya, khususnya Britania Raya, sedang berupaya menarik Cina yang tidur untuk masuk ke zaman modern, meskipun Cina tidak menginginkannya. Akibatnya, orang-orang Cina mengalami penghinaan orang-orang asing. 
Keadaan berubah dengan pesat pada tahun 1900-an. Sun Yat-sen memimpin pemberontakan yang sukses dan mendirikan republik, meskipun didominasi oleh para panglima pasukan di daerah. Chiang Kai-shek menyatukan negeri itu pada tahun 1920-an dan 1930-an, tetapi ia digulingkan oleh Mao Zedong pada tahun 1949. Mao mendirikan pemerintahan komunis yang secara resmi ateis. Gereja-gereja dibiarkan namun diawasi. Mao bertekad bahwa orang-orang asing tidak akan menghina Cina lagi. Komunis memaksa gereja-gereja mengambil sikap anti asing ("Christian Manifesto" tahun 1950), dan semua misionaris diusir keluar. 
Three-Self Reform Movement (kemudian disebut Three-Self Patriotic Movement) berupaya membawa gereja-gereja segaris dengan tujuan- tujuan komunis -- pemerintahan sendiri, pendanaan sendiri dan penyebarluasan ide-ide sendiri. Namun, gereja bertahan di bawah tekanan-tekanan semacam itu. Terusirnya para misionaris melemahkan gereja, tetapi juga memaksa gereja Cina berdikari. Itu dilakukannya dengan sangat baik. 
Keadaan menjadi lebih parah pada tahun 1966. Mao, revolusioner yang menua itu, mungkin merasakan bahwa revolusinya mulai menghilang. Program Loncatan Besar ke Depan (Great Leap Forward Program) pada tahun 1958 - 1960 gagal, dan kaum modernis dalam partainya mulai resah. Ia kemudian meluncurkan Revolusi Kebudayaan yang tidak beradab, yang menimbulkan histeria, khususnya di antara orang-orang muda, melawan apa pun yang berbau pengaruh asing. Para pemimpin komunis sekalipun tidak luput dari pengaduan ataupun penangkapan. Terjadilah huru-hara massal. Kegiatan di bidang seni dan akademis dibatasi, termasuk juga aktivitas-aktivitas gereja. Semua tempat ibadah ditutup dan orang-orang Kristen dilarang mengadakan pertemuan. Mao sendiri dianggap sebagai dewa. "Buku merah kecil" (little red book) yang memuat fatwa-fatwa Mao sajalah yang dibaca dan dihafal, sedangkan Alkitab dibakar. 
Meskipun huru-hara itu redam, kebijakan-kebijakan tetap bertahan sampai tahun 1976. Keduanya, Mao dan orang tangan kanannya, Zhou Enlai, meninggal pada tahun itu. Deng Xiaoping, seorang moderat yang pernah disingkirkan, kembali berkuasa dan mulai memperkenalkan modernisasi. Yang paling menarik perhatian adalah "Gang of Four" (empat sekawan) yang memimpin Revolusi Kebudayaan ditangkap dan diadili. 
Cina masih menentang kekristenan, namun histeria telah redam. Menjelang tahun 1979, gereja-gereja diizinkan dibuka kembali. (Sebenarnya, dua gereja di Beijing telah dibuka pada tahun 1972 atas permintaan para diplomat dari Afrika dan Indonesia, namun gereja- gereja ini sebagian besar dihadiri oleh orang-orang asing.) Pada tahun 1979, Three-Self Patriotic Movement dibuka juga dengan seorang juru bicara berbakat, Uskup KH Ting. Ia meminta semua gereja Protestan bersatu kembali. Pemerintah menyatakan toleransi resmi pada gereja-gereja yang bergabung dengan gerakan ini, namun gereja- gereja bawah tanah masih takut dengan kontrol pemerintah.(**) 

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin