HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

20 December 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Agama, Masyarakat, dan Individualitas (2)

 IKUTI BERITA LAIN

Tahun 2007 Sulawesi Utara Bebas Kemiskinan

SURAT PEMBACA

Pemerintah Harus Hentikan Legalisasi Judi

 COMMENTAREN

Mengatasi Kelangkaan MT


Dalam studinya tentang “The Elementary Forms of Religious Life” Emile Durkheim mengekspresikan peran agama dalam pembentukan identitas dalam masyarakat. Ia berpendapat bahwa otoritas moral dari norma-norma sosial berakar pada apa yang dia sebut “yang kudus” (the sacred). Konsensus normatif yang tercermin dalam simbol religius dan senantiasa disegarkan kembali melalui ritual keagamaan merupakan dasar bagi pembentukan identitas kolektif dalam masyarakat. Sejenak kita menemukan domain yang bersahabat bagi agama, masyarakat, dan individu. 

Ia berangkat dari analisa kritis terhadap pandangan Max We-ber tentang zaman pencerahan (the Enlightenment). Diagnosa Weber adalah bahwa akar dari seluruh patologi yang mengikuti modernitas adalah pemberian kuasa absolut pada Zweckra-tionalität (rationalitas purposif atau rationalitas yang terkurung dalam kerangka sempit metode/alat-tujuan). Inti patologi mo-dernitas adalah bahwa hampir seluruh aspek kehidupan ma-nusia secara sempit dan kurus dinilai dari perspektif mekanik metode/alat-tujuan. Konse-kuensinya, seni, moralitas, dan etika yang berada di luar skema mekanik tersebut tidak men-dapat peran, sehingga perta-nyaan tentang makna hidup menjadi tidak relevan. Yang mengherankan adalah diagnosa elegan ini tidak mampu menye-lamatkan Weber dari cengkra-man Zweckrationalität. Lebih mengherankan lagi, bukti efek elegan dari diagnosa ini adalah bahwa Max Horkheimer dan Theodor Adorno menyerah pada kekuatannya. Mereka hanya bisa setuju dan membuat lang-kah kecil dengan menyebut ra-tionalitas purposif Weber seba-gai rationalitas instrumental.
Berdasarkan diagnosa yang sama, Habermas lebih mengu-sulkan rekonstruksi modernitas dari pada dekonstruksi seperti yang diusulkan kaum postmo-dernis (Derrida, Foucault, Lyo-tard). 
Garis besar rekonstruk-sinya adalah bahwa akar per-masalahan modernitas adalah miskonseptualisasi tentang rationalitas. Ia mengusulkan sebuah rationalitas yang lebih progresif dan kreatif terhadap realitas, yaitu rationalitas ko-munikatif. Rationalitas ini me-rupakan landasan kreatif bagi dialog yang universal, kritis, dan progresif.
BERJALAN BERAMA HABE-RMAS, TAPIMELANGKAH LEBIH JAUH
Untuk melengkapi idenya tentang diskursus universal, Habermas merekonstruksi pandangan Durkheim. Ia mengganti posisi sentral “yang kudus” sebagai sumber konsen-sus normatif, yang merupakan dasar pembentukan identitas kolektif masyarakat, dengan rationalitas komunikatif. Hal ini tercermin dalam masyarakat melalui rationalisasi panda-ngan-pandangan umum, uni-versalisasi hukum dan mora-litas, dan penegasan identitas unik setiap pribadi (The Theory of Communicative Action, 1987, 2:46, 77, 88). Contoh kongkrit ide Habermas ini adalah bahwa landasan nilai masyarakat Eropah bersatu lebih mengede-pankan martabat manusia, kebebasan, demokrasi, persa-maan, hormat terhadap HAM dan kaum minoritas, dari pada agama (Treaty Establishing A constitution for Europe, art. I.2).
Dalam kehidupan bangsa kita, agama, masyarakat, dan individu ada bersama dalam labyrinth yang belum jelas ak-hirnya. Dalam kondisi ini, pan-dangan Durkheim tidak relevan karena negara kita mengakui pluralitas agama. Setiap agama mempunyai konsep sendiri tentang “yang kudus” dan pra-ktik yang berbeda dalam pelak-sanaan ritual. Lalu agama mana yang harus menjadi sumber konsensus normatif untuk men-dasari identitas bersama kita se-bagai bangsa? Penerapan ide Durkheim secara ketat malah akan menghantar bangsa kita pada hegemoni agama tertentu sebagai sumber identitas bersa-ma. Ini jelas merupakan peng-hianatan terhadap pluralitas bangsa. 
Pluralitas agama, ras, dan suku, yang mewarnai bangsa kita lebih membutuhkan diskur-sus aktif, kritis, dan kreatif yang bersumber pada rationalitas yang bersifat universal, hakiki, dan jujur. Diskursus tersebut harus menjamin otentisitas identitas setiap agama, ras, dan suku. Kalau begitu, konsep rationa-litas komunikatif Habermas relevan bagi kehidupan bangsa kita, sambil merekonstruksinya dengan tetap memberi agama, ras, dan suku, posisi sebagai sumber nilai kehidupan yang juga terbuka bagi diskursus aktif. Di sini, kita tidak menjadikan agama (ras dan suku) sebagai sumber konsensus yang me-nentukan identitas bersama, seperti yang dipikirkan Durk-heim. Tapi mereka merupakan akar nilai-nilai kehidupan yang tetap terbuka pada dialog yang rasional, aktif dan konstruktif.(*)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin