|
|
|
|
![]() |
![]() |
TAK dapat dipungkiri bahwa krisis minyak tanah (MT) dalam beberapa waktu belakangan ini, telah menjadi persoalan besar yang dirasakan masyarakat apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru. Di Kabupaten Minahasa misalnya, bahan bakar rumah tangga ini mengalami kelang-kaan. Akibatnya harga merangkak naik hingga Rp 3.000 per liter.
Kelangkaan minyak tanah telah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Masyarakat mengalami beban psikologis yang amat berat. Pasalnya, jika dikaitkan dengan berbagai dimensi kehidupan, krisis minyak tanah ini telah menimbulkan implikasi yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Misalnya, berbagai aktivitas masyarakat banyak yang terganggu. Akibatnya kepanikan dan kecemasan merebak di mana-mana.
Sekali lagi, kecemasan dan kepanikan datang menghinggapi dan menghantui ruang-ruang kebatinan publik. Sekalipun pemerintah, mengimbau agar masyarakat tidak panik, akan tetapi berangkat dari kenyataan di mana kelangkaan minyak terus terjadi, kepanikan dimaksud sulit untuk dihindari. Inilah problema utama yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Disatu sisi masyarakat diharapkan untuk tidak panik, tetapi di sisi lain kenyamanan untuk mendapatkan minyak tanah tak mereka peroleh. Mengingat minyak tanah meru-pakan salah satu kebutuhan mendasar dari masyarakat, maka gang-guan pada pendistribusian minyak tanah menjadi “matador” bagi banyak dimensi kehidupan. Hal yang sama juga berlaku dalam industri, yang menjadi tidak mampu lagi berproduksi secara normal, jika tidak mendapatkan suplai minyak tanah sebagaimana mestinya. Semua-nya itu ibarat mata rantai yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain.
Dengan bercermin pada kenyataan tersebut, bagaimanapun kelang-kaan minyak tanah harus segera diatasi. Jika tidak, maka implikasi lanjutan yang ditimbulkannya sangatlah besar sangat mungkin terjadi. Problema kelangkaan minyak tanah ini menjadi satu masalah besar yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh pemerintah. Sebab, jika problema ini tak kunjung selesai maka implikasi politis berupa melemahnya kredibilitas pemerintah di mata publik, adalah hal yang tak dapat dibendung.
Belajar dari pengalaman pemerintah sebelumnya, problema seputar kelangkaan minyak tanah biasanya memiliki tendensi politik yang sangat besar. Berkaitan dengan itulah, pemerintah harus mampu menampung aspirasi masyarakat. Salah satunya adalah bagaimana mengatasi kelangkaan minyak tanah di pasaran. Untuk itulah koordinasi antara instansi pemerintah, baik di pusat maupun di daerah harus dimantapkan.
Kelangkaan minyak tanah memang bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena produksi dalam negeri dan juga impor yang menurun. Hal ini membuat pasokan minyak tanah menjadi amat terbatas. Kedua, karena jalur pendistribusian minyak tanah yang belum tertata dengan baik. Belum lagi diperparah dengan ulah oknum-oknum spekulan yang hendak meraup untung dengan menimbun minyak tanah. Namun dengan kerja keras maka kedua problema akan dapat diatasi. Dengan demikian, krisis minyak tanah dapat ditanggulangi.(**)
|
|