HOME : FOOTBALL

Berita Kota Manado dan Sekitarnya 

21 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Pembangunan tak Merata, Prasarana Masih Merana

   
Selama 2006 harus diakui ada sejumlah kemajuan pembangunan yang dilakukan pemkot. Yang terlihat jelas dan cukup menggemparkan adalah penataan pusat kota dan perbaikan sejumlah ruas jalan dan gorong-gorong. 

Meski demikian, keluhan tak adanya pemerataan pemba-ngunan Manado Utara-Selatan dan juga belum rampungnya sejumlah proyek, cukup men-jadi kerikil tajam bagi duo Imba-Abdi.
Masih segar di benak kita, saat wacana pembentukan Ma-nado Utara mulai mencuat beberapa bulan silam. Entah wacana itu karena kepentingan politik seseorang atau tidak, yang pasti kita setuju pemba-ngunan di wilayah Manado bagian utara memang keting-galan dibanding bagian selatan.
Secara kasat mata bisa kita lihat dari pembangunan fisik lewat keberadaan pusat per-dagangan. Pusat kota atau yang juga sering disebut Pasar 45, tiga pasar tradisional lain-nya yakni Pasar Bersehati, Pi-nasungkulan Karombasan, dan Pasar Orde Baru Paal 2. Kesemuanya berada di sisi selatan sungai Tondano yang membelah Kota Manado. Be-lum lagi pusat perbelanjaan modern seperti Megamall, Manado Town Square, Boule-vard Mall, Matahari Samrat, dan Coco Supermarket.
Kecemburuan warga Manado utara masih ditambah dengan hanya satu hotel berbintang yang beroperasi di sana, yakni Hotel Santika. Sedangkan war-ga di selatan boleh berbangga dengan Hotel Ritzy, Gran Puri, Quality, Kawanua Hotel pusat kota, dan Sahid Hotel Teling. Se-mentara jika berbicara sampah, kita pasti merujuk pada sebuah kelurahan di Manado bagian utara, yaitu Sumompo yang me-rupakan tempat pembuangan sampah.
Oleh sebab itu konsep jas merah (jangan sekali melu-pakan sejarah) yang kerap dilontarkan founding father kita, Bung Karno, harus di-ingat pemkot-dekot dengan seksama. Soalnya di banyak sejarah bangsa-bangsa, disin-tegrasi terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidak-merataan pembangunan. Hal tersebut bukan tak mungkin bisa terjadi di Manado.
Ketimpangan pembangunan masih diperparah oleh masih kurang optimalnya Dinas PU, dalam menyelesaikan sejum-lah proyek. Kalau berbicara masalah drainase, memang harus diakui banyak kema-juan. Buktinya, hujan lokal yang terjadi kawasan rawan banjir, sudah jarang menim-bulkan banjir. Tapi itu masih pembuktian lebih lanjut, jika musim hujan menyeluruh be-nar-benar menerjang kota kita.
Selain itu beberapa ruas jalan di pinggiran kota belum diaspal. Misalnya bisa kita lihat jelas di ruas jalan Sea yang rusak parah. Juga akse-sibilitas bagi pengguna kursi roda yang bisa diibaratkan jauh api dari panggang. Me-reka laksana jadi warga kelas dua. Bisa dihitung dengan jari, berapa banyak fasilitas dan bangunan publik yang mem-berikan kemudahan bagi pengguna kursi roda.
Dan last but not least, adalah suplai air bersih yang dilakoni PDAM. Entah sudah berapa kali warga, khususnya yang tinggal di perbukitan dan juga di Manado Tua, berteriak tak pernah menikmati air bersih. Lebih miris lagi dari kran keluar suara seperti orang mengorok alias ada air tapi enggan keluar. Belum lagi kerjasama PDAM dengan WMD yang tak jelas juntrungannya. 
Catatan spanggal nan seder-hana ini mungkin saja hanya dianggap lalu oleh penentu dan pengambil kebijakan di White House Tikala. Tapi ingat! Kalau ingin warga berparti-sipasi penuh dalam pemba-ngunan, pahamilah kebutuh-an mereka.(**)



 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin