HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

21 December 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Kecurigaan Beragama
Oleh: Pdt.Arthur R.Rumengan,M.Teol.

Pengamat Sosial-Agama dan Dosen Fakultas Teologi UKIT

 IKUTI BERITA LAIN

Tahun 2007 Sulawesi Utara Bebas Kemiskinan

SURAT PEMBACA

Cerita Natal

 COMMENTAREN

Kejar Prestasi dan Prestise


JAUH sebelum agama-agama besar masuk di Indonesia, sebenarnya leluhur kita dan keturunannya yang mendiami “areal” ini sudah memiliki agama. Agama adalah sebuah keyakinan atau kepercayaan yang diakui oleh pemeluknya kepada satu atau sesuatu Kuasa yang dapat mempengaruhi kehidupan dan kematian mereka.
Dengan kata lain, nilai-nilai kepercayaan yang ada pada leluhur kita dulu dapat disebut agama, yang walaupun akhirnya kita mengkategorikan sebagai sebuah
kepercayaan, agama suku, agama tua, atau dengan kasar kita mengkategorikan sebagai agama alifuru.
Sekalipun demikian, cara hidup beragama mereka dulutidak serta merta dianggap tidak ada manfaatnya, karena toch, pada akhirnya dalam hidup beragama mereka ada ritus dan seremonial yang dilakukan, ada etika moral dan budi pekerti yang diajar-ajarkan turun temurun. Nilai-nilai hidup seperti itu, masih saya rasakan walaupun sesungguhnya saya sudah hidup jauh dari pengaruh hidup beragama tersebut. Secara jujur, memang saya akui bahwa nilai-nilai beragama tua, seperti itu, saya masih rasakan dekat ketika kami
sekeluarga pernah hidup bersama orang-orang Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat selama kurang lebih 4 tahun di pedalaman dan 3 tahun tinggal di kota dan harus bolak balik ke pedalaman.
Saya harus akui dengan jujur bahwa banyak nilai-nilai agama saya sekarang ini yang sejalan dengan nilai-nilai hidup agama tua mereka, bahkan tak jarang ada nilai-nilai yang lebih elegan, jika dibandingkan nilai-nilai hidup bergama kita. Di sana kami masih boleh hidup dengan tenang, walaupun sesungguhnya ada hal-hal yang harus kami tidak sepakat menyangkut pengakuan iman dan pengungkapan hidup bergama kita.
Itulah hidup yang sesungguhnya yang dijalani secara sederhana, bersahaja tanpa ada rekayasa politis beragama dan tanpa ada permusuhan yang tajam antarpemeluk agama yang berbeda.
Bagaimana dengan kita, Indonesia setelah masuk agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Konghucu, Islam, katolik dan Protestan. Dengan keperkasaan,
keunggulan, superioritas, dan percaya diri, dan dengan berbagai cara kita mulai menjadikan masyarakat tempo dulu, dengan nilai-nilai agama yang baru yang
merupakan agama import yang berusaha supaya mereka harus menyerupai agama baru tersebut. Cara berpikir, berperilaku, berbicara, berpakaian, beribadat harus mengikuti produk dari mana asalnya agama itu datang.
Dengan kejayaan kita masing-masing, kita mulai mengklaim bahwa ini wilayah kita, ini areal kita, mereka orang kita, Indonesia ini milik kita. Kita sibuk dengan perebutan jiwa dan menambah luas wilayah “kekuasaan” dan akhirnya mulai kehilangan nilai-nilai beragama kita yang tulus, yang
santun dan beradab. Kita beragama mulai dihantui dengan kecurigaan satu dengan yang lain. Kita curiga dengan kehadiran orang lain di tempat kita, kita
curiga dengan cara orang berpakaian, kita curiga dengan cara orang berkumpul, kita curiga dengan orang membangun gedung ibadat. Mengapa demikian ? Cara
beragama kita telah terperangkap pada “perluasan areal”, “penambahan jumlah anggota, dan tak jarang kita ingin unjuk kekuatan (show of Force).
Untuk semua itu, kita rela mati dan memang telah banyak yang mati “percuma” atas nama agama masing-masinng.
Apa substansi agama dan beragama kita sebenarnya? Saya yakin bahwa agama dan beragama adalah sebuah pilihan pribadi seseorang. Ketika kita memilih
beragama berarti kita telah tahu resiko yang harus kita pikul. Saya yakin, semua agama mengajarkan hal-hal yang saling menghormati dan menghargai. Tuhan saja menciptakan kita dengan menempatkan kita pada posisi yang terhormat dan berharga. Dia memberikan kita kehendak bebas untuk memilih dan mengambil keputusan tanpa unsur bujukan dan paksaan. Kalau saja Tuhan begitu memberikan penghormatan dan penghargaan kepada kita, mengapa kita justru berpikir dan bertindak sebaliknya? Tanpa merasa malu dan takut, kita begitu berani dan “lancang” membawa-bawa nama Tuhan, ketika kita ingin membangun perluasan wilayah dan penambahan jumlah anggota.
Sepertinya kita bangga dengan itu.
Saya kira, suka atau tidak, kita sudah harus membangun sebuah paradigma baru dalam menyikapi perilaku bergama kita akhir-akhir ini, kalau kita ingin Indonesia aman. Beragama adalah sebuah pilihan dan pilihan itulah sikap kita mau berbeda. Berbeda bukanlah sebuah ancaman untuk kita akhirnya berkelahi.
Pilihan untuk berbeda agama tidak harus membuat orang lain tersinggung dan curiga. Orang berpindah agama dalam konteks kekinian merupakan realita yang tidak bisa ditolak, sejauh kita tidak dengan secara sengaja
membujuk dan mengintimidasi seseorang.
Saya kira, kita sudah harus belajar jujur dalam hal ini, bahwa sesungguhnya kita butuh hidup rukun. Kita bisa dan memang berbeda dalam “akidah” dan “iman” kita, tetapi kita tidak harus berbeda memandang “diri kita” sebagai makhluk yang diciptakan oleh pencipta yang satu. Dalam bahasa agama saya, kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Inilah kesadaran yang membetuk cara beragama saya akhir-akhir ini yang memberi ruang pada ketidakcurigaan saya terhadap orang yang berbeda agama, keyakinan dan kepercayaan. Terlalu banyak yang dapat saya belajar dari keperbedaan itu dan telah ikut membentuk saya untuk lebih menghormati, menghargai dan
mengasihi sesama manusia dan Tuhan saya.
Marilah kita hilangkan prasangka buruk dan saling curiga dalam beragama. Bangunlah terus beragama kita dengan nilai-nilai yang saling menghormati dan
menghargai sesama manusia. Buanglah jauh-jauh kebencian dalam membangun hidup beragama kita, karena rasa benci tidak akan melahirkan kehidupan, tetapi sebaliknya kehancuran dan kematian. Orang yang membangun agama dengan rasa benci terhadap yang berbeda, akan melahirkan “teroris” yang
ternyata telah diakui “tidak menyelesaikan masalah”. Mungkinkah dialog dan kerjasama antar umat beragama masih menjadi pilihan kita. Alhamdulilah
! Semoga !.(**)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin