|
|
|
![]() |
![]() |
|
Geliat politik jelang peresmian daerah otonom baru (2)
Golkar: Kader Pasang Aksi, Target ‘Sapu Bersih’
|
SETELAH DPR RI menyetujui pembentukan empat daerah otonom baru di Sulut, hiruk-pikuk pentas politik sudah pasti ditandai persiapan bakal pemerintahan baru. Yang tak kalah sibuk menata diri adalah partai politik. Apalagi, dalam waktu tak terlalu lama, diharapkan sudah berlangsung ‘pesta demokrasi’ guna mencari dan mendapatkan sosok kepala daerah. Bagaimana dinamikanya, berikut lanjutan catatan kecil Komentar.
Kendati menurut para elit Par-tai Golkar Sulut, soliditas ka-der-kadernya sejauh ini tak di-ragukan lagi, namun itu tak lantas berarti dinamika politik yang berkembang ‘tenang-te-nang saja’. Bahkan, kesan be-tapa ‘suhu politik justru sedang memanas’ di lingkungan inter-nal partai berlambang pohon beringin itu, cukup kental ter-deteksi selang beberapa waktu terakhir.
Sebut misalnya, saat berlang-sung rapat paripurna DPRD Sulut, Selasa (12/12) lalu. En-tah sengaja atau bergurau, Ke-tua F-PG, AHJ Purukan sempat melontarkan idiom ‘putra Si-taro’ kepada Drs Ruben Sae-rang yang menjabat wakil ke-tua di DPD Partai Golkar Sulut. Pernyataan senada kemudian disampaikan Ketua DPRD Su-lut, Drs Syachrial Damopolii yang juga merupakan elit Gol-kar saat meminta Saerang untuk membacakan pemanda-ngan akhir F-PG tentang usu-lan 20 ranperda dan peman-dangan umum fraksi terhadap RAPBD 2007.
‘Manuver’ itu sontak meman-cing reaksi protes kader PG sen-diri, Denny Tindas, SE. Akhir-nya, Purukan pun menarik kembali ucapannya itu. Hal itu juga kemudian diselesaikan se-cara internal fraksi, seperti di-sampaikan salah satu personel Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Sulut yang menjabat Ke-tua Badan Kehormatan (BK), Jemmy Lelet SH dalam kesem-patan berikutnya.
Belakangan, momen itu me-mancing aneka argumentasi di sementara kalangan yang intinya menilai betapa panas-nya persaingan antarkader di tubuh Partai Golkar karena ter-kait bakal terbentuknya empat daerah otonom baru. Disebut-sebut pula, saat ini, segala se-suatunya yang bersentuhan de-ngan keempat daerah itu tak jarang dipolitisir oleh kalangan tertentu.
Adu argumentasi antarkader juga mencuat dalam hal pene-tapan Tim Kerja Partai Golkar (TK-PG) yang ditunjuk untuk mempersiapkan konsolidasi di empat bakal daerah otonom baru. Pekan lalu berhembus isu, keanggotaan TK-PG untuk untuk Kota Kotamobagu (KK) dan Kabupaten Bolmong Utara (Bolmut) dinilai bermasalah. Pasalnya, menurut sumber yang enggan namanya diko-rankan, salah seorang anggota TK KK-Bolmut yang ditunjuk oleh DPD PG Sulut ternyata tercatat sebagai anggota TK Kabupaten Mitra alias rangkap jabatan. “Setahu saya anggota KK tidak boleh rangkap ja-batan. Tapi kenyataannya ada anggota TK yang menjabat di dua daerah berbeda,” ujar sum-ber (14/12).
Menurut sumber, dari empat TK yang dibentuk oleh DPD Sulut hanya TK Kabupaten Sitaro yang tidak bermasalah. Untuk itu, sumber meminta agar DPD PG Sulut segera me-nyikapi masalah ini.
Kepala Biro Hukum DPD PG Sulut, Jemmy Lelet SH ketika dikonfirmasi tentang hal ini mengatakan, keanggotaan TK KK-Bolmut bisa saja dipertim-bangkan kembali jika nantinya ada pihak-pihak yang melaku-kan penolakan atau komplain. “Setahu saya tak ada masalah. Tapi kalau memang ada kom-plain, bisa saja hal ini akan dibahas lagi dalam rapat pleno,” ujar Lelet.
Menurut banyak pengamat politik, dinamika seperti yang berkembang di tubuh Partai Golkar itu sangat dimungkin-kan berkembang, karena me-mang Partai Golkar mengoleksi banyak kader potensial. Kua-lifikasi mereka pun dipandang layak untuk tampil sebagai ca-lon pemimpin, baik secara struktural organisasi Partai Golkar sendiri, maupun se-bagai kandidat pemimpin di tengah masyarakat nanti. Tak heran, persaingan antarmereka (para kader) pun tak terhin-darkan. Perburuan ‘merebut posisi strategis’ hampir pas-ti sedang berlangsung di antara sesama mereka.
Tapi, sebagai partai yang praktis sudah lebih mapan dan kokoh, baik Saerang maupun Tindas sependapat, dinamika yang bertumbuh di lingkungan partainya masih wajar dan ber-kembang sesuai koridor de-mokrasi.
“Perbedaan apresiasi dan pen-dapat merupakan sebuah ke-wajaran, bahkan justru makin memperkaya iklim demokrasi,” kata Tindas. “Karena itu, sam-pai kini kita percaya, Golkar Sulut tetap solid dalam mem-persiapkan diri menghadapi era daerah otonom baru,” tambah Saerang dalam kesempatan terpisah.
Yang pasti, keduanya sepen-dapat, PG sekarang sedang ber-pacu memantapkan eksistensi dan kiprahnya di empat kabu-paten/kota yang tak lama lagi akan diresmikan. Konsolidasi menuju terlaksananya musda yang demokratis terus dima-tangkan sampai kini. “Selain itu, Partai Golkar juga mela-kukan rekonsiliasi, revitalisasi serta memaksimalkan upaya memantapkan kiprah organi-sasi yang benar-benar aspi-ratif,” kata Saerang.
Langkah operasionalnya, lan-jut dia, setelah musda meng-hasilkan kepengurusan yang definitif di masing-masing ka-bupaten/kota yang baru, Partai Golkar akan mempersiapkan diri secara serius guna me-nyongsong pilkada.
“Semua itu sudah sedang dimatangkan sejak dini,” ung-kapnya. Lantas, apa tergetnya? Apalah Partai Golkar bermak-sud melakukan ‘sapu bersih’ dengan berjuang merebut kursi kepemimpinan di empat kabu-paten/kota yang baru? Ruben Saerang sendiri tidak mem-berikan tanggapan tegas. Na-mun secara diplomatis dia me-nyatakan, semua sangat ter-gantung dari kehendak rakyat. “Yang jelas, bila berkaca dari Pemilu lalu, Partai Golkar me-mang memenang jumlah suara pemilih di empat daerah baru. Karena itu, kita optimis, dalam pilkada nanti, hal ini akan ter-ulang kembali,” katanya me-yakinkan.
Guna mencapai ‘misi’ itu (ter-masuk mempertahankan du-kungan pemilih pada bakal kandidat pemimpin daerah dari Partai Golkar), menurut dia, seluruh elemen Partai Golkar akan bahu-membahu mera-patkan barisan. “Memperta-hankan (kemenangan pada pemilu lalu) memang merupa-kan tugas yang sangat menan-tang,” tandasnya.
Merebut simpati rakyat da-lam pemilihan langsung nanti, tentu harus dirintis dari seka-rang. Sebab, dalam dunia po-litik, segala sesuatu bisa berubah sewaktu-waktu. Tak terkecuali dukungan rakyat pada pemilu lalu, belum tentu masih seperti itu, bila tanpa upaya nyata dan berkenan di hati nurani rakyat. Termasuk, pemilihan kader potensialnya untuk ditampilkan dalam pilkada nanti!. Rasa percaya diri yang berlebihan bisa ber-ubah jadi bumerang, bila tak siap dari sekarang!(landy)
|
|