|
|
|
![]() |
![]() |
|
PS
PKB GMIM: Dari Xiamen Menuju Austria
|
KELOMPOK
Paduan Suara (PS) bagi warga GMIM memang telah dikenal sejak lama di lingkungan gereja, sehingga tak jarang diadakan lomba PS di semua lini pelayanan. Hal itu juga berlaku di tengah pelayanan Komisi Pria Kaum Bapa (PKB) Sinode GMIM. Satu kenangan indah terukir di tahun 2006 saat PS PKB GMIM ikut berlomba pada Olympic Choir (Olimpian Paduan Suara) yang kemudian lebih populer dengan World Choir Games (Lomba Paduan Suara se-Dunia). Sebagaimana diketahui lomba tersebut berlangsung di Kota Xiamen, Cina, pada akhir Juli 2006.
Sebelum keberangkatan ke Xiamen, persiapan memang sudah dimatangkan sejak tahun 2005 oleh Komisi PKB Sinode di bawah pimpinan ketuanya Pnt Ir Royke Roring MSi dan Sekre-taris Pnt Ir Stefanus Liow.
Pertama, dibentuk Panitia Per-kunjungan Oikumenis PKB GMIM, yang antara lain ditugas-kan untuk membentuk Tim PS PKB GMIM untuk persiapan ke Xiamen. Panitia yang diketuai Pnt Djendry Keintjem SH dan Sekretaris Pnt Drs Edison Mase-ngie tersebut dilantik oleh Ke-tua Sinode GMIM Pdt Dr AO Supit pada saat perayaan HUT ke-43 PKB Sinode GMIM di Likupang Oktober tahun 2006.
Selanjutnya, dilakukan seleksi kepada para calon anggota pa-duan suara PKB. Sekaligus pem-bentukan tim pelatih yang ter-diri dari Ir Wenny Pantouw dkk. Tim pelatih itu kemudian di-lengkapi dengan salah seorang pelatih nasional Ronald Pohan.
Seusai seleksi mulailah dila-kukan latihan di gedung Gereja GMIM Getsemani Sario, Kota Baru Manado. Dari hasil latihan tersebut menghasilkan 63 ang-gota PS PKB. Tim ini kemudian beberapa kali try out di bebe-rapa jemaat dan iven-iven ter-tentu.
Dan pada bulan Juli 2006, te-patnya Senin 18 Juli 2006, tiba-lah saatnya Tim PS PKB ini dibe-rangkatkan ke Xiamen, setelah mengadakan pengurusan pas-por, visa dan persiapan lainnya. Keberangkatan tim memang tidak sekalian, tapi bergelom-bang. Kloter pertama yang dibe-rangkatkan adalah tim inti, yang terdiri dari pelatih, peserta, dan pendamping.
Perjalanan tim inti ini memang cukup panjang dan melelahkan. Penulis yang dipercayakan PS PKB GMIM mewakili Harian Komentar yang ikut dengan tim ini, merekam seluruh perja-lanan tersebut.
Kami berangkat dari Bandara Sam Ratulangi menuju Singa-pura dengan pesawat Silk Air. Perjalanan tersebut memakan waktu tiga jam lebih. Kami tiba di Bandara Changi Senin sore pukul 17.20 waktu setempat.
Dalam pengamatan kami, de-ngan melihat kemajuan Singa-pura dibandingan dengan In-donesia, memang tiada ban-dingnya. Meskipun situasinya hampir sama dengan Jakarta atau Surabaya, tapi kondisinya memang berbeda.
Setiap orang Indonesia yang datang studi banding di sini, ra-sanya lebih tepat disebut ‘pe-siar’, ‘pelesir’ atau ‘cuci mata’. Persoalannya, setelah begitu la-ma dan begitu banyak orang In-donesia datang di Singapura, ternyata tidak bisa mencontoh Singapura. Begitu datang di ne-geri ini, pulangnya pasti yang diceritakan adalah pengalaman ‘cuci mata’ atau memborong ba-rang dagangan.
Singapura sebagai negeri yang menawarkan sektor jasa dan perdagangan sebagai ‘mahkota-nya’ memang telah berkembang sedemikian rupa. Di mana-ma-na setiap orang pasti akan me-ngagumi keadaannya. Singapu-ra memang telah ditata sede-mikian rupa, sehingga orang yang datang terasa begitu nya-man. Saat tiba di Singapura, Bandara Changi, telah memper-lihatkan bahwa Singapura be-nar-benar adalah kota modern. Beberapa hal yang perlu men-jadi contoh, adalah kebersihan dan keindahan kotanya. Taman kota tampak begitu asri dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Rombongan Tim PS PKB GMIM juga sangat merasakan betapa Singapura benar-benar adalah kota yang modern. Di sana-sini terlihat begitu banyak warga asing dari berbagai negara. Mereka tampak enjoy berada di tempat ini. Hal ini sangat ditun-jang oleh keramahan dan ser-vice yang diberikan.
Khusus di bidang teknologi in-formasi, di mana-mana terdapat fasilitas internet yang diguna-kan secara gratis. Hal ini tentu sangat didambakan oleh para turis dan pendatang yang transit di sini.
Ketika berada di Singapura, kami mendapat suguhan ma-kanan khas Manado. Karena yang menyiapkan ternyata ada-lah orang Manado yang sudah 20-an tahun tinggal di Singa-pura. Yaitu Tante Santje Boro-ring asal Sarongsong Tomohon.
KE XIAMEN
Dengan pertolongan Tuhan, Tim Paduan Suara Pria Kaum Bapa (PKB) Sinode GMIM akhir-nya tiba di Xiamen, Cina, pada Selasa 19 Juli 2006, setelah transit dari Singapura. Perja-lanan dari Singapura ke Xiamen dengan pesawat Silk Air mema-kan waktu 4 jam 20 menit. Tim PS PKB tiba di Xiamen pukul 12.00 waktu setempat, di mana pembagian waktunya sama de-ngan di Manado, yaitu Waktu In-donesia Bagian Tengah (Wita).
Suasana kecinaan memang sangat terasa. Makanan yang disuguhkan benar-benar ma-kanan Cina. Dan yang lebih me-ngesankan, tim disiapkan peralatan makanan Cina berupa sumpit dan mang-kok. Hal ini tentu menimbulkan senyum dan tawa bagi Tim PKB. Dan karena memang peralatan makanan yang disediakan se-perti itu, terpaksa harus me-nyesuaikan.
Di Xiamen memang cukup me-nyulitkan dalam kaitan dengan bahasa. Karena banyak yang ti-dak memahami bahasa Inggris. Yang juga cukup menyulitkan adalah mencari warung inter-net.
Selanjutnya akan diatur pa-nitia. Tim ini mengambil bagi-an dalam Olympic Choir IV pada tanggal 23 Juli dan karena bisa masuk final, dilanjutkan pada 26 Juli. Di World Choir Games inilah PS PKB GMIM bisa meraih medali perak (silver medal).
Dan selesai mengikuti lomba paduan suara se-Dunia tersebut, tim kembali dengan terlebih dulu mengikuti tour yang diatur pa-nitia. Yaitu ke Shenzhen de-ngan pesawat udara, kemudian menuju Hongkong melalui jalan darat. Dan akhirnya kembali ke Singapura dan pulang ke Indo-nesia melalui Surabaya.
Sebagaimana diketahui, sete-lah Xiamen, World Choir Games akan dilasungkan di Austria pada tahun 2008.
Ketua Komisi PKB Sinode GMIM Pnt Ir Roy Roring MSi menya-takan, untuk ke Austria mema-ng perlu persiapan yang lebih matang. Hanya saja jumlah tim akan diperkecil. Untuk persiap-an ke Austria, menurut Ketua PKB Sinode GMIM Pnt Ir Roy Roring MSi memang sedikit berbeda dengan di Xiamen. Dalam kaitan dengan kurs mata uang, dengan menggunakan Euro memang cukup tinggi nilai mata uangnya. Selain itu sua-sana Eropa juga memang memi-liki nilai seni yang tinggi, di mana negara-negara Eropa tempat lahirnya kesenian tingkat du-nia, termasuk seni suara dan seni musik.
Pengalaman di Xiamen juga menjadi pelajaran berharga. Terutama bagaimana memper-siapkan tim yang benar-benar dapat memberikan kesaksian, baik dalam kaitan memuji Tuhan maupun juga sikap mental dan kepribadian. Selain itu, peserta juga diharapkan memiliki kese-hatan yang prima dan mempu-nyai latar belakang pelayanan yang baik.
Sebagaimana disampaikan oleh Djendry Keintjem, banyak memang anggota PKB yang ingin masuk tim. Tapi yang diutama-kan adalah mereka yang memi-liki sikap mental dan kepriba-dian, sekaligus juga aktif dalam pelayanan dan keikutsertaan dalam paduan suara di jemaat-nya. Karena itu para peserta yang akan dipersiapkan ke Austria, akan diuji pula melalui psi-kotest, kesehatan dan juga latar belakang kepelayanannya.
Selain itu, belajar dari penga-laman di Xiamen, ketika ada yang mengalami sakit, ternyata tim tidak punya tenaga dokter. Oleh karena itu dalam persiapan ke Austria juga akan diikut-sertakan dokter yang bisa men-jadi pendamping tim untuk me-mantau kesehatan.(**)
|
|