HOME : FOOTBALL

Berita Mimbar dan Keagamaan 

21 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Kilas balik perjalanan PKB GMIM di Xiamen
Tantangan dan Harapan Penginjilan di Cina(2)

  
Di Cina bahasa resmi yang dipakai, yaitu: Bahasa Putong-hua (Mandarin Cina); dan bahasa lokal dipakai dalam 5 daerah otonomi. Jumlah ba-hasa 470. Ibukotanya: Beijing (Peking) dengan penduduk 12,033 juta.
Berdasarkan data ini, dalam visi Kristen, maka dapat di-katakan ada 1 miliar lebih orang Cina belum mengenal Kristus. Dan ini tentu meru-pakan tantangan sekaligus harapan bagi dunia pengin-jilan. Dikatakan tantangan, karena memang masih banyak hambatan yang menghalangi penginjilan di sana, terutama karena ideologi bangsa dan negara Cina yang komunis. 
Sulitnya melakukan pengin-jilan di sana memang masih terasa sampai saat ini. Para pendeta Kristen yang akan ma-suk di sana pun harus mem-berikan pernyataan tidak akan melakukan penginjilan atau menyiarkan agama. Seperti juga yang dialami Wakil Ketua Sinode GMIM Bidang Misi dan Oikumene Pdt Roy Tamaweol ThM yang ikut sebagai pem-bimbing rohani bagi tim koor PKB Sinode GMIM ke Xiamen, bersama pendeta GMIM lain-nya yang ikut rombongan. “Ka-mi memang harus membuat pernyataan seperti itu. Karena harus menghargai sikap negara tersebut,” ujar Tamaweol.
Di sisi lain menjadi harapan besar, karena dengan belum mengenal agama, maka Ke-kristenan bakal berkembang bila banyak orang yang ter-panggil untuk mengerjakan penginjilan di sana.
Yang sungguh ironis dan mengherankan, di Indonesia sangat banyak gereja-gereja yang di dalamnya digerakkan orang-orang etnis Cina. Hanya saja yang terjadi di Indonesia yang sangat disayangkan, lebih banyak bukan mencari domba tapi ‘mencuri domba’ sesama umat Kristen sendiri. Karena itu para penginjil di Indonesia, terutama dari kalangan etnis Cina, ditantang untuk me-nginjil di tanah leluhur mereka, di mana miliaran orang me-nanti kabar baik (Injil).
Di Cina ternyata sudah ba-nyak berdiri gereja. Sebagai-mana juga di Xiamen, di mana Tim Paduan Suara PKB sempat mengadakan Konser di salah satu gereja di sana. Yang sangat menakjubkan orang Kristen di kota ini terlihat sa-ngat beriman.
Melihat kenyataan ini, pe-nginjilan di Cina, memang terutama harus digerakkan oleh orang Kristen yang berada di Cina sendiri. Berhubung pemerintah masih keras melarang penginjilan dari luar. Yang memungkinkan adalah para penginjil dan Pelayan gereja di Cina perlu belajar banyak bagaimana dapat mengabarkan Injil kepada sesama mereka di sana.
SEJARAH PENGINJILAN DI CINA
Dari sejarah penginjilan, seba-gaimana diperoleh dari berbagai situs, menunjukkan bahwa kekristenan mulai membuat terobosan pertamanya di Cina pada tahun 635 Masehi. Pe-nginjilan itu dilakukan oleh orang- orang Kristen Nestorian. Namun usaha itu gagal berakar di antara penduduk di sana. Upaya-upaya misionaris Katolik dari Fransiskan pada abad ke-13 dan ke-14 serta oleh para Yesuit pada abad ke-16 dan ke-17 juga gagal menghasilkan penyebarluasan yang berlang-sung lama. Cina sejak dulu memang memiliki peradaban tertutup yang menentang ide-ide asing. 
Tapi, perdagangan memaksa Cina terbuka, dan para misio-naris Protestan pada tahun 1800-an datang bergandengan tangan dengan para pedagang. Hudson Taylor dari Inggris, berbuat banyak untuk mele-paskan diri dari pola-pola misi kolonial dengan mengadopsi pakaian dan kebiasaan Cina, serta memberanikan diri men-datangi daerah-daerah yang membutuhkan. Tetapi tahun 1800-an adalah masa-masa sulit bagi Cina. Dinasti Manchu luput dari beberapa pemberon-takan. Dan dunia sekelilingnya, khususnya Britania Raya, sedang berupaya menarik Cina yang tidur untuk masuk ke zaman modern, meskipun Cina tidak menginginkannya. Aki-batnya, orang-orang Cina me-ngalami penghinaan orang-orang asing. 
Keadaan berubah dengan pesat pada tahun 1900-an. Sun Yat-sen memimpin pembe-rontakan yang sukses dan mendirikan republik, meskipun didominasi oleh para panglima pasukan di daerah. Chiang Kai-shek menyatukan negeri itu pada tahun 1920-an dan 1930-an, tetapi ia digulingkan oleh Mao Zedong pada tahun 1949. Mao mendirikan pemerintahan komunis yang secara resmi ateis. 
Gereja-gereja dibiarkan namun diawasi. Mao bertekad bahwa orang-orang asing tidak akan menghina Cina lagi. Komunis memaksa gereja-gereja mengambil sikap anti asing (“Christian Manifesto” tahun 1950), dan semua mi-sionaris diusir keluar. 
Three-Self Reform Move-ment (kemudian disebut Three-Self Patriotic Move-ment) berupaya membawa gereja-gereja segaris dengan tujuan- tujuan komunis pe-merintahan sendiri, pen-danaan sendiri dan penye-barluasan ide-ide sendiri. Namun, gereja bertahan di bawah tekanan-tekanan semacam itu. Terusirnya para misionaris melemah-kan gereja, tetapi juga me-maksa gereja Cina berdi-kari. Itu dilakukannya dengan sangat baik.(bersambung)


 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin