|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Setahun, Bolmong Dihuni Tiga Kapolres
|
DI bidang Kamtibmas, ada sejumlah peristiwa menarik yang terjadi di daerah ini sepanjang tahun 2006, khususnya pra dan pasca Pilkada 20 Maret silam. Sehingga untuk mengatasinya, dalam setahun saja, Bolmong dihuni oleh tiga Kapolres.
Kapolres AKBP Drs Supriadi Djalal bertugas di Bumi Tota-buan sejak akhir 2004, dan bo-leh dibilang sebagai Kapolres terlama. Memiliki sense of hu-mor tinggi, hingga membuatnya mudah diterima di masyarakat. Sayangnya, ia hengkang dari Bolmong secara tiba-tiba, malah ada beberapa kalangan yang menyebut ia dicopot dari jabatan, gara-gara peristiwa penembakan kepada beberapa pendemo di depan kantor KPUD Bolmong, 23 Maret.
Bukan Djalal yang menembak pendemo itu, mungkin hanya anak buahnya saja. Tapi seba-gai pimpinan, tentu dia harus mempertanggungjawabkan peristiwa tersebut. Sehingga Jumat pada (24/03) sekitar pu-kul 20.15 WITA, sesuai Sprint (Surat Perintah) Kapolda Sulut Nomor 185, Wakapolda Sulut Kombes (Pol) Drs Dinar melaku-kan sertijab Kapolres Bolmong dari AKBP Drs Supriadi Djalal kepada AKBP Drs Adeni Muhan. “Bagi saya, jabatan itu adalah amanah dan perintah yang harus dilaksanakan. Saya legowo,” ujar Djalal dengan senyum tulus.
Djalal kemudian menempati tu-gas baru di Polda Sulut. Mena-riknya, tak lama setelah non job, Djalal mendapat jabatan sebagai Wadirreskrim Polda Sulut. Ke-benaran saat itu Direktur Res-krim sedang ikut pendidikan, se-hingga secara otomatis ia pun mengemban tugas Plh Dires-krim. September baru-baru ini, terinformasi Djalal yang feno-menal diberi jabatan baru men-jadi Kapolres Jenetponto di Makassar. Hebatnya, sampai sekarang nama Djalal masih dekat di hati sebagian besar rakyat daerah ini.
Sepeninggal Djalal, tugas berat pasca Pilkada diemban Kapol-res AKBP Drs Adeni Muhan. Sa-tu hal yang berhasil dicatat Mu-han adalah keberhasilannya me-redam dan mencegah situasi di Bolmong, hingga tetap kondusif. Soalnya, saat itu tensi politik Bolmong masih tinggi, di mana hampir tiap hari diwarnai demo oleh kalangan yang menolak ha-sil Pilkada. Namun berkat pen-dekatan persuasif kapolres yang satu ini, gelombang demo yang berpotensi menimbulkan keka-cauan seperti 23 Maret, mampu dikendalikan.
Setelah situasi mulai stabil, dan perlahan masyarakat mulai melupakan peristiwa pasca Pilkada, Muhan yang ditugaskan sementara sebagai Kapolres Bolmong harus kembali ke ha-bitatnya, sebagai Dan Brimob di Polda Sulut. Itu terjadi bulan Ju-ni, adapun penggantinya adalah AKBP Drs Yadi Suryadinata, se-belumnya menjabat Kapolres SaTal.
Meski tensi politik sudah bisa dikatakan stabil, namun bukan berarti jalan yang ditempuh Yadi sudah mulus. Karena tak di-sangka, hari pertama betugas di Bolmong, tepatnya Jumat 23 Juni 2006, Yadi langsung disam-but dengan peristiwa bencana alam di Dumoga. Di mana hujan deras yang mengguyur tanpa henti di daratan Dumoga telah mengakibatkan sebagian wi-layah itu terendam banjir bandang.
Kapolres Yadi pun terpanggil bersama-sama Muspida untuk mendampingi Bupati Bolmong MMS guna meninjau lapangan. Dan satu kenangan yang pasti tak akan terlupakan Kapolres Bolmong yang satu ini adalah, pada hari pertama bertugas itu juga, dia bersama rombongan Bupati Bolmong terperangkap longsor di Bukit Tumuyu. Keti-ka itu, rombongan yang sejak siang meninjau Dumoga, hen-dak kembali ke Kotamobagu, tapi perjalanan mereka tiba-tiba terhenti oleh longsoran di Bukit Tumoyu, Kecamatan Lolayan, yang sampai menu-tupi badan jalan. Lebih dari dua jam, mereka tertahan dalam gelap gulita, sampai akhirnya bisa lolos juga. Dan sejak saat itu, Kapolres Yadi terus berada di lapangan, guna turut membantu korban banjir yang belakangan sampai menyebar di kecamatan-kecamatan di luar Dumoga.(*)
|
|