HOME : FOOTBALL

Berita Bolamania dan Tribun 

28 December 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

Lintas Berita Tribun 

 
Eksistensi Cabang Otomotif Tetap Terpelihara
Oleh: Denny Andries
EKSISTENSI cabang otomotif Sulut patut mendapat acungan jempol. Pengakuan sebagai cabang olahraga yang paling sukses menggelar kejuaraan patut dialamatkan untuk Pengda IMI Sulut. Sebab, selama kurun waktu 12 bulan di tahun ‘Anjing Api’ 2006, cabang yang dinakodai Drs Ronny B Eman mampu menggelar 38 iven. Artinya, jika dikalkulasi secara cermat, setiap bulannya, IMI Sulut mampu melaksanakan tiga kejuaraan.
Menariknya, dari jumlah iven yang sudah dilaksanakan selama tahun 2006, peran klub-klub otomotif sangat dominan. Ini terjadi karena IMI Sulut cukup mampu mengorganisir klub-klub otomotif yang ada di Sulut. Melalui penyusunan program dalam setiap Rapat Kerja Daerah (Ramperda), IMI Sulut mampu memberikan ‘rangsangan’ bagi klub untuk melaksanakan sebuah iven.
Apa yang dilaksanakan IMI Sulut patutlah menjadi contoh bagi cabang olahraga lainnya. Karena, selama beberapa tahun terakhir ini, hanya cabang otomotif yang mampu menggerakkan klub-klub untuk melaksanakan sebuah kejuaraan. Ini artinya, komunikasi antara Pengda IMI Sulut dengan klub tetap terjalin dengan baik selama satu tahun.
Menariknya lagi, dalam kurun waktu satu tahun ini, IMI Sulut bukan hanya melaksanakan iven-iven tingkat lokal. Sebab, Pengurus Pusat (PP) IMI juga memberikan peluang bagi Pengda IMI Sulut untuk menggelar sabuah kejuaraan berskala nasional. 
Mencermati kesuksesan IMI Sulut dalam merangkul klub untuk melaksanakan sebuah iven, peran seorang Ketua Umum, Ronny Eman sangatlah dominan. Dengan latar belakang sebagai pembalap, Roman memiliki kharisma kuat di kalangan pelaku otomotif. Itu terjadi karena dalam setiap iven yang dilakukan oleh klub, Roman hampir selalu hadir dan memberikan suport. 
Bahkan, jika mendapatkan peluang, Roman juga tak segan-segan untuk ikut dalam suatu kegiatan sebagai peserta. Contoh konkrit terjadi di Simex Offroad, awal Januari, Minahasa Ofroad, November dan X’Mas Offroad IMI Sulut, yang dilaksanakan pertengahan Desember 2006. Berbelal keterampilan mengemudi, Roman sering menjadi momok bagi offroader lainnya.
Eksistensi Roman ternyata juga diikuti oleh personil IMI Sulut lainnya. Misalnya Ketua Harian, Tommy Kaunang. Ketika masih bertugas di Sulut, Tommy sering tampil bersama Roman. Sayangnya, karena tugasnya yang cukup padat di Biak Papua, Tommy sudah sulit untuk mendapatkan kesempatan berlaga di tingkat lokal Sulut.
Pindahnya Tommy memaksa personil lainnya seperti Sekum, Max Wurarah, Bendahara, Royke Anter, Rommy Kuhu, Philep Najoan, Farly Sinaulan turun menemani Roman. Jika personil IMI Sulut sudah turun sirkuit, suasana iven bakal bertambah ramai. Dan, situasi itulah yang menjadi ciri khas IMI Sulut sehingga masing-masing personil saling memberikan dukungan.(***)

Dominasi Bridge Mulai Terkikis
Oleh: Denny Andries
SELAMA kurun waktu 2006, cabang bridge Sulut mengalami prestasi yang pasang surut. Meski sempat meraih beberapa gelar di iven-iven bergengsi, tapi dominasi cabang olahraga yang dipimpin Ketua Umum Freddy Harry Sualang dibantu Ketua Harian, Ir Roy Roring MSi, di pentas nasional lambat laun mulai terkikis.
Hengkangnya pilar-pilar utama seperti Santje Panelewen dan Franky Karwur ke Jawa Tengah, Tommy Rogi serta Octa Wohon ke Jawa Timur semakin menambah kekhawatiran para pembina cabang bridge. Meski kepergian dua pasangan ternama itu sudah direstui oleh Pengda Gabsi Sulut, tapi rasa khawatir komunitas bridge Sulut akan prestasi di tingkat nasional semakin tinggi.
Sebab, dua daerah yang menjadi tujuan para pemain Sulut adalah calon lawan yang cukup berat baik di Kejurnas Antar Gabungan maupun PON XVII Kaltim 2008. Pengalaman ketika klub asal Sulut dikalahkan klub Jatim di babak semi final Kejurnas Antarklub memberikan sinyal bahwa daerah tersebut sudah mulai mengincar medali di Kejurnas Antar Gabungan maupun PON.
Selain Jatim, regu Jateng kini semakin bertambah solid dengan bergabungnya Santje Panelewen dan Franky Karwur. Ini artinya, pada kejuaraan bergensi seperti PON, Sulut sudah bukan lagi mendapat lawan berat dari Tim DKI Jakarta, yang selama ini menjadi momok untuk kategori antar gabungan maupun PON. Sebab, Jatim dan Jateng akan berusaha untuk menjegal Sulut di iven-iven beregu.
Belum adanya pemain pelapis bagi pasangan Henky Lasut/Eddy Manoppo memang menjadi pekerjaan rumah bagi Pengda Gabsi Sulut. Memang, Sulut masih memiliki pasangan yang merupakan partnership seperti Ferry Sambuaga/Franki Umboh, Recky Kandouw/Novry Kaligis dan John Tumewu/Richard Kodoati ditambah pemain-pemain berpengalaman seperti Nurhamidin, Robby Lempoy, Bill Mondigir maupun Jacky Tirayoh.
Tapi, belum adanya parameter terhadap kekuatan skuad tersebut memancing rasa pesimis dari komunitas bridge Sulut. Itulah sebabnya, Gabsi Sulut dituntut untuk segera melakukan evaluasi total dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pemain muda agar nantinya dominasi yang selama ini terpelihara secara baik tidak harus terkikis hanya karena tak memiliki program pembinaan yang terarah.(***)

Tenis Sulut Mulai Eksis
TAHUN 2006 tampaknya menjadi tahun kebangkitan cabang tenis. Menyadari sulitnya mencetak atlet dalam waktu yang relatif singkat, jajaran pimpinan Pengda Pelti Sulut yang dikomandani Ir Vecky Lumentut MSi berusaha mencari terobosan dengan mengefektifkan kejuaraan-kejuaraan lokal. Iven bertajuk Persami, yang digelar setiap hari Sabtu dan Minggu kemudian dicanangkan sebagai salah satu ajang untuk memberikan peluang bagi atlet-atlet muda usia.
Selain menggelar iven-iven lokal, Pelti Sulut juga menggagas sejumlah iven berskala nasional bahkan international. POR Maesa Cup, Manado Open yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah iven bertajuk Indonesia Men’s Futures F-III 2006 membuktikan bahwa Pelti Sulut sangat berkeinginan untuk membangkitkan olahraga tenis di Bumi Nyiur Melambai. Suksesnya Indonesia Men’s Futures F-III 2006 menambah semangat jajaran Pengda Pelti Sulut untuk membangun cabang olahraga tenis.
Bahkan, untuk bisa tampil di Pra-PON 2007 nanti, Pelti Sulut berusaha untuk merekrut atlet dari luar Sulut. Alasannya, untuk saat ini, belum banyak atlet Sulut yang bisa diharapkan untuk mencetak prestasi tingkat nasional. Untuk itulah, dengan keterbatasan yang ada, Pelti Sulut yang mendapatkan support dari Ketua Umum KONI Sulut, Drs SH Sarundajang, berusaha untuk mendatangkan atlet-atlet yang memiliki prestasi nasional.
Meski apa yang dilakukan oleh Pelti Sulut termasuk jalan pintas, tapi hal itu menandakan bahwa Pelti tak ingin gagal seperti tahun 2003 lalu yang tidak mengirimkan atlet untuk berlaga di Pra-PON. Artinya, Pelti Sulut tetap ingin agar di ajang nasional eksistensi Sulut tetap terpelihara. Hasil sebagai juara tiga di Pornas Korpri di Palembang menjadi salah satu paramater bahwa tenis Sulut sudah mulai eksis di tingkat nasional.(denny andries)

 
  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin