|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Potret penjual buluh ikang dan pangi
Jualan Dua Kali Setahun, Keuntungan Kian Seret
|
Biasanya menjelang perayaan Natal, penjual barang yang berhubungan dengan perayaan hari besar tersebut meraup untung yang besar. Malah keuntungan mereka bisa mengalami lonjakan, terutama jika dikaitkan dengan sifat konsumtif warga Manado.
Nasib ini sepertinya kurang berpihak pada penjual buluh (bambu) musiman yang keba-nyakan berasal dari Kali, Pineleng dan Kinilow, Tomo-hon. Mereka sendiri hanya dua kali setahun turun berjualan di Manado, yakni menjelang Natal dan Tahun Baru. Lewat pemantauan harian ini, Sabtu (23/12), sedikitnya 30 peda-gang bambu, daun pangi, dan daun nasi tampak menggelar dagangan mereka di depan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Malalayang.
Demi mendulang rupiah, mereka rela tidur di tempat berjualan yang hanya di-lengkapi beralaskan tikar dan ditutupi terpal. Supaya ter-hindar dari embun malam dan terik matahari. Mereka kebanyakan hanya berbin-cang-bincang dengan sesama penjual. Ini dilakukan untuk melepas kepenatan menanti pembeli yang kian tahun makin berkurang.
Seperti yang diungkapkan Bernard Pangemanan (68). Penjual asal Kinilow, Tomo-hon ini mengakui penjualan tahun ini dirasakan menurun drastis. “Saya sudah berjualan buluh di sini sejak 20 tahun lalu. Kalau dulu keuntungan bisa mencapai 600 sampai 700 ribu rupiah. Waktu itu bisa menjual 50 ujung (batang bambu) dalam waktu tiga hari. Di mana satu ujung bisa didapat enam sampai tujuh ruas,” katanya seraya menje-laskan satu ruas bambu diju-al dengan harga Rp 1000.
Hal senada juga disampai-kan Jotje Lumansik, warga Kali, Pineleng. Bahkan berha-rap bakal melayani banyak pembeli, ia pun memboyong istrinya, Agustina Wongkar. Ia mengeluhkan menurunnya pembeli bambu ikan dan daun pangi. “Tahun lalu, kami bisa meraup keuntungan 750 ribu hanya dengan berjualan dua hari. Boleh dibilang pen-jualan antara tahun 2000 hingga tahun 2005 tergolong stabil. Artinya bisa untung sekitar 700 ribu. Tapi untuk tahun ini sulit mencapainya,” ujarnya.
Saat ditanya apa yang dila-kukan jika pembeli terus ber-kurang, ia menyatakan akan banting harga. “Tak apa kalau satu ruas dijual hanya Rp 500 atau malah lebih murah lagi. Yang penting bisa menghasil-kan uang. Daripada tidak ter-jual sama sekali,” tukasnya.(harwin)
|
|