|
|
|
![]() |
![]() |
|
Hiruk-pikuk politik Sulut 2006(2)
Politisi Perempuan Bicara Perempuan di Pentas Politik
|
PENTAS politik di Sulut selang tahun 2006 bisa dikatakan ditandai dengan terus ‘berkibarnya’ kaum perempuan. Kehadiran dan ‘daya tembusnya’ terbilang sangat mencengangkan. Bahkan pada beberapa kesempatan terbukti mampu ‘menumbangkan’ rivalitas kaum pria yang selama ini cenderung mendominasi. Berikut lanjutan catatan kecil Landy Wowor dari Komentar seputar hiruk-pikuk politik Sulut khususnya kiprah kaum perempuan.
Kalau tahun 2005 dan tahun 2006 bisa dikatakan sebagai era kebangkitan peran perem-puan Sulut di bidang politik dan pemerintahan –ditandai tampilnya sejumlah Keke dan Srikandi di panggung politik dan pemerintahan— maka, ta-hun 2007 harus dijadikan ta-hun pembuktian. Hal itu dika-takan Ir Miky Junita Wenur, salah seorang politisi perem-puan Sulut yang aktif dalam Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPP-RI).
Sebagai wanita, Junita We-nur tak memungkiri betapa di-rinya bangga mencermati di-namika kiprah perempuan Su-lut seperti tersebut di atas. “Ya, saya bisa setuju bahwa dari sisi kesempatan mendapatkan jabatan dan posisi dalam pe-merintahan dan sosial kemas-yarakatan di Sulut, tahun 2005 hingga 2006 bisa dikata-kan tahun kebangkitan pe-rempuan Sulut,” katanya da-lam bincang-bincang via tele-pon, kemarin.
“Dengan begitu diharapkan perempuan Sulut lainnya bisa termotivasi dan terpacu untuk menata diri guna merebut se-tiap kesempatan berkiprah serta berperan aktif dalam bi-dang politik, pemerintahan dan kemasyarakatan, maupun bidang kehidupan lainnya,” ujar Wenur yang jugapengurus teras Partai Golkar Kota To-mohon.
Kendati begitu, Wenur serius mengingatkan, dalam era ke-bangkitan wanita Sulut di pen-tas politik, pemerintahan dan sosial kemasyarakatan seperti sekarang, harus ada follow-up yang jelas. Dalam amatannya, ke depan nanti sudah harus dibuktikan bahwa mereka yang telah mendapat kesem-patan tampil di tampuk pimpi-nan, mesti bisa membuktikan adanya ‘hasil karya nyata’ dari kepercayaan yang diemban-kan di pundaknya. “Dengan be-gitu, kiprah mereka akan te-rus diakui dan dipandang layak untuk terus tampil,” tukas dia.
Dia juga mengingatkan, ja-ngan sampai terjadi, keperca-yaan yang sudah diberikan se-lama ini tak mampu diikuti karya atau hasil kerja nyata sehingga kembali meluntur-kan citra wanita Sulut sebagai anak bangsa yang mampu menjadi pemimpin. “Sebab, selama ini kan masih saja ada suara-suara sumbang yang memberi penilaian minor se-putar naiknya sejumlah pe-rempuan di tampuk pimpinan. Penilaian itu seolah-olah me-reka tampil karena adanya faktor-X. Nah, tanggungjawab dan tantangan besar para pemimpin wanita adalah membuktikan bahwa mereka memang pantas untuk diakui kredibilitasnya,” tadas Wenur.
Seperti diketahui, sejauh ini Sulut mencatat beberapa wa-nita yang sudah tampil sebagai pemimpin. Beberapa di anta-ranya, Vonnie A. Panambunan (kini Bupati Kabupaten Mina-hasa Utara), Ny Marlina Moha Siahaan (Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow untuk periode kedua 2006-2011), Lineke Sjennie Watoelangkow (Ketua DPD Partai Demokrat Sulut), Sus Maritje Pangema-nan (Ketua DPRD Kabupaten Minahasa Utara sekaligus Ke-tua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Minut), Inggried JNN Sondakh, SE, Ketua Parta Gol-kar Minahasa Utara), Dra Von-ny J Paat (Ketua DPRD Kota Tomohon), dan Ir Miky Junita Wenur (Wakil Ketua DPRD Kota Tomohon) sendiri.
Masih banyak ‘pemimpin wanita’ lainnya yang dapat disebut, seperti, Dra Dintje Tombokan MSi (Sekda Minut), Irawati Rogi Saleh (Ketua Badan Musyawarah Keluarga Indonesia Sangihe Talaud/Bamukist) dan Sekretaris Bamukist, Telly Tjanggulung, serta sejumlah Kepala Dinas, anggota lembaga legislatif, baik di tingkat propinsi maupun Kabupaten/Kota.
Bagaimana ‘prestasi’ mere-ka? Tentu terlalu dini untuk menilai, khususnya beberapa dari mereka yang relatif belum lama dipercayakan memang-ku jabatan. “Secara khusus bila melihat kiprah Ny Marlina Moha Siahaan yang sudah untuk kedua kalinya menda-pat kepercayaan rakyat Bo-laang Mongondow, ini mem-beri signal bahwa kiprah dan kapabilitasnya mendapat pengakuan rakyat. Namun, yang patut dicatat, bahwa bila sudah tampil sebagai pemim-pin, penilaian prestasi tak akan lagi diukur dari aspek gender, tapi pada profesio-nalisme dan hasil karya dan kerja yang dicapai selama ini,” ujar Wenur.
Di sisi lain, tampilnya se-jumlah wanita Sulut di pentas politik, pemerintahan dan kemasyarakatan, umumnya mencuat setelah relatif mapan (baik dari sisi ekonomi mau-pun kualitas pribadi dan integritas). Kecenderungan ini sesungguhnya memberi nilai tambah tersendiri bagi kaum perempuan, dimana jalan yang ditempuhnya sudah pasti jauh lebih sulit diban-ding yang lain. “Memang salah satu kendala pada kaum perempuan untuk ber-kiprah di berbagai bidang kehidupan, termasuk politik, pemerintahan dan pemba-ngunan, adalah ketidakmam-puan ekonomi. Sebab, ba-gaimana mungkin perempuan dengan gampang berkiprah bila belum relatif mapan? Pasti akan sangat sulit karena akan mendapat resistensi dari orang-orang di sekitarnya, seperti suami atau keluarga. Makanya, perempuan relatif lebih sulit untuk bisa tampil,” jelas dia.
Kendati begitu, kemapaman, khususnya kemapaman eko-nomi, menurut Wenue, sebe-tulnya bukan satu-satunya ‘jalan’ untuk merebut kesem-patan berkiprah. “Idealnya memang mapan dulu secara ekonomi, tapi kualitas diri dan integritas juga merupa-kan kata kunci penting guna mendongkrak kualitas ke-mampuan seseorang untuk tampil ke depan dan diakui kredibilitasnya,” tambah Wenur.
Karenanya, menjadi tan-tangan tersendiri bagi kaum wanita Sulut untuk terus mengasah diri guna merebut masa depan. Sementara bagi para pemimpin perempuan, tambah dia, menjadi tanta-ngan juga untuk terus mem-buktikan bahwa dirinya mam-pu berjuang bagi kepentingan seluruh rakyat, termasuk kepentingan kaum perem-puan.(*)
|
|