HOME : FOOTBALL

  Berita Seromini dan Agenda

29 December 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

Sabtu, Forum Kerukunan Penatua Syamas akan Dideklarasikan

 

 IKUTI BERITA LAIN

Lintas Berita Seremoni

Forum Kerukunan Penatua-Syamas GMIM (FKPSG) akan dideklarasikan pada Sabtu (30/12) di gedung GMIM Bethani Sindulang, Singkil Manado. Deklarasi Forum tersebut dirangkaikan dengan diskusi panel dan ibadah Natal Yesus Kristus yang dilaksanakan Forum Komunikasi Pelayanan Pemuda GMIM (FKP-MP2G).

2006, Agenda Penyelesaian UKIT yang Membukit(2)
TANGGAL 16 Agustus 2005 di Hotel Formosa Bahu Mall Ma-nado, YPTK GMIM melaksa-nakan fit and proper test bagi para calon Rektor yang terpilih yakni Ir Piet H Wongkar MSi, Pdt Dr Richard AD Siwu MA PhD dan Pdt Dr A F Parengkuan MTh. Namun Pdt Parengkuan akhir-nya mengundurkan diri karena sesuatu alasan. Berdasarkan hasil fit and proper test YPTK menetapkan Pdt Dr Richard AD Siwu MA PhD sebagai Rektor, dan Ir Piet H Wongkar MSi diu-sulkan sebagai Pembantu Rektor I, tanpa mengurangi kewena-ngan Rektor terpilih. 
Sebagaimana janji Siwu bahwa ia akan mengundurkan diri dalam berbagai jabatannya bila terpilih sebagai rektor, ia buktikan dengan mengundur-kan diri sebagai anggota KPUD Sulut dan meminta pensiun dini sebagai dosen di Unima.
Dan berdasarkan hasil fit and proper test tersebut, maka Ketua YPTK bersama pimpinan yaya-san lainnya melakukan pengu-rusan administratif bagi Siwu. Di antaranya memfasilitasi Siwu untuk meminta pensiun dini dari Dirjen Dikti.
Di saat menanti pensiun dini, Ketua YPTK Roy Roring menga-dakan tugas ke luar negeri. Pada saat itu mulai muncul pro dan kontra dari hasil penetapan rektor. Dan tampaknya BPS mulai berpihak kepada Piet Wongkar, dengan alasan sebagai peraih suara terbanyak, sehing-ga berhak untuk dilantik sebagai rektor. Hal itu jelas tersurat dalam surat BPS bernomor K 1578/Yay/I.I/11-2005 ter-tanggal 1 November 2005 yang meminta YPTK segera melantik Wongkar sebagai rektor.
Suasana yang tidak kondusif ini, membuat YPTK melakukan rapat-rapat khusus. Dan akhirnya, pada hari Senin pagi 12 Desember 2005 di Aula UKIT, Ketua YPTK GMIM Pnt Ir Roy O Roring MSi, melantik Pdt Richard Siwu sebagai Rektor UKIT periode 2005-2009. 
Dalam pekan itu juga, Rektor Siwu melalui mengundang calon-calon pembantu rektor terpilih untuk melaksanakan fit and proper test. Hadir seluruh calon terpilih, kecuali Ir Piet Wongkar MSi tidak hadir tanpa alasan yang jelas.
Penetapan Rektor UKIT yang dilakukan Yayasan Pendidikan Tinggi Kristen (YPTK) GMIM ter-nyata masih berbuntut panjang. Isu pemecatan personel YPTK yang bergulir setelah Pdt Dr Richard AD Siwu PhD dilantik sebagai rektor UKIT, ternyata berganti pada rencana pembe-kuan yayasan tersebut sebagai badan penyelenggara UKIT.
Buntut dari pelantikan itu, Rapat badan Pekerja Sinode (BPS) GMIM pada Senin 19 Desember 2005 memutuskan bahwa YPTK GMIM akan dibe-kukan, dan rencananya yayasan tersebut akan diubah menjadi badan atau pembentukan ya-yasan baru.
Di tengah suasana itu, men-jelang Natal, tepatnya 22 De-sember 2005, Rektor Siwu melantik para pembantu Rektor yang terdiri dari Pdt JP Pinon-toan-Setligth MTh sebagai Pem-bantu Rektor I, Dra Joula S Kalangi MSi sebagai Pembantu Rektor II, Ir Ferry J Mailangkay sebagai Pembantu Rektor III dan Drs Karno S Rumondor sebagai Pembantu Rektor IV.
Memasuki tahun 2006, sua-sana ‘panas’ kembali menimpa UKIT. Suasana panas itu dipicu oleh tindakan BPS yang mele-barkan semua yayasan milik GMIM, termasuk YPTK. Dengan alasan untuk menyesuaikan dengan Undang-undang ten-tang Yayasan. Padahal tujuan peleburan itu disebutkan oleh salah satu personel BPS, me-mang lebih karena ada persoalan di UKIT. BPS kemudian mem-bentuk yayasan baru yang diberi nama Yayasan AZR Wenas.
Sejalan dengan itu, BPS kemu-dian mengangkat Pdt Ecky Po-sumah STM sebagai Ketua Ya-yasan Wenas yang baru diben-tuk itu bersama dengan pimpi-nan lainnya. Pengangkatan Posumah sebagai ketua yayasan justru bertentangan dengan Tata Gereja GMIM 1999 yang menyebutkan ketua yayasan adalah anggota BPS.
Setelah perangkat yayasan Wenas dilantik, kemudian dilakukanlah Ibadah pelantikan Rektor UKIT bersama keleng-kapan yayasan AZR Wenas lainnya di gereja Sion Tomohon, Senin 20 Maret 2006. Ibadah yang dipimpin Wakil Ketua BPS Bidang AIT Pdt Dr J Saruan MTh itu, diwarnai interupsi dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM) UKIT dan GMKI Tomohon. 
Rektor UKIT yang dilantik berdasarkan SK Yayasan AZR Wenas nomor 15 itu adalah Ir Piet Wongkar MSi, menggantikan Dr AO Supit. Sedang Pdt Dr RAD Siwu yang dilantik YPTK sebagai rektor, oleh Yayasan Wenas di-anggap tidak sah.
Suasana ibadah tampak tegang, begitu sejumlah maha-siswa mengetok kursi berkali-kali, meminta interupsi. Pdt Dr Joseph Saruan MTh yang me-mimpin ibadah tersebut tidak memberikan kesempatan. Dan para mahasiswa juga tetap ngotot, dengan menyampaikan beberapa kalimat protes.
Menurut mereka, ibadah ja-ngan disisipi dengan perbuatan yang tidak etis. Karena kalau mau melaksanakan pelantikam Rektor, seharusnya dilakukan di kampus UKIT. Menanggapi hal itu, Saruan hanya berucap, “Ini ibadah, jadi tidak bisa diin-terupsi.”
Usai memberikan interupsi, para mahasiswa itu pun segera beranjak keluar. Sedang ibadah terus berlanjut. 
Arther Wuwung dari DEM UKIT dan Hendro Dededaka, mahasis-wa pascasarjana UKIT yang juga Ketua GMKI Tomohon kepada harian ini mengatakan, sampai saat ini mereka masih mengakui Pdt Dr RAD Siwu sebagai Rektor yang sah.
Ketua Sinode GMIM Pdt Dr AO Supit tidak sempat mengikuti ibadah secara keseluru-han.(bersambung)
Setelah penandatanganan berita acara serah terima, Supit langsung mohon diri. Ketika berada di luar gereja, ia sempat diteriaki oleh mahasiswa dan Pnt Tommy Sumakul SH. Namun teriakan yang bernada protes itu, tidak dihiraukannya.
Saat ditanya Komentar, bagaimana kalau keputusan Yayasan Wenas dan BPS itu diprotes jemaat, Supit hanya menjawab singkat, “Saya harap jemaat tidak memprotesnya.” Sedang pertanyaan lainnya, ia hanya menjawa, “No comment.” 
Suasana kampus UKIT, pada saat pelantikan Wongkar itu, memang cukup ‘panas’. Tampaknya, pelantikan itu menjadi pembicaraan hangat para dosen, mahasiwa, dan karyawan UKIT.
Pdt Dr RAD Siwu yang dilantik sebagai Rektor oleh YPTK, kepada harian ini mengatakan, ia akan tetap menjalankan tugas sebagai rektor sesuai keputusan YPTK.
“Saya pribadi tidak terpengaruhi dengan adanya kejadian ini. Dan saya harap seluruh civitas akademika UKIT tetap berjalan seperti biasa,” ujarnya ketika itu.
Sementara Senat Rektorat UKIT langsung mengambil sikap. Secara spontanitas menyatakan tetap komit mendukung Siwu, yang telah sah pengangkatan dan pelantikannya sebagai rektor masa jabatan 2005-2009. Dari lima butir kesepakatan yang ditandatangani itu, meeka juga meminta pertanggungjawaban rektor yang lam untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban berkaitan dengan jabatannya, dan meminta kepada badan Penyelenggara untuk menyalurkan dana partisipasi jemaat-jemaat GMIM sebagaimana yang dianggarkan oleh jemaat-jemaat untuk UKIT. 
PROTES BERMUNCULAN
Nada protes terhadap pelantikan Rektor UKIT yang baru, berdatangan dari sejumlah kalangan. Mereka itu antara lain Toar Palilingan SH, Tommy Sumakul SH, Ir Stefa Liow, Frangky Mocodompis SSos, dan Martehn Mamentu. Senada mereka menyatakan apa yang dilakukan oleh BPS dan Yayasan Wenas adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kristiani. 
Sedang menurut Sekretaris PKB Sinode GMIM yang juga pengurus YPTK Ir Stefa Liow, dari jemaat dan wilayah telah meminta PKB Sinode GMIM dan seluruh jemaat GMIM harus mengambil sikap. Dalam hal ini memprotes secara terbuka kebijakan tersebut. Sedang Frangky Mocodompis mengungkapkan, sebaiknya Sidang Sinode Khusus Tata Gereja nanti bisa diperluas untuk menggantikan BPS.
SIWU DIDUKUNG KOPERTIS
Rektor UKIT Pdt Siwu malah mendapat pujian dari Koordinator Kopertis Wilayah IX Prof Dr Aminudin Salle SH dalam Dies Natalis UKIT ke-41, Senin 20 Februari 2006 di Bukit Inspirasi Tomohon. Aminudin Salle menilai Siwu memiliki gagasan yang cemerlang dalam memajukan UKIT.
“Karena itu, semua komponen harus mendukung kepemimpinan Pak Siwu sebagai Rektor UKIT,” ujar Aminudin saat memberikan sambutan dalam acara Rapat Senat Terbuka Perayaan Dies Natalis UKIT ke 41, sekaligus wisuda luluan program S1 dan S2 serta penerimaan lulusan program S2, dan lulusan program S3.
Sebelumnya, Kepala Balitbang Departemen Pendidikan Nasional Prof Dr Mansyur Ramly SE MSi mendapat kesempatan menyampaikan orasi ilmiah berkaitan dengan komptensi guru dan dosen, serta penataan kurikulum.
Kopertis Wilayah IX juga menyatakan kesedian UKIT dalam menjalankan program-program pendidikannya, khususnya terkait dengan berbagai program studi, “Yang penting perlu dilakukan pembenahan administrasinya,” ujarnya.
Dukungan dari pemerintah Sulawesi Utara terhadap UKIT juga datang dari Gubernur Sulut yang diwakili Sekdaprop Dr Johanis Kaloh. Menurut Kaloh pada prinsipnya pemerintah akan selalu mendukung dunia pendidikan.
Rektor UKIT dalam kesempatan itu juga telah mengemukakan berbagai hal terkait bagaimana meningkatkan kemajuan UKIT melalui perspektif ‘Visi Baru bagi UKIT Baru di Zaman Baru’. “Dalam kaitan ini, UKIT berupaya untuk menjadikan dirinya sebagai ‘global college of the people and for the peoples’ (perguruan tinggi global dari rakyat untuk rakyat).
Suasana Dies Natalis UKIT tersebut tampak meriah dilihat dari jumlah kehadiran para undangan, wisudawan, orang tua dan keluarga wisudawan, serta tokoh-tokoh pendidikan.
“Melihat kenyataan ini, dapat dikatakan UKIT di bawah kepemimpinan Pak Siwu mendapat respon yang positif. Tapi sangat disayangkan pimpinan Badan Pekerja Sinode tidak terlihat dalam acara ini,” ujar Judi Turambi SH, warga Tomohon yang kini Badan Pengawas PDAM Tomohon.
Civitas akademika UKIT tampaknya prihatin dengan kondisi GMIM saat ini, khususnya berkaitan dengan persoalan Rektor UKIT. Apalagi saat ini UKIT memiliki ‘dualisme’ kepemimpinan di rektoratat, yakni Pdt Dr Richard AD Siwu MA PhD versi Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK), dan Ir Piet Wongkar MSi versi Yayasan AZR Wenas.
Rasa keprihatinan terhadap kemelut itu, mereka wujudkan melalui ibadah keprihatinan bersama di Lapangan UKIT yang disponsori Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEM), pada 24 Maret 2006. Acara ibadah ini dihadiri tiga mantan Ketua Sinode GMIM, masing-masing Prof Dr Willy Absalom Roeroe, Pdt Kelly Rondo MTh, dan Pdt Dr Arnold F Parengkuan MTh.
Namun sangat disayangkan, dua pribadi yang sama-sama dilantik sebagai Rektor, yakni Pdt Richard Siwu dan Piet Wongkar tidak hadir. 
Ibadah yang diikuti oleh seluruh mahasiswa, dosen dan karyawan UKIT, dipimpin pendeta senior David Lintong STh, yang dulunya pernah menjadi Wakil Ketua Sinode dan Wakil Sekretaris Sinode.
Dalam ibadah, selain membacakan Firman Tuhan dalam Kitab Yoel 2:12-17, juga disampaikan doa-doa bagi pergumulan GMIM saat ini, terutama menyangkut keberadaan UKIT. Pada intinya, Pdt Lintong bersama peserta ibadah meminta agar Tuhan memberikan jalan keluar terhadap permasalahan yang terjadi, seraya mendoakan para pimpinan BPS untuk bisa melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan, dan bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. 
Mereka juga berdoa agar diberikan kedamaian di UKIT, serta kedamaian dan kesejahteraan bagi warga GMIM umumnya.
Usai ibadah, seluruh dosen dimintakan untuk membawakan puji-pujian. Mereka pun berjabat tangan sebagai tanda perdamaian.
Usai ibadah, Pdt Lintong kepada wartawan mengungkapkan, apa yang terjadi dalam GMIM saat ini merupakan hal yang wajar. Karena situasi seperti ini juga pernah terjadi dalam babakan-babakan pelayanan GMIM. “Pada saat GMIM berdiri, juga sudah terjadi polemik antara Pdt EAA de Vreede, sebagai ketua sinode GMIM yang pertama dengan Pdt AZR Wenas,” jelasnya.
Begitu pula ketika tahun 50-an, saat Pdt M Sondakh menjadi ketua sinode. “Pernah dalam suatu pertemuan untuk membahas Tata Gereja, Pdt Sondakh membalikkan meja. Saat itu ia sangat emosional. Dan para peserta rapat kemudian berdoa bersama,” ujarnya.
Sementara itu Pdt Dr WA Roeroe yang kini sebagai Direktur Pasca Sarjana UKIT mengemukakan, sampai saat ini ia belum bisa berkomentar atas masalah ini. “Yang penting adalah, apa yang terjadi hari ini, yaitu kami boleh melaksanakan ibadah keprihatinan. Itu saja dulu,” ujarnya singkat.
BELUM TUNTAS
Meskipun akhirnya persoalan UKIT di bawah ke RBPSL di Kumelembuai, tapi keputusan yang menyebutkan persoalan UKIT dikembalikan ke BPS dianggap tidak menyelesaikan masalah. Karena BPS yang selama ini ngotot untuk membela Wongkar, sudah bisa dipastikan akan mengambil keputusan yang tidak akan menyelesaikan masalah.
Sementara itu, Rektor UKIT versi YPTK, Pdt Dr RAD Siwu mengatakan, hasil keputusan RBPSL di Kumelembuai tidak bisa diaplikasikan di UKIT. “Sebab berkaitan dengan universitas, kita harus tunduk pada Undang-Undang, PP 60 dan Statuta UKIT,” tegasnya kepada harian ini.
Menurut Siwu, keputusan RBPSL memang harus dihargai bersama. Namun tentu hal itu harus didasarkan pada aturan-aturan yang berlaku bagi lembaga pendidikan. Mengingat aturan-aturan yang ada, sudah jelas dan UKIT harus menyesuaikannya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, hasil RBPSL memutuskan masalah UKIT diserahkan kepada BPS. Dan baru-baru ini, Forum Pendidikan Kristen Sulut (FPKS) dan Masyarakat Pendidikan Sulut (MPS) meminta persoalan rektor UKIT segera diselesaikan oleh kalangan BPS GMIM itu sendiri. Penyelesaian ini dimaksudkan agar tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Hal tersebut dikatakan Ketua FPKS Drs Arnold Poli SH. Poli mengusulkan, agar BPS GMIM segera menunjuk pelaksana harian rektor UKIT sementara menunggu kepastian siapa yang berhak menduduki bangku rektor tersebut. “Jangan hanya permasalahan tersebut mahasiswa, staf pengajar dan pegawai lainnya menjadi korban,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa UKIT melalui Dewan Eksekutif Mahasiswa menyatakan, keputusan Rapat Badan Pekerja Sinode Lengkap (RBPSL) di Kumelembuai baru-baru ini tidak menyelasaikan masalah yang kini melilit universitas swasta tertua di daerah Sulut tersebut. Ketua DEM UKIT Arther Wuwung dan Sekjen Rommy Watuseke, Sidang Sinode Istimewa adalah wadah yang pas untuk menyelesaikan masalah di UKIT. Bagi mahasiswa UKIT, persoalan kepemimpinan di jajaran UKIT telah mengakibatkan ketidakpastian hukum bagi para mahasiswa yang tengah belajar di situ. Untuk itu ia berharap agar semua warga GMIM dapat ikut memikirkan keberadaan UKIT.
Solusi dari persoalan UKIT ini, sebagaimana yang pernah kami usulkan adalah memberikan kesempatan kepada Pdt RAD Siwu untuk menyelesaikan masa tugasnya, kemudian baru dilakukan pemilihan rektor UKIT kembali.(**)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin