|
|
|
|
![]() |
![]() |
Idul Adha, Pemkot Sumbang Dua Sapi
Untuk menyambut Idul Adha, Pemkot Manado me-nyumbangkan dua hewan kurban kepada umat Islam Manado. Penyerahan hewan sapi tersebut bakal dilaksa-nakan di Lapangan Tikala, Minggu (31/12). “Pemkot akan menyerahkannya kedua he-wan kurban untuk disembelih kepada Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Manado, Minggu besok. Ini dilaksanakan usai sholat di Lapangan Sparta Tikala,” kata Kabagmensprit Jefri Talumepa, Jumat (29/12) kemarin.
Ditambahkannya, pemberi-an hewan kurban dilakukan setiap tahun.(win)
Diona Pangkey Aktif Pelayanan
Gadis cantik pemilik nama lengkap Diona Pangkey saat ini disibukkan dengan pelayanan sebagai singers atau penyanyi latar. Saat ditemui disela-sela acara Christmas on The Street yang digelar di lapangan basket Mega Mall kemarin, Diona me-ngaku senang dan enjoy dengan aktivitas yang dijalaninya. “Me-mang belum lama sih, baru se-kitar 4 bulan lalu aktif sebagai singers Youth Church Betel. Yang pasti enak dan enjoy bisa menya-nyi apalagi untuk memuji Tuhan,” ucap gadis pemilik senyum ma-nis ini.
Selain itu, Diona yang hobby dengar musik dan menyanyi ini saat ini sedang serius memper-siapkan kuliahnya di Fekon Uns-rat. “Selain menyanyi, saya se-dang serius menyelesaikan ku-liah di Fekon Unsrat yang sudah masuk semester akhir,” kunci Diona.(mon)
Robert Sumarlie Natal, tak Bisa Kemana-mana
Untuk urusan gaun dan rias penggantin, nama Robert Su-marlie memang cukup kon-dang di daerah ini. Pemilik House of Robert yang berlokasi di kawasan Calaca ex Terminal Ca-laca ini cukup memiliki tempat bagi yang ingin melangsungkan hajatan perka-winan. Tak heran, karena na-manya yang kian melambung, maka orderan pun tak pernah henti diarahkan padanya.
Hal ini kemudian membuat Robert tak bisa menikmati perayaan Natal dengan sempurna. Kesibukannya melayani orderan ternyata sangat menyita perhatian-nya. “Ya, mo beking bagima-
na. Banyak yang ba order, terpaksa torang nyanda bisa kemana-mana waktu Natal,” tukasnya, kemarin (29/12).
Komitmennya untuk mem-beri yang terbaik bagi konsu-men, membuat ia harus me-nanggung konsekuensi mengor-bankan waktu perayaan Natal dan bahkan Tahun Baru. “Ke-mungkinan besar Tahun Baru juga saya tak bisa kemana-mana. Soalnya jadwal padat. Bahkan sudah ada order hingga bulan Juli tahun 2007,” tukas Sumarlie yang juga seorang profesional Master of Ceremony (MC), menutup pembicaraan.(ftj)
Lorong Samrat XV, Sentra Produksi ‘Saksofon’
Bagi yang doyan tiup sak-sofon dan terompet, anda tak perlu membeli di toko alat mu-sik. Cukup menyambangi lo-rong Samrat XV, di Kelurahan Titiwungen Utara, lingkungan III. Di sana Anda dengan mu-dah bisa menemukan sejum-lah keluarga yang mempro-duksi kedua alat tiup. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru. Tapi tunggu dulu. Yang dimaksud kedua alat tiup tersebut, bukan seperti yang dimainkan saksofonis asal AS, Kenny G atau Dave Koz.
Melainkan saksofon dan terompet mainan yang selalu menyemarakkan malam Tahun Baru. Menariknya lagi, alat tiup mainan kreasi warga Manado tersebut tidak memakai bahan kertas belaka. Namun sudah meng-gunakan bahan plastik. Seperti wadah rol film, botol kecap ABC, dan botol aqua 1 liter dan 500 mililiter, serta sedotan.
Ke semua bahan tersebut dirangkai menjadi terompet, saksofon atau oboe. Se-dangkan sebagai corong di-pergunakan bahan dari kertas. Penampilan alat tiup tersebut makin mirip aslinya. Karena dicat dengan warna silver atau emas. Malah ada juga yang lebih ngejreng dengan corak warna yang beranekaragam. Menurut salah satu produsen Syawal Freidah (36), trompet plastik produksi lorong Samrat XV tersebut dimulai tahun 1999. “Waktu itu ada seorang warga yang mempeloporinya. Tapi sekarang sudah pindah. Dan sekarang di lorong sini ada enam rumah yang men-jadi produsen,” terangnya.
Ia mengaku dirinya mampu menghasilkan 30-an terom-pet berbagai jenis. “Sejak sebelum Natal sampai seka-rang, saya sudah menjual 500-an terompet. Yang pa-ling banyak tahun lalu, di mana bisa menjual sampai 1500 saksofon. Belum lagi terompet model lain,” be-bernya. Bicara soal harga, yang pasti terompet mainan tersebut relatif terjangkau. ‘Kalau model saksofon Rp 25.000. Terompet harganya antara 10 sampai 15 ribu. Tergantung besarnya.
Sedangkan yang terompet kodok Rp 17.500. Tapi harga masih bisa ditawar,” ungkap Freidah. So, bagi mereka yang ingin menambah kera-maian di malam Tahun Baru. Tak ada salahnya Anda men-jajal terompet lorong Samrat XV. Toeeeetttt! Happy New Year!(harwin)
Maksud Mulia Tercoreng Keberanian Tabrak Aturan
Walikota Manado, Pnt Jimmy Rimba Rogi SSos, me-rupakan kepala daerah perta-ma yang dipilih langsung oleh rakyat, sebab ia terangkat ber-dasarkan perolehan suara ter-banyak dari semua kandidat yang ada.
Karena merasa terangkat oleh sumbangsih rakyat tak pelak dalam kebijakannya selalu mengedepankan kepen-tingan publik, ketimbang ke-pentingan pejabat. Hal ini an-tara lain terlihat pada alokasi dana perbaikan infrastruktur di Kota Manado di mana an-tara sebagian jalan sudah di-hot mix.
Di Sektor pendidikan, Imba berkerinduan membebaskan berbagai pungutan untuk orang tua murid. Terkait itu, pejabat yang nekad melaku-kan kebijakan yang intinya merugikan publik tak tang-gung-tanggung dipangkas. Kepedulian kepada masyara-kat juga tercermin dalam pengalokasian dana dalam APBD lebih mementingkan publik. Masih banyak kebija-kan lain yang sebenarnya bisa diurai. Namun satu hal pasti, ada satu arah yang ditatap, yakni demi visi Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) 2010.
Sayang, demi maksud mulia di atas, Imba Terkadang tam-pil tanpa melakukan kajian berdasar aturan, termasuk mempertimbangkan aspek administrasif. Ia tak jarang berani menabrak aturan dan tradisi yang berlaku selama ini. Hal ini antara lain ter-gambar pada pengangkatan pejabat di lingkup Pemkot Manado yang pada dasarnya bertabrakan dengan aturan kepegawaian.
Buktinya, pengangkatan camat yang terkesan dipak-sakan sebab pangkat pejabat yang diangkat ternyata bukan yang paling tinggi di instan-sinya, padahal aturan kepe-gawaian menjelaskan pimpi-nan instansi harus berpang-kat paling tinggi dari bawa-hannya.
Kebijakan lain juga ter-gambar jelas pada persoalan pengadaan kendaraan, yang nyata-nyata menyalahi Kep-pres No 80 tahun 2003. Ini ter-bukti pada pengadaan pulu-han mobil sampah yang ber-kedok urgen serta pengadaan mobil patroli SatPol PP yang diduga kuat tidak melewati proses tender.
Plus minus kepemimpinan Imba ini, bagaimanapun adalah sesuatu realita yang telah terjadi. Satu hal positif dan patut mendapat apresiasi adalah perubahan terhadap wajah Kota Manado yang sudah sangat nyata dan patut dibanggakan.(***)
|
|