|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Memaknai Kerja Sebagai Ibadah
Oleh: David Stanly Saada
|
“Konon; suatu waktu King Richard seorang raja Inggris datang ke sebuah biara untuk meminta nasehat seorang pastur kepala biara. Sang pastur bertanya kepadanya, apa tujuannya datang ke biara sementara ia meninggalkantugasnya sebagai seorang raja. King Richard menjawab bahwa ia telah bosan menjadi seorang raja dan ingin lebih dekat kepada Tuhan dengan menjadi seorang biarawan. Sang pastur menggelengkan kepala kemudian memberikan nesehat bijaksana kepada King Richard mengenai arti ibadah sesungguhnya, ia mendengar dengan seksama…, singkat cerita sesudah mendengar nasehat itu, King Richard pulang dengan sukacita dan bersemangat. Saat tiba kembalidi kerajaannya, ia memerintah dengan bijaksana akhirnya menjadi salah seorang raja yang legendaris.”
Daerah kita terkenal sebagai daerah yang riligius, bahkan daerah lain sangat mengagumi daerah ini karena hampir di setiap sudut kota dan desa berdir Gedung Gereja yang megah. Tapi terkadang aku heran nuansa religius itu hanya terjadi dalam gedung gereja saja, sesudah berada diluar gereja para “pecinta ibadah itu kembali lagi” ke rutinitas hari sebelumnyadimana uansa KKN merajalela, yang uniknya dilakukan oleh para penganjur kebajikan yang berdiri di atas mimbar (para “pelayan khusus” yang tentunya hanya sebagian saja) yang notabene memang berprofesi sebagai pejabat di kantor-kantor baik negeri maupun swasta.
Pengalaman buruk aku alami ketika berurusan dengan para pegawai salah satu bank BUMN yang memiliki cabang luas hampir diseluruh pelosok Indonesia, pertama kali saya dibentak dan dimarahi oleh seorang cashier kerana antri di tempat yang keliru dan ketika enggan menjawab siapa pemilik rekening padahal waktu itu saya baru selesai membuka rekening dilantai bawah, demikian juga denagn pengalaman setelah itu di kantor cabang lain yang mengecewakan juga oleh para cashier juga. Yang seharusnya sebagai pegawai apalagi front office menunjukkan profesionalismenya sebagai pekerja yang melayani konsumen dengan baik, karena Bank BUMN itu tugasnya melayani masyarakat sebagai customer yang bisa saja pindah ke Bank lain yang kayaknya akan lebih memilih Bank swasta saja. Tapi semoga mereka akan tergugah untuk bertobat dan berubag ketika mengetahui betapa pentingnya memaknai kerja sebagai ibadah!
Bekerja Sebagai Kecintaan
Cinta adalah suatu mistery ilahi yang dikaruniakan Tuhan kepada ciptaannya yang termulia, karena dibatinnya memiliki nurani (murni dan bercahaya). Manusia. Ciptaan yang secara hasrat fisik “serupa” dengan ciptaan yang lain bernama hewan yaitu memiliki kebutuhan makan, minum, dan menghasilkan keturunan tapi sesungguhnya jauh lebih nur karena emosi manusia dan empati terutama dimendi spiritual (mengakui keberadaan Tuhan). Dalam kehidupan yang penuh karunia ini, dimensi emosi menjadi hal yang sering mendominasi. Seseorang yang dilanda emosi cinta akan merasakan bahagia yang tak terhingga. Sukacita, rasa damai, tidak egois, rendah hati akan mewarnai hidupnya. Orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan sesuatu dengan gembira dan bersemangat. Hal yang terasa berat akan terasa mudah dilakukan karena cinta. Hujan dan badai tidak mampu menghalangi hasrat untuk menjumpai sesuatu yang dicintainya. Waktu terasa singkat karena dilewati dengan cinta bahkan karena cinta ia akan rela duduk berjam-jam dengan yang dicintainya.
Sesungguhnya makna yang sama dapat pula kita terapkan dalam pekerjaan. Ketika “mencintai” pekerjaan kit, maka sukacita akan mengalir dalam kehidupan kita, ada perasaan damai karena akhirnya bisa menemukan sesuatu yang diperjuangkan, dan menyadari sebagai anugerah yang tak terhingga (karena diperjuangkan dengan peluh dan air mata), sehingga sikap tak mau menang sendiri tidak akan nampak dalam diri. Bahkan dengan rendah hati akan mengakui bahwa segala sesuatu yang diterimanya itu adalah bukan karena usahanyasemata tapi ada oknum yang diluar sana yang turut bekerja juga. Hasil akhir dari sikap ini adalah kita tidak akan mengeluh dengan kesulitan di tempat kerja, melainkan begitu bersemangat melakukannya. Kita tidak akan segan berbasah-basahan menerobos hujan untuk ke tempat kerja, karena rindu dengan pekerjaan kita. Kita tidak rela duduk berlama-lama tanpa harus jenuh menunggu jam pulang karena bersama dengan sesuatu yang dicintai. Ya! Untuk sesuatu yang fana saja kita bisa sedemikian, bagaimana seandainya persembahan itu ditujukan kepada Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita?
Bekerja Untuk Aktualisasi Diri
Kehadiran kita didunia ini begitu istimewa dan betul-betul karena anugerah dan setiap kita berharga dimata Tuhan dan ia memiliki rencana dalam setiap kehidupan kita, Jansen Sinam Sang Guru Etos mengatakan bahwa bukti kita begitu istimewa adalah kenyataan bahwa kita ini berhasil menang dalam pertarungan dalam melawan jutaan calon janin lain, karena sel sperma itu menang dalam kompetisi dengan jutaan sel sperma lain untuk memperebutkan sel telur di rahim ibu. Bukti lain adalah masing-masing kita telah diberika bakat dan keterampilan. Tidak ada seorangpun yang memiliki kesamaan di dunia ini, kembar paling mirip pun tidak. Tuhan menganugerahi keterampilan dan bakat tersendiri dalam kehidupan kita. Ia membekali dan menghadirkan kita di berbagai situasi dan peristiwa sehingga kita bisa belajar, memberikan kesempatan kepada kita untuk sekolah dan dididik dal lulus pada waktunya. Dengan caraNya mengajarkan kita pada tujuan serta rencanaNya yang unik.
Sesungguhnya pekerjaan adalah salah satu bentuk dari karunia itu. (kecuali kalau kita KNN). Karena yang pasti bidang pekerjaan kita dan apa yang kita tekuni saat ini adalah buah dari kerja keras kita, baik dari usaha belajar selama bertahun-tahun maupun oleh usaha kita dalam mengembangkan diri melalui seminar dan training yang kadang bukan hanya menghabiskan uang tapi juga waktu dan tenaga, dan kita diijinkan mengalami pekerjaan yang kita tekuni saat ini. sehingga saatnya kita menjadi semakin ahli dalam bidang itu bahkan mungkin kita maestro dibidang kita.
Kita yang diberi kemampuan analisa dan melakukan perencanaan menjadi Insinyur, kita yang diberikan kemampuan ketelitian dan pencatatan menjadi seorang Akuntan. Kita yang diberi kemampuan berbicara dan meyakinkan orang menjadi pengacara, kita yang mempunyai kemampuan menerangkan dan mengajar menjadi seorang guru, dan kita yang dikaruniakan hikmat serta kemampuan membina, membimbing menjadi uztad atau pendeta maupun segala kemampuan yang lain yang sesuai profesi yang kita tekuni. Selayaknya kita yang telah menerima semua anugerah itu memanfaatkan dengan maksimal serta mendayagunakannya untuk tujuan mulia, untuk kebaikan kita, sesama kita terutama sebagai bentuk ibadah kita pada sang pemberi hidup yaitu Tuhan yang maha kuasa.
Bekerja Dengan Integritas.
Dikenal sebaagi integrity dalam bahasa Inggris, yang diterjemahkan sebagai keutuhan/kebulatan/keterpaduan, tidak terpisah. Pada prakteknya integritas berarti adanya keterpaduan dan keutuhan antara apa yang kita percayai dan yakini dan apa yang kita lakukan. Jika kita menganggap bahwa sesuatu itu salah maka hal itu tidak akan kita lakukan, demikian juga sebaliknya jika kita menganggap bahwa itu benar maka hal tersebut harus dilakukan. Keutuhan dan keterpaduan itu harus senantiasa terjaga, dan tak boleh terpisah.
Dalam kaitan dengan ibadah, kita pasti tidak ingin terjadinya keterpisahan auat kekurangutuhan. Sebisa mungkin ibadah itu berlangsung sempurna dan menyeluruh tidak bolong atau kecolongan. Mengejar kesempurnaan itu bukan harga yang murah kita harus bersedia “menderita” untuk mengendalikan diri dan hawa nafsu supaya tidak melakukan kesalahan. Disinilah dibutuhkan kejujuran dan kemurnian; karena yang pasti tidak seorangpun manusia yang mengawasi kita utuh 24 jam serta menyaksikan apa saja yang kita lakukan. Tapi inilah keagungan dari ibadah; ibadah bukan dipersembahkan untuk manusia dan orang sekitar melainkan ibadah dipersembahkan untuk Tuhan. Kita percaya “Tuhan ada dimana-mana” ia oknum yang tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu, ia Maha Ada, maha Hadir. Oleh karena itu tanpa diawasi dan diamati kita akan tetap dengan setia menjaga keutuhan ibadah, bukan supaya kita dilihat orang tapi karena pengakuan akan keberadaan Tuhan sehingga kitapun saat beriadah berfokus untuk menyenangkan Tuhan karena dengan demikian ibadah itu akan bernilai agung bahkan hasil akhir dari kesempurnaan itu adalah kepuasan batin yang tak tergantikan.
Integritas itu juga nilainya sama dalam kerja, kerja adalah ibada bahkan Rasul Paulus mengungkapkan tulisannya kepada jemaat di Roma bahwa ibadah yang sejati adalah mempesembahkan segenap hidup secara keseluruhan. Seperti kesetiaan kita untuk tidak membuat nilai ibadah itu kurang utuh, maka kita tentu akan menjaga nilai-nilai kejujuran dan kesetiaan itu dalam kerja. tidak ada yang namanya berbohong, manipulasi, intrik apalagi penyelewengan, tidak ada yang namanya munafik dan cari muka. Kita paasti akan dengan setiamenjaga nilai ibadah tetap murni di hadapan Tuhan. Akan dibutuhkan pengorbanan bahkan penderitaan bahkan kita siap untuk berbeda dari orang-orang yang tidak memaknai kerja sebaga ibadah, apalagi berhadapan dengan sistem yang tak mengenal arti ibadah.
Bekerja Dengan Melayani.
Berprofesi sebagai seorang pelayan akan dianggap sebagian orang sebagai seorang pekerja rendahan, karena menjadi seorang pelayan tugasnya adalah menjadi suruhan dan melayani orang yang dilayani. Bahkan dalam arti sesungguhnya pelayan adalah hamba, seorang dengan bisa seenaknya disuruh dan diperintah. Tapi serendah itukah profesi pelayan?
Seorang Maha Guru kita Yesus Kristus pernah berkata kepada murid-muridnya (Markus 9:35 Versi BIS) “orang yang mau menjadi nomor satu, ia harus menjadi yang terakhir dan harusmenjadi pelayan semua orang”. Sungguh kontraskan dengan paradigma kita?, itulah makna tersembunyi dari profesi pelayan. Seseorang yang bertugas menjadi seorang pelayan ssesungguhnya kelak akan memiliki posisi yang lebih tinggi dari pada orang yang dilayaninya. Tugas sebagai seorang pelayan akan merupakan awal dari benih-benih kepemimpinan. Kepemimpinan yang melayani. Oleh karena selayaknya kita tidak akan segan-segan untuk menjadi orang yang tugasnya sebagai seorang pelayan.
Seorag polisi akan dengan sukacita menjadi seorang yang melayani masyarakat dengan menjaga keamanan, seorang dokter dengan telaten akan melayani pasieannya, seorang Customer Service akan senang melayani pengeluhan pelanggan, seorang aparat pemerintah akan bergembira mendengar pengeluhan warganya. Yang pasti apapun pekerjaan kita, semua itu berpotensi untuk berfungsi sebagai seorang pelayan bahkan setelah menjadu pemimpin pun tugas kita adalah melayani bawahan kita.
Rasul Paulus berkata dalam suratnya kepada Jemaat Kolose “apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)” jadi makna pelayanan tidak terbatas pada siapa kita berhadapan langsung untuk dilayani tapi siapa yang ada dibalik yang kita layani. Makna pelayanan kita ditransendensikan maka sesungguhnya tujuan akhir pelayanan kita adalah sang ultimate Customer kita yaitu Tuhan yang kita sembah. Hal ini membutuhkan kesetiaan dan kekontinyuan karena sang customer kita kekal adanya dan karena ia setia sepanjang hidup kita. Tidak dibatasi hanya sampai waktu tertentu tapi sampai kapan kita diberikan kesempatan oleh dia untuk terus beribadah kepadanya. Kalau kita setia dan taat kelak saat ia menjemput kita dipintu kekekalan, ia akan puas dan berkata “baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan s etia, engkau telah setia dalam perkarayang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turut dalam kebahagiaan tuanmu. Tuhan Yesus menberkati kita semua. Amen
Pengirim adalah Pemerhati Masalah Etos Kerja
|
|