|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Dusta Seorang Imigran, Jatuhkan Kabinet Belanda
|
DUSTA dalam politik adalah hal biasa. Tapi dusta seorang Hirsi Ali, adalah luar biasa karena bisa menjatuhkan kabinet Belanda. Hirsi Ali sendiri adalah imigran Somalia yang kini hengkang ke AS. Bagaimana bisa terjadi? Ikuti kisahnya.
Siapa nyana dusta Ayaan Hirsi Ali, ketika meminta suaka politik pada 1992, empatbelas tahun kemudian bakal meledak menjadi krisis politik di Belanda dan berujung pada jatuhnya kabinet?
Kedustaan Hirsi Ali, meskipun sebelumnya sudah beredar, baru menemukan momentum-nya ketika programa televisi Zembla meng-investigasi jejak perjalanannya.
1997. Setelah lima tahun menyandang status pengungsi, Hirsi Ali pada Agustus 2002 mendapat kewarganegaraan Belanda.
Hirsi Ali mengaku dalam programa televisi Barend en Van Dorp pada September bahwa dia telah berdusta mengenai identitasnya pada saat mengajukan permohonan suaka. Di tahun ini namanya melambung dan men-jadi pusat perhatian karena pernyataan-per-nyataannya yang mengeksploitasi minoritas Islam. Sebulan kemudian, partai liberal VVD mencium potensi besar pada diri Hirsi Ali dan
menempatkannya di daftar kandidat pada pemilu.
Immigratie- en Naturalisatie-dienst/IND (Dinas Imigrasi dan Naturalisasi) melakukan pemeriksaan pada Hirsi Ali, namun tidak menemukan hal-hal yang menyimpang dalam dokumen.
Algemene Inlichtingen- en Veiligheidsdienst/AIVD (Dinas Intelijen dan Keamanan) me-nemukan sesuatu yang tidak beres dan pada Desember memberitahu Ketua Partai VVD masa itu, Bas Eenhoorn, mengenai kemungkinan dam-pak yang bisa ditimbulkan akibat naturalisasi Hirsi Ali yang tidak sah.
Tahun 2003, Hirsi Ali secara terbuka menghina Nabi Muha-mmad. Namanya makin mero-ket dan dia terpilih menjadi anggota parlemen untuk par-tai liberal VVD. Pernyataan dan kolom-kolomnya di koran semakin dipenuhi isu agama. Suhu di Belanda menghangat. Tabu yang dibobol Hirsi Ali menyebar ke Eropa.
Tahun 2004, Hirsi Ali me-rangkul sineas Theo van Gogh untuk membantu mewujud-kan film Submission tentang nasib wanita di dunia Islam. Hirsi Ali yang menyiapkan naskahnya sekaligus voice-over. Film ini menampilkan wanita Islam shalat dengan tubuh telanjang, hanya diba-lut kain tembus pandang. Ade-gan selanjutnya dia menjalani tindakan kekerasan. Tubuh-nya yang diwarnai tulisan ayat-ayat Al-Quran dipenuhi luka-luka bekas kekerasan.
Pengamat film dan politik mengkritik Submission seba-gai provokasi berbahaya dan bisa memicu polarisasi. Tidak lama kemudian Theo van Gogh dibunuh. Hirsi Ali mendapat pe-ngawalan negara. Tahun 2006, Programa Zembla menyiarkan jejak perjalanan Hirsi Ali, tepat-nya pada 11/5. Pengakuan ten-tang kawin paksa, nama dan tanggal lahir, dalam programa itu dikupas tuntas sebagai kebohongan Hirsi Ali belaka. Politik di Belanda memanas.
Menteri Rita Verdonk mengi-rim surat ke parlemen dengan isi bahwa Hirsi Ali dianggap tidak pernah menerima ke-warganegaraan Belanda. Hirsi Ali diberi waktu enam pekan untuk menanggapi Perkem-bangan itu ditanggapi Hirsi Ali dengan menggelar konferensi pers pada 16 Maret. Ia me-nyatakan mundur dari parle-men. Juga hari itu terungkap bahwa dia telah menyiapkan sekoci untuk hengkang ke AS dan diterima di lembaga think-tank kaum neokonservatif: American Enterprise Institute,
Selasa, 27 Juni, Verdonk berbalik menyatakan Hirsi Ali boleh tetap memiliki kewarga-negaraan Belanda. Ia boleh tetap memakai nama Ali, de-ngan demikian dia dianggap tidak pernah berbohong. Tapi Rabu (28/06), krisis politik memuncak. Siangnya jam 14.00 sidang pleno digelar dan berlangsung secara maraton hingga Kamis (29/06) pagi jam 06.00. Beberapa politisi nam-pak kuyu akibat tidak tidur. Sorenya sidang dilanjutkan lagi hingga tadi malam.
Hasilnya: D-66 menyampai-kan mosi tidak percaya kepa-da Verdonk dan menarik diri dari koalisi. Langkah ini disu-sul dengan pengunduran diri para menteri D-66. Kabinet pun jatuh!(dtc)
|
|