|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Henry: Brasil Juga Manusia!
|
Jangankan kalah, seri pun, Brasil belum pernah di Piala Dunia 2006 ini. Tapi bukan berarti Ronaldo dkk tidak bisa dikalahkan. Skuad Samba juga dihuni manusia. Tidak perlu takut untuk menghadapinya. Begitu kira-kira pesan striker Prancis, Thierry Henry untuk memotivasi pasukan Les Bleus dalam duel perempat final, di Frankfurt, pukul 03.00 Wita, Minggu (02/07) dini hari nanti.
“Berhentilah memikirkan soal kualitas pemain Brasil dan
pengalaman mereka menjua-rai lima kali Piala Dunia” kata Henry. “Jika kalian masuk ke lapangan dengan pikiran seperti itu, lebih baik kalian tidak masuk ke lapangan,” tukas striker Arsenal ini.
Henry pantas mengucapkan hal itu, mengingat hingga saat ini masih banyak teman-te-mannya yang silau dengan na-ma besar Brasil, meski mereka pernah mengalahkan Tim Samba itu 8 tahun yang lalu. “Saya tahu mereka menghor-mati kami dan kami juga meng-hormati mereka,” tegas Henry, “Jika kalian berhadapan de-ngan mereka, kalian pasti akan menemukan 5 bintang di kaus mereka, karena mereka me-mang selalu melaju ke babak final. Tapi mulai sekarang, mari kita lupakan hal seperti itu!”
Henry sendiri menilai, perte-muan dengan Brasil ibarat ‘final yang terlalu dini’. “Jika bisa memilih, kami tidak me-nginginkan pertandingan ini. Lebih baik jika kami tidak bertemu Brasil, atau mungkin di babak lain seperti final. Bagi kami ini bukan pertandingan impian. Bagi fans mungkin iya, tetapi bagi pemain ini adalah pertandingan yang harus di-mainkan,” ujar Thierry Henry.
Lebih jauh Henry mengakui bahwa Brasil pantas ditempat-kan sebagai calon terkuat juara. “Jika Anda melihat seorang pe-main seperti Juninho yang dominan di liga Prancis, dia bahkan tidak masuk dalam tim utama. Itu sudah menjelaskan segalanya,” terang Henry.
Dalam sejarah penampilan ke-dua tim di Piala Dunia, Brasil dan Prancis sudah tiga kali ber-temu dan dua kali dimenang-kan oleh Prancis, yakni tahun 1998 dan tahun 1986. Tahun 86, saat Piala Dunia digelar di Meksiko, Prancis mengalahkan Brasil lewat adu tendangan pe-nalti di babak perempat final. Saat itu Les Bleus masih diper-kuat oleh salah satu legenda se-pakbola mereka, Michel Platini.
“Tidak akan mudah saat se-mua orang menunggu dan ber-harap kepada kalian,” tambah Henry, “Hal ini sama dengan yang terjadi saat kami melawan Spanyol. Banyak orang berkata kami akan kalah. Tapi buktinya kami bisa melaju. Sekarang, jika kami ingin menjadi juara, kami harus bisa mengatasi mereka (Brasil). Itu adalah satu-satunya jalan. Dan sekarang kami sudah memiliki semangat untuk mengalahkan mereka.”
Melawan Brasil, Henry yakin Tim Samba akan lebih banyak menyerang, termasuk para pe-main belakangnya seperti Cafu dan Roberto Carlos. Hal itulah yang ia yakini bisa dimanfaat-kannya. “Saya yakin jika kamu menyerang seperti itu, kadang-kadang lawan bisa memanfaat-kannya. Dan saya akan men-coba itu saat melawan mereka.”
Namun begitu, di tengah ge-tolnya Henry menyemangati timnya, beredar kabar luma-yan buruk bahwa sang kapten, Zinedine Zidane, mengalami cedera ringan. Meski begitu, kemungkinan besar gelandang Real Madrid itu akan tetap turun menghadapi Brasil.
Juru bicara tim mengungkap-kan kalau Zidane tengah dibe-kap cedera ringan. Penjelasan ini menjawab atas absennya Zi-dane di sesi latihan pada Kamis (29/06) lalu, waktu setempat.
Menurut juru bicara, absen-nya Zidane dikarenakan pe-main yang bakal pensiun usai Piala Dunia 2006 ini sedang berada di hotel untuk terapi penyembuhan cederanya. Se-perti dilansir Reuters, berun-tung cederanya tak terlalu mengkhawatirkan. Dan tiga kali peraih gelar Pemain Ter-baik Dunia itu tetap turun melawan tim Samba.
Pentas Piala Dunia 2006 ada-lah ajang terakhir Zidane me-makai kostum Les Bleus. Jika Prancis ditekuk Brasil, maka laga itu menjadi momen sedih bagi Zidane, mengingat ia juga berencana gantung sepatu untuk level klub.
Sementara itu, striker Brasil Ronaldo mengatakan, respek dengan kemampuan Prancis. Tapi Brasil sudah siap segala-nya. Kekalahan tahun 1998 si-lam juga sudah dilupakan. Me-nambahkan rekannya, Juninho yang kerap menjadi gelandang pelapis Kaka meyakini per-temuan antara timnya selaku juara PD 2002 melawan Prancis yang menjuarai PD 1998 me-rupakan partai terberat dan tersulit yang harus dilakoni Brasil sepanjang PD 2006 bergulir.
Pemain yang terkenal dengan spesialisasi tendangan bebas dan jarak jauhnya itu memang tahu betul kemampuan para pemain asuhan Raymond Do-menech, karena Juninho sen-diri adalah sosok sentral ke-berhasilan Lyon yang berhasil menjadi jawara Ligue 1, Liga Utama Prancis selama lima musim berturut-turut.
“Akan menjadi partai yang paling sulit bagi kami di PD 2006 ini,” kata gelandang yang mencetak 29 gol bagi Lyon lewat tendangan bebasnya. “Mereka (Prancis) memainkan sepakbola yang hampir sem-purna. Sebagai tim, perpaduan mereka sangat berbahaya bagi kami,” imbuh Juninho.
Pemain kelahiran Recife yang telah berusia 31 tahun itu me-nepis anggapan faktor usia menjadi patokan keberhasilan suatu tim. “Tua dan muda, bu-kan jaminan,” katanya menepis anggapan media massa Prancis yang menyebut tim Les Bleus terlalu tua untuk bertanding di arena seganas Piala Dunia.
Menurut Juninho, dalam ba-bak perempat final yang akan berlangsung di Frankfurt, Prancis akan tampil dengan kekuatan terbaik. “Faktor usia para pemain tidak lagi relevan. Yang harus kami tampilkan adalah bagaimana kami ber-main dengan gaya kami sen-diri,” imbuh Juninho.
Juninho berpeluang menjadi starter untuk pertama kalinya jika kondisi Kaka atau Emerson yang dililit cedera lutut dan engkel belum mem-baik.(rik/sumber)
|
|