|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Menengok potret terminal
Manado
“Malam Gelap Gulita, Siang Amburadul”
|
SEKALIPUN menjadi kebutuhan penting warga Manado, namun sampai dengan saat ini perhatian terhadap fasilitas publik yang satu ini masih sangat kurang. Buktinya, hingga dengan saat ini terminal di Manado umumnya dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
Kita bisa mengambil contoh tiga terminal besar di Manado yakni Terminal Karombasan, Terminal Malalayang dan Terminal Paal II. Pada malam hari, terminal terlihat gelap gulita. Tak satupun lampu yang dipasang untuk menerangi lokasi tersebut. Kondisi ini kerap menimbulkan kerawanan sosial dan berpotensi konflik horisontal.
Menurut pengakuan sejumlah warga di lokasi tersebut, acap kali beberapa warga yang selalu bermarkas di lokasi ini memanfaatkan kegelapan ini untuk melakukan tindakan asusila. Banyak penumpang bus, khususnya kaum hawa yang kerap menjadi korban dari ketiadaan penerangan ini.
“Saudara-saudara saya yang kuliah di Unima Tondano sering mengeluh karena tubuh mereka sering dicolek orang-orang yang tak bertanggungjawab sesaat sebelum naik bus pada malam hari,” ujar Jantje.
Sementara itu, pada siang harinya kondisi terminal sangat amburadul. Khusus di terminal bus Tondano dan Tomohon, berserakan sampah-sampah plastik. Belum lagi saluran-saluran yang ada di lokasi itu tidak berfungsi dengan baik lantaran sudah dipenuhi lumpur dan sampah. Ironisnya, menurut pengakuan warga kondisi ini sudah berlangsung lama namun sampai kini belum diperhatikan sehingga kondisinya semakin amburadul.
Namun Kepala terminal Karombasan Moody Sumerah memberikan klarifikasi. Menurutnya, kondisi terminal ini disebabkan banyaknya sampah yang dibawa dari pasar lantas dibuang ke terminal. “Biasanya malam hari torang bersihkan tempat ini, tapi besok harinya kembali kotor. Kalau torang mo beking bersih pagi atau siang hari susah lantaran banyak kendaraan dan pedagang yang berjualan. Tapi warga selalu buang kalau siang hari,” paparnya.
Namun demikian, persoalan ini tak sampai di situ. Kalau tidak ditarik retribusi di lokasi ini mungkin bisa ditolerir, tapi yang terjadi justru setiap hari ditarik retribusi. “Lalu ke mana itu retribusi yang sopir-sopir dengan pedagang kios ada bayar. Kan itu masuk dalam kas di Dinas Perhubungan Manado. Ini terminalkan so lama jadi so banyak doi yang masuk. Tapi kenapa infrastruktur di sini justru semakin memburuk?” tanya Ketua Aspindo Sulut Terry Umboh. Sebuah pertanyaan yang ditunggu jawabnya.(imo)
|
|