|
|
|
|
![]() |
![]() |
Wempy Tjetjep Nakodai Gabsi 2006-2010
MELALUI keputusan Tim Formatur, atlet bridge Jawa Barat, DR Ir Wempy Tjetjep akhirnya dinobatkan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi) masa bakti 2006-2010. Terpilihnya Tjetjep, yang juga adalah deputy Menteri Keuangan RI, sekaligus menutup peluang Miranda Goeltom untuk kembali memimpin cabang olahraga bridge.
Sebelumnya, dalam pemandangan umum di Kongres Gabsi, yang berlangsung di Aula PTIK Kebayoran Baru, Jakarta, akhir pekan lalu, seluruh utusan telah menerima pertanggung jawaban Miranda yang memimpin selama kurun waktu tiga tahun. Namun, karena tidak ada kejelasan apakah Miranda siap memimpin Gabsi empat tahun ke depan membuat Tim Formatur yang terdiri dari Amirudin Yusuf, utusan PB Gabsi lama, Ir Harsudi Supandi (Pengda Gabsi DKI Jakarta), Henky Lasut (Indonesia Timur), Anton Saboe (Indonesia Tengah) dan Reza Falevi (Indonesia Barat) menjatuhkan pilihan kepada Wempy Tjetjep.
Usai terpilih, Tjetjep bersama Tim Formatur kemudian melakukan pemilihan pengurus yang baru. Tapi, karena waktunya terbatas, hanya Ketua Harian, Sekjen dan Wakil Sekjen yang sempat dipilih. Untuk Ketua Harian, terpilih DR Ir Herman Daniel Ibrahim, yang juga adalah salah satu Direktur PT PLN. Sementara Sekjen terpilih Harsudi Supandi, yang didampingi oleh Bertje Toar Polii sebagai wakil sekjen 1 dan Parpar Priatna sebagai wakil sekjen 2. “Untuk personil lengkap akan diputuskan setelah selesai kejurnas nanti,” sebut Henky Lasut kepada Komentar di Jakarta. (dni)
Kejurnas bridge
Antarklub
Empat Tim Sulut Lolos ke Babak Kedua
EMPAT Tim asal Sulut, masing-masing Elektrik, Talaud, Biro Pembangunan dan Manguni Minahasa berhasil lolos ke putaran kedua Kejurnas Antarklub, yang berlangsung di Points Square, Lebak Bulus Jakarta Selatan. Sayangnya, dua tim masing-masing Praskim Sulut dan Minahasa Utara harus tersisih di babak penyisihan.
Tim Elektrik yang diperkuat Henky Lasut, Eddy Manoppo, Robby Lempoy, Jacky Tirayoh dan Ch Nurhamidin, lolos ke putaran kedua setelah di babak penyisihan yang diikuti 80 tim berada di peringkat ke-10. Sementara Biro Pembangunan (Dennis Tirayoh, Rhein Lolong, Frangky Umboh, Yongky Tumbel, Fabian Lasut), Talaud (John Lasut, Gerald Lasut, Elvita Lasut, Devi Manoppo, Ferry Sambuaga, Lanny Liem) dan Manguni (Youbert Sumaraow dan Mac Wayong cs) berada di poisisi 32 besar. Sayangnya, Tim Praskim Sulut, yang diperkuat Jefrey Monengkey, Bill Mondigir, John Tumewu, Richard Kodoati, Ronny Tanauma dan Dapu) gagal meraih tiket ke babak 32 besar.
Kejurnas Bridge ke-44 tahun 2006 ini ditandai dengan absennya Tim Minahasa, yang merupakan juara antar gabungan tahun 2005. Kabarnya, Tim Minahasa, yang bakal diperkuat Tommy Rogi, Octa Wohon, Recky Kandouw dan Novry Kaligis gagal ke kejurnas karena tidak mendapatkan dana dari Gabungan Bridge Minahasa (Gabmin), yang dipimpin Ketua Umum Rull Kuron. Absennya Minahasa sempat menjadi pertanyaan beberapa peserta dari luar Sulut. “Sayang ya, para pemain seperti Tommy Rogi, Octa Wohon, Recky Kandouw dan Novry Kaligis harus absent di kejuaraan sebesar ini,” ujar salah seorang pecinta bridge di Jakarta.(dni)
Percasi Manado Sukses di POR Maesa
PECATUR-pecatur dari Pengcab Percasi Manado berhasil meraih predikat terhormat ketika berlaga di Kejuaraan POR Maesa Paskah 2006, yang berakhir Jumat pecan lalu di Gedung Pertemuan Kecamatan Airmadidi Atas Minahasa Utara.
Juara seleksi daerah Manado, Tino Lang berhasil meraih juara pertama setelah berhasil mengumpulkan poin tertinggi 7,5 Macth Point . Posisi kedua direbut Harry Marentek dari Minahasa Utara dengan perolehan poin 7,0 MP. Johny Sumarouw, Huibert “Hepye” Pusung dan Alfrets Dien, juga dari Manado berhasil menempati posisi ketiga hingga ke lima dengan poin 7,0 MP.
Kepada Komentar, Hepye Pusung mengatakan bahwa sukses Tim Percasi Manado, yang dipersiapkan untuk tampil di Kejurda tak lepas dari peran Ketua Umum Pengcab Percasi Manado, Abdi Buhcari. “Sukses yang kami dapatkan di Kejuaraan POR Maesa memang tidak lepas dari peran Pak Buchari yang terus memberikan support selama pertandingan berlangsung,” imbuh Pusung.
Dikatakan Pusung, dengan kesuksesan tersebut, Pengcab Percasi Kota Manado telah menyatakan siap untuk berlaga di Kejurda Catur Sulut yang bakal berlangsung di Amurang Minahasa Selatan. “Yang pasti hasil ini akan menjadi salah satu motivasi bagi pecatur Manado untuk meraih sukses di kejurda mendatang,” imbuh Hepye Pusung.(dni)
Rio Pantauw Juara Kelas -70 Kg di Kejurnas POR
Maesa/
KARATEKA muda, Mario Pantouw berhasil mewujudkan tekadnya menjadi yang terbaik di kelas -70 Kejurnas POR Maesa Paskah 2006 setelah pada babak final, di GOR Wolter Monginsidi, Sario Manado, Sabtu lalu, berhasil mengalahkan karateka dari Forki Jawa Timur. Keberhasilan ini sekaligus membalas kegagalan Rio saat berlaga di iven yang sama pada tahun lalu.
Tampil konsisten sejak babak penyisihan, Rio, yang masih berusia dibawah 20 tahun mampu mengalahkan lawan-lawannya, yang notabene usianya berada di atasnya. Bahkan, pada babak final, putra salah satu sesepuh karate Indonesia, Philip P Pantouw, yang membawa bendera PB Inkado tampil dingin dan berhasil memanfaatkan kecepatan guna meraih poin.
Hasil ini disyukuri oleh ayahnya, Philip P Pantouw. Kepada Komentar, salah satu pengurus PB Inkai tersebut mengatakan bahwa penampilan putranya sudah lebih baik dari tahun yang lalu. “Saya kira wajar kalau saya mengatakan bahwa Rio sudah mulai matang. Hal itu ditandai dengan keberhasilannya menjuarai kelas senior,” kata Pantouw.
Meski menjadi juara di POR Maesa, menurut Philip, putranya masih perlu lebih banyak mengikuti kejuaraan berskala nasional agar bisa lebih mengendalikan emosi. “Secara teknis memang Rio sudah lumayan, tapi saya kira dia perlu banyak belajar dan berlatih serta mengikti iven berskala nasional agar ia mampu tampil lebih baik di iven-iven berskala nasional,” kata lelaki yang akrab dengan sapaan Ile.(dni)
Kejurnas Barongsai Bakal Digelar di Manado
UNTUK merayakan HUT Kota Manado, pihak panitia telah menyiapkan sejumlah iven local maupun nasional. Salah satu iven yang bakal menjadi tontonan menarik adalah digelarnya Kejuaraan Nasional Barongsai pada pertengahan Juli mendatang.
Salah satu panpel HUT Kota Manado, Ir Haefrey Sendoh, kepada Komentar, beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa selain Barongsai, beberapa iven yang bakal digelar adalah Kejuraan Bola Voli dan Poco Poco memperebutkan Piala Walikota Manado. “Untuk kategori bola voli criteria peserta adalah usia di bawah 21 tahun,” kata Sendoh, yang juga adalah Kepala Dinas Agribisnis Kota Manado.
Lebih jauh, dikatakan Epi, begitu namanya kerap disapa, khusus untuk bola voli antar kecamatan se-Kota Manado, lokasi pertandingan akan dipusatkan di Lapangan Tikala Manado. “Sebenarnya masih ada beberapa cabang olahraga yang bakal dipertandingkan tapi nanti saja saya informasikan jika pelaksanaannya sudah siap,” sebut sendoh.(dni)
Catur GMW Marseille 2006
Irene Selangkah Lebih Cepat dari Choisy
PERTARUNGAN menegangkan harus dijalani pecatur putri harapan Indonesia MFW Irene Kharisma Sukandar (rating 2213) pada babak kedua turnamen Grandmaster Wanita Marseille 2006 di Marseille, Prancis, Minggu (02/07) dinihari WIB. Irene hanya unggul selangkah saja lebih cepat dari pecatur tuan rumah MFW Mathilde Choisy (2158).
Menurut laporan Humas PB Percasi, Kristianus Liem dari Marseille kepada Komentar, Mathilde yang membuka permainan dengan bidak e4, mencegah Irene mainkan pertahanan Sisilia variasi Naga kesukaannya dengan mainkan variasi Rossolimo pada langkah ketiga. Awalnya pertarungan berjalan lambat, tetapi ketika kedua pemain rokade pada sayap yang berlainan, maka tidak terhindarkan lagi adu cepat gempuran terjadi pada sayap berlainan. Putih menyerang dari sayap-raja dan hitam membalas dari sayap-menteri.
Pada langkah ke-17 seharusnya Mathilde menghambat kemajuan serangan hitam dengan mainkan 17.a3. Merasa yakin mampu mematikan raja hitam Mathilde yang juara kedua KU18 Prancis itu mengorbankan bidak b3 dan a2, namun ketika Irene balik mengorbankan menteri pada langkah ke-25 baru ia sadar Irene bakal punya menteri baru lagi.
Memasuki langkah ke-28 Mathilde dapat mematikan raja Irene hanya dalam satu langkah. Namun Irene ternyata sudah menghitung cukup jauh, dan yakin dapat selangkah lebih dulu mematikan raja putih. Kecemerlangan Irene muncul di situ dengan mengorbankan seluruh bidak-bidaknya di sayap-menteri, bahkan pada langkah ke-33 ia juga mengorbankan bentengnya. Tapi Mathilde menyerah selangkah kemudian karena melihat ia tidak mungkin lagi mencegah mat dalam tiga langkah. (*/dni)
|
|