|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Sebagian warga sudah turun ke kampung
Ratusan Warga Masih di Pegunungan
|
RIBUAN warga Pinolosian Timur dan Tengah yang sebelumnya sempat mengungsi ke pegunungan sekitar, sebagian sudah turun ke kampung masing-masing. Sedangkan ratusan lainnya diduga masih trauma sehingga tetap bertahan di tenda-tenda darurat di pegunungan.
Dilaporkan guru silat Sulut, yang juga wasit silat nasional, Hasan Ali Umar SPd, yang mengaku baru saja tiba di Kotamobagu kemarin sore sekitar pukul 15.00 WITA, sete-lah menempuh perjalanan Pinolo-sian-Kotamobagu yang cepat dan melelahkan selama lebih dari 10 jam.
Umar langsung mendatangi dapur Komentar Bolmong. Mengawali kisahnya dengan menceritakan betapa kehidupan warga Pinolosian Timur, terutama di Desa Adow, dan hampir semua warga Pinolosian Te-ngah, sudah sangat memilukan. Se-bab sampai hari Sabtu pekan lalu, bantuan pangan dan obat-obatan tak kunjung sampai di sana, se-mentara puluhan warga sudah menderita penyakit dan mengalami kelaparan. “So banyak warga yang sakit pascabanjir. Mereka kelapar-an, sehingga sebagian yang sem-pat mengungsi di pegunungan sudah turun ke kampung untuk mencari sumber makanan. Po-koknya hidup di sana serba ke-sulitan,” kisah Umar yang juga personel Satlak Penanggulangan Banjir di Pinolosian Tengah.
Guru olahraga di SMPN 2 Pi-nolosian serta Ketua FKPPI Pino-losian Tengah sekaligus Ketua 1 FK3GBM di kecamatan tersebut, menyaksikan langsung kondisi terberat di Pinolosian Tengah ketika dilanda air bah pertama kali 23 Juni lalu. Di mana air sungai Asam yang deras dan telah meluap sampai ke badan jalan mampu menghem-paskan sebagian badan jembatan di Desa Adow. Parahnya, 20 rumah yang ada di sekitar Kuala Asam itu turut hanyut. “Ini kondisi yang paling gawat, untung saja kami bisa menahan arus sungai, sehingga rumah yang hanyut tidak ber-tambah lagi. Namun keresahan warga sempat bertahan sampai 26 Juni, karena air tak kunjung surut,” tutur dia.
“Sampai Sabtu kemarin (pekan lalu, red) bantuan pangan dan obat-obatan belum bisa sampai ke Pinolosian Tengah karena badan jalan di kompleks Gontung, Desa Mataindo, sudah turun sedalam dua meter. Pun panjangnya jalan yang ambrol sudah lebih dari satu kilo-meter. Ada satu cara untuk mengi-rimkan bantuan ke sana, yakni de-ngan melewati laut, tapi laut seka-rang masih mengamuk. Ndak satu pun yang berani lewat,” tuturnya.
Yang menarik juga, perjalanan Umar dari Pinolosian ke Kota-mobagu, yang dalam kondisi normal hanya merongoh kocek sekitar Rp 15 ribu per orang, ternyata ia harus mengeluarkan sampai lebih dari Rp 100 ribu, termasuk biaya makan. Ia pun mengisahkan, bertolak dari Desa Adow, Pinolosian Tengah sekitar pukul 04.30 WITA dini hari. Dari sini dia naik ojek ke Mataindo dengan biaya Rp 35 ribu. Se-sampai di Mataindo, ia harus membantu pengendara ojek untuk membopong motor mele-wati jalan yang ambrol di kompleks Gontung, dan itu memakan waktu hampir dua jam. Setelah melewati jalan ambrol ini, ia harus mem-bayar ojek lagi Rp 30 ribu untuk menuju ke Desa Pinolosian.
Selanjutnya, perjalanan dengan ojek yang lain lagi menuju Moli-bagu, dengan biaya Rp 25 ribu. “Di Molibagu ini, kita sudah bisa naik mobil menunju ke Kota-mobagu. Tapi ongkos angkutan per orang sudah jadi Rp 20 ribu, padahal kalau kondisi normal biasanya cuma Rp 10 ribu,” bebernya.(sugianto babay)
|
|