|
|
|
![]() |
![]() |
|
Minta DPRD pantau kondisi sekolah
Pungutan Uang Pendaftaran Harus Arif
Disikapi
|
Persoalan pungutan biaya pendaftaran yang diduga diterapkan oleh sejumlah sekolah mesti diarifi. Karena bukan tidak mungkin hal ini dilakukan karena bantuan pemerintah tidak benar-benar sampai ke sekolah tersebut.
Demikian dikatakan salah seorang pemerahtai masalah sosial, DR Yong Ohoitimur MSC. Menurutnya, pungutan biaya pendaftaran harus ditelusuri penyebabnya. “Okelah, sesuai aturan tidak ada pungutan, tapi persoalannya apakah bantuan pemerintah cukup untuk kebutuhan operasional sebuah sekolah. Ini harus dikaji baik-baik. Jangan sampai, keterbatasan bantuan justru akan menjadi persoalan bagi sekolah tersebut. Jadi anggota dewan juga diharapkan mempertimbangkan kemampuan sebuah sekolah,” ujarnya.
Akan lebih parah, katanya, bila bantuan pemerintah tidak sampai ke sekolah tersebut. karena itu, lanjut Ohoitimur, masalah ini harus dicari solusi terbaik, yang tidak hanya menguntungkan para siswa tetapi juga membantu sekolah-sekolah untuk tetap melangsungkan proses belajar mengajar secara baik dan benar. “Itu artinya, kalaupun ada pungutan saat pendaftaran, perlu diikuti tranparansi dan pertanggungjawaban dari pihak sekolah ke mana dana itu digunakan,” tandasnya.
Pada bagian lain, menyinggung soal desakan ujian ulang, mantan rektor Unika De La Salle ini menyatakan ketidaksetujuannya. Menurutnya, pelaksanaan ujian ulang akan menciptakan mentalitas buruk kepada para siswa-siswi baik SMA dan SMP, karena dengan sendirinya mereka akan kehilangan fighting spirit dalam proses belajar mengajar.
“Dengan tidak dilakukan ujian ulang, maka kita mengajarkan anak didik kita untuk memiliki fighting spirit dalam sebuah proses belajar mengajar. Mereka tidak lagi mengharapkan akan adanya ujian ulang,” paparnya.
Diakuinya, sistem pendidikan saat ini masih memiliki banyak kekurangan. Hanya saja, hal ini bukan menjadi alasan untuk dilakukan ujian ulang, karena yang akan dirubah adalah sistemnya dan bukan hasil yang diperoleh.
“Dengan tidak ujian ulang, maka kita mengajarkan kepada para siswa untuk menerima hasil apa adanya, sekalipun ia tergolong siswa berprestasi maupun sebaliknya. Cara ini juga sekaligus mempersiapkan anak didik kita untuk mengikuti mekanisme perkuliahan yang tidak memberlakukan sistem ujian ulang,” paparnya.(imo)
|
|