|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Jelang
SSI Tata Gereja
Diusulkan
Pendeta GMIM Sebaiknya Tidak Pimpin Jemaat
|
Sejumlah warga GMIM mengusulkan agar para pendeta GMIM tidak lagi menjadi ketua jemaat. Mereka memintakan agar menyerahkan ketua jemaat itu kepada warga non pendeta, yang dinilai punya kemampuan memimpin jemaat sebagai penatua. Karena itu menjelang Sidang Sinode Istimewa tentang Relevansi Tata Gereja, hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu pasal yang penting.
Usulan tersebut disampaikan antara lain oleh Frangky Mocodompis SSos, Pnt Ir Martianus Baroleh, Toar Palilingan SH, Pnt Ir Stefanus Liow, Pnt Suryati Pontoh, Pnt Audy Wungkar SE, dan lainnya.
Mereka menilai, para pendeta GMIM sebaiknya kembali pada basic-nya, yaitu mengajar dan menggembalakan. Sedangkan manajemen gereja serahkan kepada ketua jemaat non pendeta. “Apalagi selama ini, banyak pendeta yang bersifat otoriter dan birokratis,” ujar mereka senada.
Selain itu, sistem presbiterian sinodal yang dipegang GMIM sekarang ini sudah melenceng, karena sudah diganti dengan sistem pendeta yang jadi suprastruktur. Seakan-akan guru agama, penatua dan syamas adalah orang-orang suruhan pendeta. “Padahal kalau melihat keadaan sekarang ini, banyak pendeta yang menjadi sumber keresahan jemaat, mulai dari tingkat sinode sampai jemaat,” ujar mereka.
Menanggapi usul ini, Ketua Departemen Tata Gereja Pnt J Lontoh STh kepada Komentar belum lama ini mengungkapkan, usul itu memang sudah diperolehnya. Hanya saja belajar dari pengalaman, bila ketua jemaat itu diserahkan kepada non pendeta, sering terjadi dalam pemilihan ketua jemaat, yang tidak terpilih bisa pindah gereja. Sedang kalau pendeta yang jadi ketua jemaat, dapat diminimalisasi persaingan yang tidak sehat itu. Dan pendeta juga sudah dibekali dengan sikap etis theologis.(jef)
|
|