|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Mencermati Forum Sosial Dunia(2)
Oleh: Fendry Ponomban
|
Beberapa waktu lalu, Forum Sosial Dunia berlangsung di Mumbay, India. Puluhan ribu aktivis hadir untuk mengikuti berbagai seminar, konferensi, debat publik dan pemutaran film yang dirancang panitia. Beragam isu seperti globalisasi, perempuan, WTO, pendudukan AS di Irak, rasisme, perburuhan, HAM dan AIDS dibahas.
Beberapa waktu lalu, Fo-rum Sosial Dunia berlang-sung di Mumbay, India. Pulu-han ribu aktivis hadir untuk mengikuti berbagai seminar, konferensi, debat publik dan pemutaran film yang diran-cang panitia. Beragam isu se-perti globalisasi, perempuan, WTO, pendudukan AS di Irak, rasisme, perburuhan, HAM dan AIDS dibahas.
Pertemuan ini mengidentifi-kasi adanya pertentangan an-tara mandat gereja dan apa yang saat ini tampak lewat globalisasi ekonomi. Gereja didesak untuk mengkritisi “mesin pertumbuhan”. Gereja juga didesak untuk mengam-bil tindakan-tindakan alterna-tif yang segera. Professor dari Vanderbilt Universtity, M. Douglas Meeks, yang menjadi pembicara kunci dalam forum itu berpidato dengan topik “God, globalization and free trade: for whose good?”. Me-nurut Meeks, “ekonomi yang diinginkan Tuhan adalah ja-lan penebusan-Nya bagi du-nia”. Oleh karena itu, gereja, menurut Meeks harus secara konkret berbicara mengenai Tuhan, keadilan dan perda-maian dalam konteks jaman ini. Apa yang diperbinca-ngkan dalam FSD maupun pertemuan dewan gereja-ge-reja sedunia, memiliki sub-stansi yang sama. Secara ringkas, kedua forum itu hen-dak mengkritisi beroperasinya kapitalisme neoliberal yang menyingkirkan kemanusiaan dan mencoba merumuskan alternatif bagi globalisasi yang lebih berpusat pada manusia.
Pertanyaan berikutnya ada-lah apa yang dapat kita petik dari semangat kedua perte-muan itu? Kita tidak perlu menutup-nutupi lagi bahwa krisis ekonomi, politik dan so-sial yang melanda Indonesia, sebagian memperoleh sumba-ngan dari salah kebijakan lembaga keuangan interna-sional seperti IMF dan Bank Dunia.
Kebijakan-kebijakan privati-sasi telah menghancurkan struktur produksi ekonomi In-donesia. Dengan kepemilikan atas perusahaan-perusahaan strategis, modal internasional dapat saja menentukan arah perusahaan apakah mengg-unakan kandungan lokal da-lam produksinya atau apakah hendak ditutup dan dipin-dahkan ke negara lain. Cara ini telah menjadi tabiat yang lazim dalam logika korporasi internasional. Akibatnya, roda pergerakan ekonomi Indone-sia hanya bertumpu pada konsumsi yang sesungguhnya rapuh.
Di satu sisi, secara de facto, kekuasaan politik bukan lagi di tangan negara. Kekuasaan negara telah dilucuti sedemi-kian rupa. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Pe-milu yang akan kita lewati ta-hun ini kelak hanya akan menghasilkan pemerintahan yang diatur menurut selera korporasi. Kekuasaan mema-ng hadir, akan tetapi hanya tampak secara lahiriah mela-lui aparatus birokrasi dan angkatan bersenjata. Mereka hadir bukan untuk melayani dan menjaga berjalannya ke-bijakan yang memihak warga negara, melainkan melang-gengkan operasi rencana-ren-cana kekuasaan bisnis. Modal internasional hanya ingin membiarkan dijalankannya demokrasi prosedural melalui mekanisme Pemilu untuk menghasilkan aparat yang melayani kepentingannya. Aparat yang memuluskan rencana-rencana privatisasi air dan menjadikannya seba-gai komoditas ekonomi. Sam-pai saat ini tidak satupun ter-dengar program partai politik yang mengkritisi globalisasi dengan segala dampak buruk yang dibawanya. Dengan persoalan-persoalan yang semakin berat ke depan, Forum Sosial Dunia di Mumbay memberi secercah harapan buat semua orang yang mencita-citakan keadi-lan global.
Kita berharap forum terse-but dan forum-forum lainnya dapat menghasilkan rencana aksi dan terbangunnya jari-ngan menentang kekuasaan bisnis yang telah melecehkan kemanusiaan.(***)
Peneliti di Off Stream, Komunitas Media dan Dokumenter, Jakarta
Alumnus Filsafat UGM
|
|