|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Setiap 12 Tahun, Italia
Finalis
ANALISA PERTANDINGAN
OLEH: ronny pangemanan
|
Juergen Klinsmann boleh ter-senyum, setelah tim ‘Panzer’ Jerman melaju ke semi final Piala Dunia 2006. Bukan cuma Klinsi, panggilan akrab Klinsmann, tetapi juga Franz Bec-kenbauer sang ketua panitia penye-lenggara Piala Dunia beserta seluruh masyarakat Jerman ikut bergembira. Artinya, tar-get yang dibebankan ke pundak Klinsi, di mana ia harus mampu membawa Jerman lolos ke semi final, sudah terwujud.
Kalau pun Jerman tersisih di semi final, pendukung fanatik Jerman tak perlu ber-sedih karena Klinsi dan pasukannya su-dah membuktikan mereka bisa diandal-kan kendati sempat diragukan di awal
turnamen. Wajar bila DFB (PSSI-nya) Jerman ingin mem-pertahankan Klinsi dari kursi pelatih yang diembannya saat ini. Setidaknya Klinsi telah menjawab segala kritikan dan caci maki para wartawan, se-telah Jerman kurang memper-lihatkan greget dalam persia-pan menyongsong putaran final Piala Dunia di negerinya.
Salah satu kecaman pedas yang membuat telinga Klinsi dan skuad Jerman panas dari hantaman pers setempat, ke-tika Jerman takluk secara me-malukan 1-4 dari Italia dalam sebuah pertandingan persa-habatan di ‘Negeri Spaghetti’, hanya berselang sebulan sebe-lum kick off pada 9 Juni dimu-lai di Allianz Arena, Muenchen.
Kekalahan itulah yang bikin warga Jerman termasuk Bec-kenbauer meragukan kemam-puan Michael Ballack dkk. Tetapi sekarang, Jerman seca-ra fantastik melaju ke babak empat besar. Dan lawan yang sudah menantinya pada semi-final Rabu (05/07) adalah tim ‘’Azzurri’’ Italia, yang bulan lalu seperti mengajari Ballack dkk bagaimana cara bermain dan mencetak gol yang benar, se-belum takluk 1-4 dari Fabio Cannavaro cs.
Sanggupkah Jerman meng-atasi Italia? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab. Jerman kini difavoritkan untuk keluar se-bagai juara dunia dalam bursa taruhan dan rumah judi di Ero-pa dan Asia. Faktor tuan ru-mah dan mental bertanding serta tim spesial turnamen, membuat Jerman dijagokan. Namun harus diingat, Italia adalah tim yang paling sulit dikalahkan Jerman di setiap pertemuan mereka dalam pentas Piala Dunia.
Sejak tahun 1970, 1978 sam-pai final Piala Dunia 1982, Italia selalu unggul dari Jer-man. Melihat penampilan Italia di perempat final setelah mem-bantai Ukraina 3-0, setidaknya akan membuat Klinsmann berpikir dua kali.
Apalagi bila salah satu pilar utamanya Torsten Frings kena sanksi Komdis FIFA akibat pemukulan terhadap striker Argentina Julio Cruz, maka lini tengah Jerman bakal goyah. Di sini, mental Jerman benar-benar diuji. Italia harus bisa mengalahkan Jerman dalam duel 90 menit. Jika terjadi per-panjangan waktu dan diakhiri adu penalti, terlalu sulit untuk mengalahkan Jerman.
Jerman punya obsesi menjadi negara pertama yang tampil sebagai juara dunia ketika me-reka dua kali menjadi penye-lenggara, setelah sebelumnya Jerman sukses di Piala Dunia 1974. Tetapi kita juga harus melihat lagi dalam sejarah dan statistik. Italia selalu sukses dalam kelipatan 12 tahun un-tuk melaju ke grand final. Bila dihitung sejak final 1970, Italia melaju ke final 12 tahun kemu-dian di Piala Dunia 1982 Spa-nyol, dan menjadi juara dengan mengalahkan Jerman 3-1.
Di Piala Dunia 1994, atau 12 tahun kemudian, Italia kembali ke final meski kalah dari Brasil dalam drama adu penalti. Ber-arti jika dihitung dari 1994, maka Piala Dunia 2006 di Jer-man, mestinya statistik me-ngatakan Italia yang akan lolos ke final, berdasarkan kelipatan 12 tahun. Akankah hal itu terjadi? Kita tunggu!(***)
|
|