|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Taktik dan Pressure
ANALISA PERTANDINGAN
OLEH: Friko poli
|
PEKAN lalu, sewaktu ber-ada di Paris (Ibukota Prancis), kota ini seakan cuek dengan Piala Dunia yang sedang berlangsung di Je-rman. Tidak ada euforia tentang Piala Du-nia. Piere, seorang pedagang kelontong di kompleks Lafayette Gallery yang saya temui mengatakan, warga Prancis kehi-langan harga dirinya menyusul hasil jelek yang diperagakan Zinedine Zidane dkk di babak penyisihan grup.
Betapa tidak, juara Piala Dunia 1998 itu hanya mampu bermain imbang dengan Swiss, dan yang menyakitkan ketika ditahan tim anak bawang dari Asia, Korea. Untunglah di partai terakhir, Les Bleus mampu memukul Togo dan melenggang ke babak perdelapan final sebagai runner-up.
Meski lolos grup, Zidane dkk tetap dicerca. Kata warga Prancis, tim yang dibayar mahal oleh pemerintah itu, tidak
mampu menunjukkan diri se-suai gaji (besar) yang dibayar negara. Gaetan, seorang warga Prancis keturunan Indonesia menambahkan, Tim Prancis adalah kumpulan pemain tua yang tidak bisa lagi diharap-kan banyak di iven sekelas Piala Dunia ini.
Tapi kritikan tidak membuat mental Zidane dkk jatuh. Me-masuki babak perdelapan final, Tim Ayam Jantan bang-kit dari tidurnya. Spanyol di-hajar 3-1. Hebatnya lagi di ba-bak perempat final, favorit ju-ara yang telah menjuarai Piala Dunia lima kali, Brasil, dihajar dengan skor 1-0. Tak heran jika media Prancis yang awal-nya mencaci tim asuhan Ray-mond Domenech, tiba-tiba berbalik arah 180 derajat.
Media ‘’La Provence’’ menu-lis, Tim Prancis adalah gene-rasi pemain yang awalnya ditolak, kini telah menun-jukkan diri bahwa mereka adalah Tim Prancis yang sebe-narnya. Museum telah me-nunggu atas sejarah dan pres-tasi mereka. Malah penghar-gaan tertinggi ditujukan ke-pada performance Zidane yang disebutkan lebih Brasil dari para pemain Brasil sendiri.
Di babak semi final ini, Pran-cis kembali bergairah. Mereka mulai diunggulkan mengha-dapi Portugal. Apalagi dalam catatan sejarah, Prancis selalu menang atas Luis Figo dkk. Dua kali partai uji coba dan se-kali pertandingan resmi, Pran-cis keluar sebagai pemenang.
Kini Les Bleus yang awalnya ‘underdog’ mulai mendapat te-kanan dan terbeban untuk menang. Itu juga yang dirasa-kan Brasil sebelum dikalah-kan Prancis. Jika tidak mam-pu keluar dari under pressure, Prancis akan dilumat Portugal yang bermain tanpa beban dengan motivasi tinggi.
Jika melihat sejarah me-mang Portugal kalah. Tapi dari materi pemain, pasukan Luiz Felipe Scolari ini tidaklah kalah. Sejumlah pemain generasi emas Portugal masih bercokol. Sebut saja Luis Figo, Deco, Carvalho, Pauleta dan Maniche. Pemain mudanya juga sedang naik daun, seperti halnya Cristiano Ronaldo yang sudah cukup kenyang di kom-petisi liga Eropa.
Hebatnya lagi, mereka me-miliki arsitek yang jago stra-tegi, keras namun memiliki hubungan dekat dengan para pemain, Luiz Felipe Scolari yang kerap disapa Big Phil. Pola paten 4-2-3-1 yang men-jadi favoritnya dengan mema-sang Ronaldo dan Luis Figo di kedua wing dan Deco di lapa-ngan tengah, merupakan kombinasi tim dengan gaya ofensif. Pauleta di lini depan kerap hanya menjadi peng-ganggu bek lawan. Bahayanya lagi, Maniche yang berfungsi sebagai gelandang bertahan, memiliki naluri membunuh dengan tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti.
Di sisi lain, sektor pertahan-an Portugal cukup kokoh. Carvalho yang juga benteng kokoh Chelsea, cukup serasi bertandem dengan Meira di lini belakang. Apalagi mereka memiliki juga benteng terakhir bak karang, Ricardo yang mampu menahan tiga temba-kan penalti Inggris.
Bahaya bagi Prancis, karena pola yang diterapkan sama. Raymond Domenech juga me-nyukai pola 4-2-3-1. Striker tunggal Thierry Henry, akan dibantu winger Ribery dan Malouda. Melihat head to head ini, Prancis unggul skil di ujung tombaknya. Sedangkan untuk formasi winger, Luis Figo dan Ronaldo masih lebih enerjik dibanding Ribery dan Malouda yang dipunyai Prancis. Di lini tengah, Deco (jika dimainkan) akan menjadi lawan serius Zinedine Zidane. Meski begitu, Zidane masih lebih berkelas. Apalagi Deco kalah postur. Maniche diha-rapkan membantu mengawal lini tengah bersama Deco, tapi Prancis masih memiliki Pa-trick Viera yang bisa menjadi pengumpan Thierry Henry, atau bahkan menjadi breaker di lini belakang.
Viera juga bisa berfungsi mematikan winger Ronaldo sebelum sampai pada daerah yang dikawal Sagnol sebagai bek kanan Prancis. Pun jika Ronaldo melewati dua pemain ini, dia masih harus berhada-pan dengan kuda tua, Lilian Thuram sebelum berhadapan dengan Fabian Barthez.
Peluang Figo untuk merang-sek dari sektor kiri pertahanan Prancis lebih berpeluang. Di sana dia ‘hanya’ menghadapi Malouda atau Abidal (bek kiri Prancis). Tapi di sektor ini, William Galas (pemain Chel-sea) tidak akan tinggal diam. Figo akan sulit melewati ben-teng kokoh Galas. Apalagi Figo tidak memiliki stamina prima untuk terus merangsek sela-ma 2 kali 45 menit.
Di sisi lain, Thierry Henry bisa membahayakan bek Portugal Carvalho atau Meira. Kecepatan Henry sulit dilawan. Apalagi di belakang Henry ada Zidane atau Ribery yang bisa masuk mencari celah. Mau tidak mau, breaker Portugal seperti Maniche dan Costinha harus sedikit bermain agak keras. Ini bisa menciptakan bola-bola mati bagi Prancis melalui tendangan bebas. Di sini kepiawaian tendangan Henry dalam free kick akan menguji ke-hebatan kiper Portugal, Ricardo. Mari kita tunggu saja. Terutama bagaimana taktik Scolari me-nahan tekanan Prancis, dan ba-gaimana para pemain Prancis mengatasi tekanan psikologis sebagai tim yang diunggul-kan.(***)
|
|