|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Bulan Disiplin Pegawai Tinggal Nama?
Catatan: Simon Making
|
SEBUAH gebrakan bertajuk Bulan Disiplin Pegawai yang telah dilakukan Pemkot Manado di bulan Mei lalu telah memberikan arti penting bagi pengembangan profesionalisme para aparat negara yang berada dalam lingkungan Pemkot Manado. Sayangnya, kini Bulan Disiplin Pegawai sepertinya tinggal sebuah nama.
Sejumlah indikator yang membenarkan pandangan dan penilaian tersebut bisa diangkat kepermukaan. Pertama, soal jumlah PNS yang berkunjung ke pusat perbelanjaan. Grafik yang diperoleh dari pantauan harian ini menunjukan bahwa ketika aksi sweeping yang dilakonkan sejumlah Polisi Pamong Praja (Pol PP) berlangsung, satu persatu PNS mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke sejumlah pusat-pusat perbelanjaan yang ada di kota Manado saat jam kerja, seperti di Megamall, Megamas, Multimart dan sebagainya.
Sekalipun waktu itu banyak PNS yang ‘tertangkap basah’ di pusat-pusat perbelanjaan, namun aksi yang dilakukan Pemkot ini berhasil meminimalisir kebiasaan para aparat negara ini. Setidaknya, di akhir-akhir bulan Mei lalu hanya satu dua orang PNS yang masih berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan. Apalagi, mulai terkikisnya kebiasaan PNS doyan mall dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya diikuti dengan sikap tegas yang dilakukan pihan Badan Pengawas Manado.
Sayangnya, memasuki bulan Juli ini kebiasaan PNS doyan mall kembali bangkit. Terbukti, setiap harinya ada saja PNS yang mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan tersebut yang jumlahnya teruis bertambah. Kondisi ini diperparah lagi dengan tidak adanya Pol PP yang melakukan aksi sweeping di pusat-pusat perbelanjaan. Padahal, menurut pengakuan Juru Bicara Pemkot Drs Ferry Paul Karwur, Bulan Disiplin Pegawai ini tetap berlanjut terus dan bukan hanya dilakukan saat bulan Mei lalu.
Terlepas dari perbedaan pendapat dan kejadian di lapangan, kondisi ini menunjukan bahwa gebrakan yang dilakukan Pemkot bagaikan peribahasa panas-panas tahi ayam. Dan dengan ini maka sepertinya Bulan Disiplin Pegawai tinggal sebuah nama. Tapi haruskan Pemkot menghapus sebuah gebrakan yang memiliki nilai positif tersebut? Kita lihat saja nanti. (**)
|
|