HOME : FOOTBALL

Headlines News  

06 July 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Mau beli, harganya mencapai Rp 450 miliar 
Pesawat Kepresidenan RI Selama Ini ‘Pinjam’ 


PEMERINTAH melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla, berkeingi-nan kuat mengganti pesawat ke-presidenan yang sudah tua. Ka-bar ini serentak mendapat reaksi pro dan kontra dari berbagai kala-ngan. Jelas kalangan DPR seba-gian besar menolaknya bila harus membeli, sementara pemerintah sangat berkeinginan mengganti pesawat kepresidenan karena usia pesawat rata-rata sudah uzur.
Apakah pemerintah sudah mempunyai pesawat kepreside-nan? Mungkin penjelasan yang tepat adalah bukan pesawat yang dimiliki pemerintah, na-mun pesawat yang digunakan oleh lembaga kepresidenan.
Selama ini presiden dan wakil presiden bila bepergian di sejumlah wilayah di Tanah Air selalu menggunakan pesawat kepresidenan RJ 85 ‘memin-jam’ milik Pelita Air Service (PAS). Pesawat buatan tahun 1992 ini dibeli oleh Pertamina pada era Presiden Soeharto dan dijadikan pesawat khusus kepresidenan. Selain Soeharto, 
Presiden BJ Habibie, Ab-durrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri maupun SBY mengandalkan pesawat ini.
Persoalannya, mobilitas pre-siden dan wakil presiden saat melakukan kunjungan ke ber-bagai daerah dilakukan berba-rengan. Pilihan berikutnya adalah pesawat TNI AU, yaitu Fokker 28 dengan nomor re-gister A2802 dan Boeing 737-200. Kedua pesawat ini juga dibanderol menjadi pesawat kepresidenan. 
Baik Wakil Presiden Jusuf Kalla maupun sewaktu Wa-pres Hamzah Haz sering meng-gunakan pesawat kepreside-nan milik TNI AU ini. Untuk Fokker 28 memang cukup tua, pesawat ini produksi tahun 1980, sedangkan Boeing 737-200 yang baru saja dimodi-fikasi merupakan pesawat tua juga, buatan tahun 1981.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari situs detikcom, khusus pesawat Boeing 737-200 milik TNI AU ini baru saja dimodifikasi VIP dengan tam-pilan lebih baru lagi. Pesawat ini sengaja akan digunakan untuk menggantikan pesawat Kepresidenan RJ 85 milik PAS yang akan di-overhaul. Modi-fikasi pesawat Boeing sudah kelar dan uji coba penggunaan dilakukan Presiden SBY sepulang dari kunjungan kerja ke Pulau Buru, Maluku, be-berapa bulan lalu.
Selain pesawat milik TNI AU dan RJ 85, pesawat yang se-ring disewa pemerintah untuk pesawat kepresidenan adalah Airbus A330 milik maskapai Garuda. Khusus untuk pesa-wat ini hanya digunakan bila presiden maupun wakil pre-siden akan melakukan kun-jungan ke luar negeri, karena pesawat ini bisa mengangkut 200 sampai 300 penumpang.
Prototipe A330 terbang per-tama kali pada November 1992. Presiden Soeharto, Ha-bibie, Gus Dur, Megawati maupun SBY selalu menggu-nakan pesawat ini untuk berkunjung ke berbagai benua dan negara. Pesawat yang memiliki jarak jelajah 8.000-12.000-an kilometer ini me-miliki dek untuk penumpang. Pesawat ini juga memiliki lantai bawah yang luas se-hingga bisa berfungsi sebagai ruang penyimpanan kargo. 
Nah, khusus untuk penerba-ngan jarak pendek, terutama ke lokasi-lokasi yang tidak ter-jangkau dengan mengguna-kan pesawat, presiden mau-pun wakil presiden masih mempunyai pesawat helikop-ter jenis Super Puma milik TNI AU, yakni SA-330 dan SA 332.
Di sisi lain, jika niat peme-rintah membeli pesawat ke-presidenan harus dipenuhi, maka harga per unitnya se-kitar 50 juta dolar AS (Rp 450 miliar). Harga sebesar itu be-lum termasuk biaya pemeliha-raan. Wakil Ketua Komisi V DPR Sumaryoto dan anggota Komisi VII DPR Alvin Lie mengingatkan pemerintah jangan gagah-gagahan beli pesawat kepresidenan. Kare-na, utang kita masih segu-nung dan tiap tahun negara kewalahan membayar utang. Jangan hanya karena kaca pe-sawat yang ditumpangi wapres retak lalu beli pesawat. 
‘’Rencana itu bener tapi ndak pener alias tidak pas. Sekarang kita tolong rakyat yang dag-dig-dig tunggu Me-rapi meletus lah,’’ kata Su-maryoto. 
Sementara Alvin Lie yang pu-nya lisensi pilot pesawat ter-bang itu mengingatkan, peme-rintah harusnya mengukur diri, tidak meniru Presiden Amerika Serikat yang punya pesawat kepresidenan. Kalau mau meniru, tirulah Perdana Menteri Jepang, Singapura, China, Malaysia, ke mana-ma-na mereka gunakan pesawat komersil. 
Ditambahkan, Soeharto yang 32 tahun menjadi penguasa Orba tidak pakai pesawat ke-presidenan. Kalau kunjungan ke luar negeri, dia selalu gu-nakan Garuda, sementara untuk kegiatan di dalam ne-geri gunakan pesawat milik Angkatan Udara.(dtc/rmc)

  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin