|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Menengok aktivitas pengrajin di Pulutan
Demi Hidup, Rela ‘Jual Tanah Air’
|
MESKI sudah di era modern, ternyata tak membuat warga yang ada di Desa Pulutan, Kecamatan Remboken, putus asa. Mereka tetap menjalankan usaha industri kerajinan keramik atau gerabah dengan cara tradisional.
Ketika menginjakkan kaki di desa yang sering dijuluki se-bagai kampung yang suka ’menjual tanah air’ ini, sebab mengandalkan tanah liat untuk dijadikan kerajinan, maka yang akan nampak adalah gundu-kan-gundukan tanah, baik yang sudah berbentuk maupun yang baru akan diolah.
Desa Pulutan yang memiliki luas wilayah 247 Ha, dengan jumlah penduduk 996 jiwa, boleh dibilang sebagai desa yang mandiri dan mempunyai nilai investasi yang cukup menjanjikan.
Tak heran kalau kemudian Pemkab Minahasa mulai melirik secara serius industri kerajinan keramik di daerah ini. Salah satunya adalah mendatangkan sejumlah investor dari Kanada, guna memaksimalkan produksi kerajinan keramik yang di-hasilkan dari tangan-tangan penduduk setempat.
Meski di Desa Pulutan seka-rang ini, telah dibangun tung-ku pemanas oleh pihak inves-tor, namun tak sedikit warga yang tetap memanfaatkan hasil kerajinan keramik de-ngan mengandalkan alat tradisional seperti membakar dengan kayu api maupun dijemur di terik matahari.
Untuk memasarkan hasil-nya, para pengrajin biasanya menunggu pembeli datang langsung ke Pulutan. Namun hal ini sangat terbatas dan memerlukan waktu yang cu-kup lama. Sehingga tak se-dikit pula di antaranya yang kemudian menjual hasil pro-duksinya dengan berkeliling ke satu daerah.
“Kalo mo jual keramik hanya tunggu di rumah, kadang mo laku. Lebe bae, torang lang-sung ba jalan ke rumah-ru-mah warga. Itu lebih meng-untungkan sebab cepat per-putarannya,” ujar Om Hanny.
Menurutnya, usaha industri keramik atau gerabah di Desa Pulutan, sudah sejak lama dila-kukan. Itu terjadi secara turun- temurun dan diakui sangat sulit dilupakan warga karena sudah menjadi penunjang kehidupan ekonomi keluarga serta sangat mendukung pembangunan desa setempat.
Sebagai warga yang cinta akan budaya dan potensi ke-hidupan perekonomian masya-rakat, mereka tak akan meru-bah cara hidup. “Biar torang pe desa orang ja bilang jual tanah air, tapi begitulah kenyataan, semua bertujuan ingin cari hidup, apa yang bisa dilaku-kan, harus dilaksanakan. Yang penting halal dan berguna,” ketus Om Hanny yang me-ngaku telah ‘menjelajahi’ daerah Nyiur Melambai ber-jualan keramik.(epen)
|
|