|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Pemuda GMIM dan KGPM:
Stop Gereja Baru di Sulut!
|
Sekretaris Pemuda Sinode GMIM Franky Mocodompis SSos dan Ketua Komisi Pemuda dan Remaja Pucuk Pimpinan KGPM Drs Tenny Assa, Jumat (02/06), senada mengatakan agar pendirian dan pendaftaran gereja baru di Sulut dihentikan. Pasalnya, sesuai data Kanwil Depag Sulut sudah terdaftar 61 organisasi gereja di Sulut.
“Seharusnya Depag Sulut menghentikan pemberian izin kepada gereja-gereja baru. Masalahnya Depag juga dis-kriminatif. Sesuai data yang kami peroleh, Saksi-saksi Ye-hova dan gereja-gereja baru ti-dak pernah GMIM dan KGPM beri rekomendasi. Tapi Depag menyatakan terdaftar,” ujar Mocodompis lagi.
Ia mempertanyakan, ada apa dengan Depag. “Tanya ke GMIM dan KGPM, apakah ge-reja-gereja baru dari 61 gereja yang terdaftar, termasuk Sak-si Yehova mendapatkan reko-mendasi dari tiga gereja be-sar? Badan Pekerja Sinode GMIM periode lalu tidak per-nah mengeluarkan rekomendasi,” tegas Mocodompis lagi.
Sementara itu, me-ngenai permohonan Gereja Mormon, Tenny Assa menya-rankan kepada De-pag Sulut untuk mempertimbangkan pemberian izinnya. Sebab kenyataannya ajaran gereja ini belum bisa diterima oleh gereja-gereja lain. Yang dikhawatirkan kalau Gereja Mormon diterima akan mem-berikan kebingungan bagi warga yang ada saat ini.
“Walaupun hak untuk men-jalankan agama milik semua orang. Tapi kalau dalam men-jalankan agama justru me-nimbulkan kere-sahan, lebih baik dihentikan dulu,” ujar Assa.
Menyikapi ini, tambahnya, gereja-gereja perlu mela-kukan koordinasi. Apalagi terkesan pemberian izin ge-reja di Sulut oleh Depag sangat mudah. Tidak heran jika di Sulut mengoleksi 61 denominasi gereja.
“Padahal harus jujur warga jemaat dari gereja-gereja ini sudah pernah tercatat seba-gai anggota salah satu ge-reja,” ujar Tenny Assa yang juga sekretaris presidium Pe-lita (Pemuda Lintas Agama) Sulut.(jef)
|
|