|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Dari kongkow-kongkow pers-pemerintah (1)
Masih Banyak Pejabat Alergi Wartawan
|
“APALAH arti sebuah judul”. Penggalan kalimat ini mungkin pas dialamatkan untuk acara pertemuan Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon dengan kalangan pers, Sabtu (03/06) di Hotel Gardenia.
Betapa tidak, acara yang diprakarsai Walikota Tomohon Jefferson SM Rumajar SE, dengan dihadiri sejumlah pejabat teras Pemkot dan sejumlah legislator serta Kapolres Tomohon AKBP Budhy Wibowo Sumantri itu, dari perencanaan hingga saat gelar acara sama sekali tidak memiliki judul (baca: tema). Mungkin acara nonformal itu lebih tepat jika disebut Kongkow-kongkow. Kendati begitu, semua yang hadir nampak antusias mengikuti jalannya acara.
Dari sekian banyak hal yang dibicarakan, salah satu yang menjadi perbincangan hangat adalah soal prilaku para pejabat teknis pemkot yang dinilai alergi terhadap wartawan. Menurut pengakuan beberapa wartawan yang ditugaskan meliput di Kota Tomohon, fenomena ini masih terjadi. Dimana, ada sejumlah pejabat yang terkesan takut berhadapan dengan pers. Padahal pers bukanlah musuh atau sesuatu yang harus ditakuti. Sebab Pers dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, membutuhkan komunikasi yang baik dengan nara sumber. Di satu sisi, komunikasi yang baik dan benar ini tentunya akan memberikan pembelajaran yang baik dan benar kepada masyarakat.
Selain para wartawan liputan Kota Tomohon, sejumlah petinggi redaksi media cetak dan eletronik juga turut memberikan saran dan kritikan terhadap kinerja Pemkot Tomohon. Seperti halnya Hairil Paputungan (Manado Post), Ricky Tulalo (Komentar), Hendra Zoenardji (Swara Kita) dan Pdt Ruddy Paat STh (Radio Sion). Namun bagi mereka, pers sebagai lembaga kontrol sosial yang juga mengontrol pemerintah, siap dikritik masyarakat maupun pemerintah itu sendiri. Karena tak bisa dipungkiri, pers tak lepas dari kesalahan.(david/bersambung)
|
|