|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Soal potongan dana BOS 20 persen
Kalangan Guru Minta Bupati Cek Lapangan
|
Meski pihak Dinas Pendidikan Minahasa sudah membantah adanya potongan dana BOS sebesar 20 persen, namun persoalan ini bukannya berhenti sampai disitu. Sejumlah guru dari Pineleng dan Kakas membenarkan adanya pemotongan itu dan kembali mempertanyakan kebijakan tersebut.
Dalam release yang disampai-kan ke Komentar dan ditanda-tangani oleh 14 orang guru, seca-ra tegas menyatakan, kebijakan pemotongan dana BOS tersebut, sarat pemaksaan. “Torang kage dengar pa Kepala Sekolah itu dana BOS so dipotong 20 persen dan kepala sekolah tinggal disu-ruh tandatangani kwitansi un-tuk pembayaran buku. Ini jelas kebijakan yang sangat keliru,” tulis Marni Toreh, Drs Ishak Pantouw, Joni Opit, Theresia P.
Mereka pun menyatakan, per-nyataan Kadis Pendidikan, Drs J Sajouw bahwa ini merupakan ke-bijakan untuk pengadaan buku, menurut mereka, kurang tepat. “Sebab masa semua sekolah di-paksakan untuk mengambil bu-ku. Kong biaya operasional seko-lah mau ambil dari mana, sementara sumber lain sudah tidak ada?,” tanya mereka.
Lebih lanjut dikatakan mereka, kebijakan pengadaan buku tersebut rata-rata tidak masuk dalam RAPS yang diajukan pihak sekolah. Sementara penggunaan BOS berdasarkan RAPS tersebut. “Dan kami yakin bahwa sebagian besar sekolah yang ada di Mi-nahasa kekurangan biaya ope-rasional. Kong ambe akang lei 20 persen, tentu semakin memper-buruk situasi,” tukasnya. “Dan torang dengar, kalo sampe ada kepala sekolah mengakui poto-ngan itu, maka siap-siap jo dimu-tasi atau non job,” tambah mereka.
Pada bagian akhir, kalangan guru ini meminta agar persoalan tersebut tuntas, maka sebaiknya Bupati Drs Vreeke Runtu dan DPRD Minahasa, turun langsung ke lapangan dan mengecek ke para guru. Jangan sampai per-soalan ini merusak citra pemerintah ke depan. Dan kalau persoalan ini tidak segera ditindaki, maka guru-guru di Minahasa akan melakukan demo besar-besaran.(ami)
|
|