HOME : FOOTBALL

Headlines News  

10 June 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Di Udara pun Mereka Bicara Sepakbola 
Catatan Friko Poli


KAMIS siang (08/06) itu, cuaca cerah. Boeing dengan nomor penerbangan 7P-636 milik Batavia Air take off meninggalkan Bandara Sam Ratu-langi menuju Jakarta. Awan yang cukup tebal di atas udara Manado, tidak menyulitkan boeing produksi Hamburg, Jerman ini membelah udara. Hanya dalam waktu lima menit, tanda seat belt bisa dilepas sudah dinyalakan. 
Di deretan kursi pe-numpang terdepan, duduk tiga kepala daerah masing-ma-sing Walikota Bitung Hanny Sondakh, Bupati Minsel Ramoy Luntungan dan Bu-pati Minahasa (in-duk), Vreeke Runtu. Kebetulan tempat duduk saya sederet tiga pejabat penting ini. Malah posisi saya diapit oleh Luntungan dan Sondakh. 
Tak heran jika ada teman saya di belakang nyeletuk, ’’Wah yang di tengah itu Wali-kota dari mana yah?’’ Tak mau kalah, saya langsung me-nyahut seadanya,’’Penjabat Walikota Manado Utara,’’ yang disambut geer teman saya di kursi belakang. 
Dari hasil bincang-bincang dengan ketiga kepala daerah ini, rupanya seluruh walikota/bupati se-Sulut, bersama Gubernur Sulut diundang Menko Kesra Aburizal Bakrie di Kantor Kementerian Kesra, Jalan Merdeka, Jakarta Pusat. Mereka akan membicarakan soal kepariwisataan Sulut. 
Ketiga kepala daerah ini ter-lihat langsung terlibat pembi-caraan dengan sejumlah to-pik. Pertama saya agak kikuk juga, karena harus berada di tengah ketika mereka sedang berbicara satu sama lain. Apalagi sebagai wartawan, saya khawatir akan sedikit ‘menghambat’ pembicaraan mereka. Tapi perkiraan saya meleset. 
Baik Sondakh, Luntungan dan Runtu terkesan bicara le-pas dan tidak ada rasa alergi sedikitpun pembicaraan me-reka ‘direkam’ oleh saya. La-ma-lama saya pun makin en-joy nimbrung. Apalagi ketika mendengar mereka bernos-talgia. Sebab Ramoy dulunya adalah Sekkot Bitung yang sempat mencalonkan diri se-bagai walikota dan Hanny Sondakh adalah salah satu pengusaha (waktu itu) yang mendukungnya. Di sisi lain, Ramoy juga pernah menjabat Sekkab Minahasa di era peme-rintahan Vreeke Runtu sebe-lum menjabat Bupati Minsel, dan kini terpilih oleh rakyat sebagai bupati definitif. 
Selain bernostalgia perjua-ngan mereka menuju kursi 1 di eksekutif, mereka juga me-nyentil soal tantangan dan tugas, terutama bagaimana mendatangkan investor yang kadang datang tapi tidak ada realisasi. Bahkan Bupati Min-sel RM Luntungan ketika saya sentil soal IHP (International Hub Port) di Amurang, menga-takan investor yang ada sam-pai sekarang belum begitu se-rius. ‘’Kalau mereka serius, harus beli lahan,’’ katanya. 
Tapi parahnya, investor-in-vestor yang datang hanya se-batas meninjau saja. Malah di-akuinya, yang membawa me-reka hanya orang-orang itu saja. Selain masalah investasi, topik yang dibicarakan terkait isu pemeriksaan BPK (Badan Pengawas Keuangan) yang sempat mengemuka di sejum-lah media massa lokal. Tapi to-pik pembicaraan tidak terfo-kus, namun lebih banyak berpindah-pindah. 
Tak terkecuali soal sepak- bola. Ketika bicara olahraga tendang-menendang ini, Bupati Minahasa sedikit di atas angin. Maklum Persmin saat ini adalah tim papan atas Divisi Utama Ligina 2006. Bandingkan dengan timnya Luntungan (Persminsel) dan Persbit ‘milik’ Hanny Sondakh yang masih berkutat di region divisi II. 
Namun begitu, baik Luntu-ngan dan Sondakh ketika saya tanyakan, menyatakan akan secara bertahap mempersiap-kan Persminsel dan Persbit ke depan. Soal ini, Runtu pun memberikan advis menarik. Katanya, untuk mendongkrak Persbit dan Persminsel, perlu dicanangkan target berjenjang ditunjang budget. 
Menurutnya, target itu mulai tahun depan dengan menca-nangkan persiapan yang ma-tang bagi kedua tim bertarung di divisi II. Setelah itu, tahun berikutnya menargetkan ma-suk divisi I. Pada tahun ketiga, tim diusahakan masuk divisi utama. Pada tahun keempat berusaha masuk papan atas dan kalau perlu juara. ‘’Lalu tahun kelima ikut pilkada dan terpilih lagi,’’ ujar Runtu se-tengah berkelakar. 
Runtu pun mencoba meng-hubungkan advisnya dengan bukti fisik. Dia kemudian mencontohkan kehadiran bendera-bendera piala dunia yang dinaikkan warga. Itu menunjukkan pecinta bola di Sulut sangat banyak. Topik pun mulai bergeser lebih tinggi dan makin asyik. Soal Piala Dunia yang tengah berlang-sung. Nah bicara Piala Dunia 2006, Luntungan kepada saya mengatakan, Brasil menjadi tim favoritnya untuk men-juarai Piala Dunia di Jerman. Tapi tampaknya Runtu tidak sependapat. 
Bupati ‘gila bola’ ini lebih memilih tim Ruud Nistelrooy dkk (Belanda), sedangkan Wa-likota Bitung terlihat abstain. Tapi Sondakh tidak ingin be-nar-benar ketinggalan bicara soal topik ini. Pasalnya, saat itu orang nomor satu di Pem-kot Bitung ini langsung nyele-tuk soal kendala di Bitung terkait penyiaran Piala Dunia. Pasalnya, Bitung sendiri harus menangkap siaran Piala Dunia menggunakan antena khusus (matrix soccer). Kendalanya, banyak warga yang tidak mampu membeli antena berharga jutaan itu. Nonton bareng adalah salah satu pro-gram yang harus ditunjang Pemkot. Katanya jika pesawat sudah landing, dia akan langsung menelepon stafnya di Bitung agar memperhatikan aspirasi pecinta bola di Kota Cakalang tersebut. 
Cerita soal bola ini makin ‘hot’ ketika pramugari memba-gikan koran media Indonesia bagi penumpang. Di halaman dalam terdapat jadwal Piala Dunia satu halaman penuh, full color. Bupati Luntungan terlihat langsung ‘menyantap’ tim-tim penghuni grup, ter-utama mencermati kekuatan lawan-lawan tim favoritnya, Brasil. ‘’Brasil sudah pasti ju-ara grup,’’ celetuknya kepada saya ketika melihat lawan-lawan di grupnya. Saya pun setuju karena Brasil memang selevel di atas Kroasia, Jepang dan Australia di Grup F. 
Malah yang berat ‘kudanya’ Bupati Minahasa, Tim Oranye Belanda. Sebab Belanda ha-rus berjibaku dengan Argen-tina di Grup C. Selain itu, di grup yang disebut-sebut nera-ka ini, bercokol dua tim yang bisa menjadi kuda hitam, yak-ni Kroasia dan Pantai Gading. Saya mencoba menggoda Bu-pati Runtu dengan melempar-kan nada pesimis atas kans Belanda. ‘’Pak Bupati, tim Be-landa tak sekuat dulu lagi,’’ kataku. Meski terlihat se-nyum, namun di matanya ter-lihat tidak rela Belanda diang-gap enteng. 
Runtu pun dengan nada op-timis mengatakan, tim Belanda meski terdiri dari para pemain muda, namun itu malah bisa menjadi kekuatan mereka, yakni kekuatan stamina prima, guna menunjang ciri khas total Belanda, total football. Menartik-nya, usai koran dibaca Luntu-ngan, Runtu langsung mengam-bil bagian tengah koran berisi jadwal Piala Dunia, dan menyu-ruh ajudannya yang duduk di belakang agar menyimpannya. 
Bicara sepakbola memang tidak membosankan. Di mana pun (meski di udara) dan dengan siapa saja, termasuk para bupati/walikota yang memiliki kegiatan super sibuk. Apalagi kini nuansa piala dunia. Dima-na-mana orang bicara sepakbo-la. Karena bicara bola, tak terasa pesawat sudah mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Perja-lanan 2.50 jam seakan tak terasa. Kami akhirnya berpisah. Saya sendiri harus bergegas mengurus visa dll, agar bisa merasakan langsung atmosfir tempat penyelenggaraan World Cup 2006. Untunglah segala sesuatu berjalan lancar. So, Jerman wait for me!(***)



  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin