|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Trayek Coco ‘Dilarang’ Beroperasi, Bendi Dipaksa Nae Gunung
|
Aksi penertiban kendaraan di dalam Pasar Bersehati, Jumat 09/06) kemarin ternyata berimbas pada angkutan kota trayek Samrat Coco. Di mana trayek yang selama ini beroperasi dengan melintasi jalan Samrat depan Coco, akhirnya tidak lagi melewati ruas jalan tersebut. Yang ada bahwa seluruh angkot trayek Samrat Coco berbelok masuk pasar begitu sampai di pertigaan jalan dekat patung samrat.
Dilarangnya trayek Samrat Coco melintasi jalur sebelumnya, menimbulkan kemarahan dari sejumlah sopir angkot trayek tersebut. Sejumlah sopir angkot ketika dimintai tanggapannya menyatakan kekecewaannya terhadap perubahan jalur secara tiba-tiba ini. Pasalnya, dengan masuknya semua kendaraan dalam pasar tentunya akan semakin mengurangi pendapatan yang diperoleh. Belum lagi kendala yang dihadapi adalah menyangkut kemactan arus lalu lintas di dalam pasar.
Sementara itu penertiban ini juga ternyata menjadi ancaman yang serius bagi sejumlah masyarakat Manado yang berprofesi sebagai kusir bendi Rayon Selatan. Pasalnya, jalur yang selama ini dilewati mereka untuk menghantar penumpang masuk ke dalam Pasar Pinasungkulan akhirnya ‘diblokir’ para petugas Dinas Perhubungan Kota Manado. Mereka diintruksikan untuk mengikuti jalur memutar sebagaimana yang dilewati angkutan kota. Bahkan, mereka yang sudah berada di pertigaan lampu merah Karombasan diharuskan untuk berputar melewati Polsek Manado Selatan dan belok masuk melewati Jalan Baru dan belok kiri melewati jalan samping terminal.
Tak heran aksi blokir masuk jalan ini membuat banyak bendi yang tak bisa masuk pasar. Dan rasa kecewa pun terungkap dari wajah dan tutur kata mereka. “Masa torang dorang suruh nae gunung deng baron masuk pasar. Mati komang torang pe kuda. Torang pe penumpang kan cuma ada di sekitar stadion jadi cuma lewat di lampu merah,” sembur Fandry Kawengian dan Novi Mentang mewakili kusir bendi lainnya.(imo)
|
|