|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Akankah Jagung Jadi Primadona Petani ?
|
SEJAK dulu, wilayah Minahasa terkenal dengan hasil produksi pertaniannya. Dan hingga akhir tahun 1980 petani di wilayah ini dimanjakan oleh penghasilan dari hasil kebun cengkih dan kelapa. Sehingga pada saat itu, orang Minahasa banyak yang jadi pelancong karena memang duit banyak.
Namun setelah erah 80-an tersebut, penghasilan para petani terus melorot. Cengkih yang biasanya berbuah satu tahun sekali, mulai tak mem-beri hasil. Bahkan dalam ku-run waktu yang cukup lama, pohon cengkih tak mengha-silkan buah. Akibatnya para petani mulai meninggalkan ‘sang emas coklat’ ini.
Kebun-kebun yang dulunya menghijau oleh rimbunan pohon cengkih, mulai nampak kekuning-kuningan karena sebagian pohon cengkih da-lam kondisi merana tak ter-urus. Kondisi ini lebih diper-parah oleh harga cengkih di pasaran yang terus menurun akibat masuknya cengkih im-por dari Sansibar. Maka se-makin terpinggirkanlah pri-madona warga Sulut tersebut.
Sementara perkebunan ke-lapa yang menjadi andalan se-lain cengkih, meski terus memberi hasil berupa kopra, namun perjalananya tak sehebat cengkih. Harga kopra di pasaran tak menentu. Ada saatnya petani bisa merasa-kan hasil, namun tak jarang petani harus menombok, se-bab lebih besar biaya produk-si ketimbang hasil yang di-dapat.
Karena melorotnya pengha-silan para petani dari kebun kelapa dan cengkih, maka petani Minahasa sepertinya kehilangan primadona. Se-jumlah tanaman baru pun mulai dikembangkan. Antara lain coklat, vanili dan sejum-lah tanaman holtikultura.
Tetapi ternyata diantara tanaman-tanaman tersebut, tak ada yang bisa memberi hasil sehebat cengkih dan kopra ditahun 80-an tersebut. Maka secara perlahan, tana-man tersebut mulai ditinggal-kan petani.
Saat ini dibawa pemerinta-han Gubernur, Drs Sinyo H Sarundajang, petani Sulut, termasuk yang ada di Mina-hasa, disuguhkan satu prima-dona baru, meski sebetulnya sudah lama menjadi tanaman rakyat di Minahasa, yakni jagung.
Sepintas lalu melihat tana-man ini, ternyata meski perla-han, tetapi mulai diterima masyarakat dengan baik. Hal ini bisa dilihat dimana saat ini hampir semua kebun yang dulunya gersang, sudah mu-lai dipenuhi tanaman jagung. Bahkan hasil produksinya pun terus meninggkat. Menu-rut Kepala Dinas Pertanian Minahasa, Ir Harry Rotinsulu, hingga Mei 2006, produksi jagung di wilayahnya sudah mencapai kurang lebih 15.000 ton. “Dan ini akan te-rus meningkat seiring dengan areal penanaman yang terus bertambah,” kata Rotinsulu.
Memang belum menjadi ja-minan bahwa tanaman jagung akan menjadi primadona baru bagi para petani di Minahasa. Apalagi harga jualnya yang sampai saat ini masih lebih banyak ditentukan oleh pelaku pasar. Tetapi paling tidak, tanaman jagung telah mengisi kevakuman produksi hasil pertanian selama ini.(ami)
|
|