HOME : FOOTBALL

Berita Opini Redaksi dan Pembaca 

10 June 2006

 
NEWS CATEGORIES
Mimbar Keagamaan
Opini Redaksi
Seputar Manadoku 
Politik Pemerintahan
Pendidikan Budaya
Bisnis Ekonomi
Hukum dan Kriminal
Historika dan Tokoh
Bolamania Tribun

BERITA DAERAH
Minahasa Induk
Minahasa Selatan
Tomohon
Bitung 
Sanger dan Talaud 
Bolmong 

REDAKSI INFO.
About Us

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro, Politix).

Terbit 40 Hal.  Color-BW 

Alamat ; Jl. Sam Ratulagi No.162 Manado  95111 Phone: (0431) 851030 (Hunting)  Fax (0431) 851031 (Redaksi), (0431) 850955 (Merketing) 

  

IDENTIFIKASI FENOMENA ALAM 

 IKUTI BERITA LAIN

Tanggapan atas pelurusan sejarah Minahasa Prinsip(2)

 SURAT PEMBACA

BADAN KOODINASI MASYARAKAT KORBAN TAMBANG(BKMKT)
RATATOTOK-BUYAT

 COMMENTAREN

Semangat World Cup


Kurikulum pendidikan geografi di minta terfokus untuk mengenali bencana alam.

Demikian judul menarik bagi penulis di kolom pendidikan dan iptek di media daerah. kalangan pendidikan khususnya para guru geografi, mengharapkan pemerintah agar lebih memperhatikan kurikulum terkait dengan peristiwa alam. Bahkan bukan saja kalangan guru, tapi juga Masyarakat Pendidikan Sulut (MPS). Mereka sangat mengharapkan dalam kurikulam pendidikan geografi harus lebih memfokuskan pada masalah gejalah alam terutama terkait bencana alam yang sering terjadi di bumi nusantara ini, lebih khusus lagi di daerah Sulut (Komentar, 3/6/2006)
Hal ini menandakan, betapa mata pelajaran geografi yang di peroleh para siswa sejak dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas semakin di rasakan penting. Sebenarnya bagi penulis pendidikan geografi hanyalah dasar bagi para siswa untuk mengenal satu disiplin ilmu di tingkat perguruan tinggi, yang saat ini sangat di rasakan peranannya dalam pembangunan negara dan daerah khususnya. Kurikulum suatu disiplin lilmu tentang kebumian dan lebih khusus lagi yang terkait dengan bencana alam, tidak cukup hanyalah melalui pengetahuan geografi. Memang perguruan tinggi (PTN dan PTS) daerah belum melirik, atau mungkin saja tak tertarik dengan disiplin ilmu kebumian ini, entahlah. namun penulis rasa kita belum terlambat. Selama planet alam itu masih berproses, dan bumi sebagai salah satu planet pengisi alam “universe” (tata surya) sedang berefolusi, kenapa kita harus berperilaku tak acuh terhadap kejadian alam di sekitar kita itu?. disiplin ilmu tentang kebumian dan dampak efolusi bumi itu sendiri seperti berbagai peristiwa alam (bencana alam) yang menjadi fenomena dalam saat akhir-akhir ini, mestikah kita sikapi hanya dengan upaya-upaya bernuansa filantropi (berbelas kasih terhadap sesama), sekadar memberikan bantuan tenaga relawan dan materi melimpah kepada para korban bencana saja ? kalangan pendidikan Bumi Nyiur melambai itu benar. Sangat mengharapkan suatu kurikulum geografi yang lebih terfokus pada peristiwa alam dan muasal bencana alam itu. Disiplin ilmu geologi itulah jawabannya. Geologi berbeda dengan ilmu pengetahuan geografi.
Dalam Ensiklopedi Geografi, arti kata geografi sendiri yaitu : ilmu yang menguraikan tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora-fauna dan hasil yang di peroleh dari bumi. Sedang ilmu geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secarah keseluruhan meliputi asal kejadian, struktur, komposisi, sejarah dan proses alamiah yang membuat perkembangan hingga sampai pada keadaan sekarang. Ilmu geologi di kelompokkan dalam cabang-cabang ilmu; 1) Kristalografi, mineralogi, petrologi, dan geo kimia, 2) Geologi Struktur dan Geofisika, 3) Stratigrafi dan Sejarah Geologi, 4) Paleontologi, 5) Fisika Geologi dan Geomorfologi. (marbun 2004).
Ilmu Geologi memerlukan sarana dan fasilitas pratikum laboratorium mineralogi/petrografi, fisika dan laboratorium lapangan serta tenaga pengajar profesional. Agar sumber daya manusia tanah toar lumimuut, daerah yang sejatihnya memiliki sumber daya alam (SDA) bidang pertambangan cukup potensial, tetapi seharusnya juga jangan kita lupakan bahwa daerah ini berpotensi rawan bencana alam. Jadi tentunya wajib untuk mengenal pendidikan ilmu geologi (kebumian). Tentu saja pemikiran positif kalangan pendidikan daerah ini jangan hanya sekedar wacana semata. Instansi terkait dan pemerintah daerah yang harus berkompoten dalam merealisasinya.
Disiplin ilmu geologi mempelajari bumi secarah keseluruhan meliputi : asal kejadian, struktur, komposisi, sejarah hingga proses alamiah sampai pada kenampakan masa kini. Cabang-cabang ilmu geologi adalah : geofisika, paleontologi, geokimia, geomorfologi, dan geologi struktur. Selain itu ilmu vulkanologi yaitu cabang ilmu geologi yang berhubungan dengan kegunungapian. Aplikasi ilmu geologi yaitu ; geologi ekonomi, geologi kelautan, geologi kewilayahan, geologi minyak dan gas bumi, geologi pertambangan, geologi tata kota, geologi lingkungan dan geologi teknik.
Pada cabang ilmu geologi yang terkait dengan asal kejadian, struktur, komposisi, hingga kenampakan keadaan sekarang (morfologi), dapat berkaitan juga dengan muasal terjadinya bencana alam (natural disaster). Ada cabang geofisika yaitu pengetahuan tentang fisik bumi bagian dalam dengan memakai metode dan teknik fisika seperti mengukur gelombang gempa, magnet bumi, grafitasi, struktur lapisan kulit bumi, dsb. Ada juga geologi struktur yang mempelajari tentang susunan lapisan batuan (stratigrafi), bentuk atau bangun daripada kulit bumi akibat adanya gaya-gaya eksogen dan endogen yang bekerja.

GEMPA BUMI
Definisi gempa atau yang berpadanan dengan gempa bumi, yaitu ; gerakan atau getaran tiba-tib pada bumi akibat terlepasnya dengan mendadak renggangan yang terhimpun perlahan-lahan (eartquake). Bisa berupa gempa darat, yaitu bersumber di bawah benua (inland earthquake), boleh juga bersumber dari dasar laut, tidak terasa didarat tapi mungkian saja terasa di kapal (submarine earthquake). Adalagi gempa tektonik ; yang terjadi lebih berhubungan dengan “persesaran” (tektonik eartquake). Juga gempa vulkanik yaitu yang terjadi berhubungan dengan kegiatan gunung berapi (vulknik eartquake). (MM Puebo-Hadiwidjoyo, 1992).
Sumber gaya yang mengakibatkan terjadinya gerakan atau getaran gempa bumi yaitu dari gaya endogen. Suatu gaya yang bekerja pada kulit bumi yang berasal dari dalam bumi yang mengakibatkan gejala tektonis, vulkanis dan seisme seperti aktivitas gunung berapi dan gempa bumi.

PERSESARAN (TECTONIK EARTHQUAKE)
Persesaran yaitu, berasal dari kata “sesar” atau di sebut “patahan”. Adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran. Sifat pergeserannya dapat bermacam-macam ; mendatar, miring, naik dan turun. Selain itu gejala sesar tidak terlepas dari gejala struktur yang lain, misalnya kekar, lipatan, drag ( serstan, breksiasi akibat sesar, milonit, dsb). (DR. Azis Magetsari, dkk-geologi struktur / KBK Geologi dinamis Jurusan Tekhnik Geologi / Fak. Tekhnologi Mineral-ITB bandung, Non published).

Gempa Bumi Yokyakarta
Gempa bumi yang mengguncang daerah Yokyakarta dan beberapa kabupaten di sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006 berasal dari pusat gempa (episentrum) sekitar 25 km barat daya kota dengan kedalaman 17,1 km berkekuatan gempa 6,2 Moment magnitude (Mw). Data ini berasal dari pengukuran seismagraf yang di hasilkan dari jejaring stasiun pengamat milik badan Meteorologi & Geofisika (BMG) menunjukkan gempa ini berkekuatan 5,9 SR ( Skala Richter ) dan berasal dari episentrum sekitar 33 km di bawah dasar laut. Dua analisis berbeda itu bila di konversikan akan tetap ekuivalen. ( Suharyono / Ka. Pusat Gempa Nasional-BMG, Kompas 31/5/2006).
Berbagai analisa para ahli geologi terungkap pada diskusi “ Dinamika Kebumian Kawasan Jawa Tengah “ yang di selenggarakan ikatan ahli Geologi Indonesia (IAGI) di jakarta Selasa 30 Mei 2006. BMG di wakili Dr. Fauzi tetap berpegang pada data yang di keluarkan sebelumnya. Bahwa gempa tektonik Yokyakarta berada pada dekat pantai pada ujung “sesar Opak” aktif sepanjang 12 km berarah timur laut. Dengan peralatan seismograf mengukur kecepatan penjalaran energi gelombang maka di tamukan pusat gempa berada dekat pantai, maka tidak akan berpotensi menimbulkan tsunami. (Dr. Surono Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-DESDM, Kompas 31/5/2006).
Namun dalam diskusi ilmiah ini sebuah argumen menyatakan bahwa ; gempa di Sesar Opak itu di picu oleh aktifitas gunung merapi. Karena sesar itu sudah pada kondisi kritis maka adanya gangguan sedikit saja dapat memicu terjadinya pergeseran sesar itu. Selain oleh aktifitas merapi, gangguan terhadap sesar itu telah terjadi dalam kurun waktu lama, termasuk gempa tektonik akibat subduksi tahun 1998 (6,6 SR) dan tahun 2003 (6,3 SR). kegempaan di sesar ini dapat terjadi karena tergolong aktif. Artinya berpotensi bergerak bila terjadi gempa bumi karena memotong lapisan permukaan tanah yamg berusia muda, yaitu di bawah 10.000 tahun. Disarankan agar melakukan penilitian “paleoseismologi” (kegempaan purba) untuk membuktikan analisis ini, juga agar dapat di buat peta Zona Sesar di wilayah itu dan identifikasi sesar-sesar yang aktif. Hal ini penting untuk penataan ruang, menetapkan lokasi layak pemukiman dan fasilitas publik lainnya agar bila terjadi gempa tidak lagi memakan korban seperti ini. ( DR. Benyamin Sapi’ie/Katua Lab. Geo Komputasi Dept. Tekhnik Geologi-ITB Bandung, Kompas 31/5/2006)
Mengenai pakar Geologi di atas (DR. Benyamin sapi’ie) penulis pernah menjadi asisten Geolog beliau ketika tahun 1987 kami melakukan pemyelidikan Geologi Migas di Cekungan Kendilo daerah Kalimantan Timur. Saat itu kami berkemah dan mengumpulkan data Geologi ( sampling contoh batuan, pengukuran struktur ) himgga ke bagian timur pegunungan Meratus. Tahun 1987 pertamina daerah Kalimantan bersinergi dengan perusahaan konsultan Geologi dari ITB Bandung.

Zona Patahan Geser Mendatar
Pada kesempatan terpisah sebuah pernyataan mengungkapkan bahwa; dampak paling parah gempa Yogyakarta akibat adanya “Zona patahan geser mendatar” yang membujur arah timur laut dari pantai Parang Tritis hingga Piyungan, Kabupaten Bantul. Zona patahan ini bergeser akibat goncangan gempa tektonik sehingga merusak bangunan di atasnya. Diawali tunjaman Lempeng Tektonik Samudera Hindia dan Lempeng Eurasia. Tunjaman itu menyebabkan pergeseran-pergeseran dan retakan pada lapisan batuan lempeng Eurasia. Akibatnya terjadilah pelepasan energi dari retakan dan terjadinya perambatan gelombang energi ke segalah arah termasuk daratan. Sementara itu di daratan sudah ada “patahan geser mendatar” yang terbentuk kurang lebih 5 juta tahun silam. patahan yang terkubur oleh endapan gunung Merapi itu berada di bawah daerah Kabupaten Sleman, kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Bagian tengah daerah Yokyakarta dari Slamen Kota dan Bantul merupakan struktur patahan “Graben” (amblessan). Di bagian barat juga naik membentuk perbukitan Kulon Progo. Sejarah Geologi DIY yang merupakan lembah graben itu kemudian terisi material vulkanik gunung merapi. Di atas pasir Merapi itulah di bangun kota-kota yang ada sekarang. Masyarakat tidak mengetahui bahwa di bawah tempat tinggal mereka terjadi patahan yang merupakan zona lunak dan rawan terhadap gempa bumi. Saat terjadi rambatan energi dari gempa tektonik, patahan di daratan di goyang dan bergerak mendatar, pada saat itu terjadi kerusakan bangunan yang ada di atasnya. Kerusakan bergerak ke barat karena materialnya lebih lunak di banding perbukitan sisi timur. Jelasnya kerusakan paling parah terletak pada daerah zona lemah. (DR. Dwikorita K & DR. Subagyo P, Fak. Tekhnik-UGM Yokyakarta, Kompas 31/5/2006)
Pada tahun 1985 dalam rangka penyusunan kertas kuliah wajib Jurusan Geologi AKAMIGAS – PPT MIGAS Cepu-Jawa Tengah, penulis melakukan studi lapangan di laboratorium Geologi Lapangan UGM Bayat, pantai Parangtritis hingga museum Geologi Sangiran di Solo. Pada penulisan opini ini penulis menjelaskan tentang perbedaan antara pengetahuan Geografi dan disiplin ilmu Geologi. Dan lebih khusus lagi kaitannya dengan berbagai fenomena bencana alam. Meskipun di susun berdasarkan referensi publikasi media harian nasional tapi justru peristiwa bencana alam Yokyakarta sarat dengan materi bidang ilmu Geologi seperti; Geologi Struktur, Geologi Sejarah, Geofisika, Vulkanologi, dan Geologi Tekhnik. Sangat jelas dari ilmu Geologi yang telah di paparkan di atas peranan Geologi Struktur, kita dapat mengatahui apa yang di sebut Lempeng Benua, Patahan, Sesar, Graben/Horst pada lapisan batuan dan gaya-gaya yang bekerja hingga terciptanya gerakan atau getaran penyebab gempa bumi seperti pada kenampakan hasil analisa para pakar Geologi pada bencana alam bumi Yogyakarta. Juga pada Geologi sejarah (paleohistory) dimana daerah Yogya pada 10.000 tahun lalu (skala waktu Geologi) telah tertutup oleh endapan material vulkanik gunung Merapi dan kurang lebih 5 juta tahun silam terjadi patahan geser mendatar dan telah membentuk kenampakan morfologi kota Yogyakarta dan sekitarnya seperti saat ini (pra bencana)
Peristiwa maha dahsyat Tsunami Aceh-Nias tanggal 26 Desember 2004 telah menelan korban jiwa mencapai kurang lebih 80.000 jiwa serta kerugian materi tak ternilai besarnya (Aceh-Nias mundur 10-15 tahun dalam pembangunan infrastruktur). Saat itu gelombang air laut Tsunami setinggi 2-3 meter dengan kecepatan rambat gelombang 800 km per jam dari pusat gempa (episentrum) berkekuatan 8,9 SR dari kurang lebih125 km sebelah barat Meulaboh pada kedalaman kurang lebih 10,0 km di dasar laut India melanda sebagian daratan Aceh. (Kompas, 8/1/2005). Selang beberapa bulan kemudian pulau Nias pun masih di guncang gempa dan korban pun berjatuhan kembali.
Saat ini selang tujuh belas bulan kemudian tanggal 27 Mei 2006 daerah Istimewa Yogyakarta di landa musibah gempa bumi dahsyat berkekuatan 5,9 SR berasal dari episentrum 33 km di dasar laut sekitar 40 km selatan Yogya. Bencana Yogya kembali menelan korban 5.846 jiwa dan 17.515 orang luka berat dan 5.216 orang luka ringan. Jumlah rumah yang rata tanah mencapai 48.873 unit, sekitar 56.559 unit rumah penduduk rusak berat/roboh dan 62.155 unit rusak ringan (data sementara Depsos) (Komentar, 1/6/2006)
Bentangan jajaran kepulauan Nusantara sejak dari pulau Sumatera hingga Irian Jaya Barat/Papua berdasarkan data PusLitBang Geologi sesuai penelitian; J.A. Katili (1973), Silver (1983), W. Hamilton (1978),Viser & Hermes (1962) terdapat 10 sesar aktif dan sebaran gempa bumi.
Suatu upaya memprediksi gempa dilakukan Japan Marine Science & technologi Center (Jamstec). Program Intergrated ocean drilling tahun 2006 dengan kapal pemboran cikyu di daerah-daerah seismogenik dilaut yang sudah di ketahui akan di bor dan dipasang alat. Alat yang di pasang akan mengukur pada tekanan berapa gempa terpicu di batuan itu. Kalau dari bebagai pengukuran di peroleh konstanta tekanannya, maka bila struktur batuannya sama akan bisa di gunakan untuk memprediksi kedatangan gempa secarah presisi (teliti). Kompas, 2/4/2005.
Sungguh menarik bukan ? selain dapat mengenal dan merencanakan upaya antisipasi bencana (mitigasi) akibat gempa bumi, tsunami dan tanah longsor, disiplin ilmu Geologi (bukan Geografi) adalah jawaban atas harapan kalangan pendidikan daerah Sulut itu. Cabang-cabang ilmu Geologi; Geologi struktur, Geologi Sejarah, Geofisika, Volkanologi, serta Geologi Tekhnik adalah ilmu Geologi terkait sumber daya alam lebih khusus lagi menjawab asal mula kejadian dan bencana alam.
Sebuah proses evolusi kebumian sedang berlangsung, dan dampaknya terkadang sebagai sebuah fenomena tragedi bencana alam yang menimpa umat manusia. Bukan memberi kesan pesimists terhadap natural disaster berwujud monster alamiah itu. Tetapi bila kita mengenal dan dapat mengidentifikasi gejala-gejala fenomena alam kebumian (geologi) sejak dini melalui disiplin ilmu geologi, mustahil kita, terutama pemerintah dan instansi terkait tak dapat mengantisipasi seminimal mungkin dampak yang di akibatkannya.
Setelah Meulaboh Nangroe Aceh Darussalam, kini Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, apakah mesti ada pertanyaan yang menyatakan berikutnya di mana lagi ?
Wal’llahu alam bishawab! Tuhan jualah yang maha mengetahui yang sebenarnya !

Penulis

Benhard C Korah
Alumni Jurusan Geologi AKAMIGAS
PPT-perminyakan & Gas Bumi
Cepu Jawa Tengah


  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin