|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
IDENTIFIKASI
FENOMENA ALAM
|
Kurikulum pendidikan
geografi di minta terfokus untuk mengenali bencana
alam.
Demikian judul menarik bagi penulis di kolom
pendidikan dan iptek di media daerah. kalangan
pendidikan khususnya para guru geografi,
mengharapkan pemerintah agar lebih memperhatikan
kurikulum terkait dengan peristiwa alam. Bahkan
bukan saja kalangan guru, tapi juga Masyarakat
Pendidikan Sulut (MPS). Mereka sangat mengharapkan
dalam kurikulam pendidikan geografi harus lebih
memfokuskan pada masalah gejalah alam terutama
terkait bencana alam yang sering terjadi di bumi
nusantara ini, lebih khusus lagi di daerah Sulut
(Komentar, 3/6/2006)
Hal ini menandakan, betapa mata pelajaran geografi
yang di peroleh para siswa sejak dari sekolah dasar
hingga sekolah lanjutan atas semakin di rasakan
penting. Sebenarnya bagi penulis pendidikan geografi
hanyalah dasar bagi para siswa untuk mengenal satu
disiplin ilmu di tingkat perguruan tinggi, yang saat
ini sangat di rasakan peranannya dalam pembangunan
negara dan daerah khususnya. Kurikulum suatu
disiplin lilmu tentang kebumian dan lebih khusus
lagi yang terkait dengan bencana alam, tidak cukup
hanyalah melalui pengetahuan geografi. Memang
perguruan tinggi (PTN dan PTS) daerah belum melirik,
atau mungkin saja tak tertarik dengan disiplin ilmu
kebumian ini, entahlah. namun penulis rasa kita
belum terlambat. Selama planet alam itu masih
berproses, dan bumi sebagai salah satu planet
pengisi alam “universe” (tata surya) sedang
berefolusi, kenapa kita harus berperilaku tak acuh
terhadap kejadian alam di sekitar kita itu?.
disiplin ilmu tentang kebumian dan dampak efolusi
bumi itu sendiri seperti berbagai peristiwa alam
(bencana alam) yang menjadi fenomena dalam saat
akhir-akhir ini, mestikah kita sikapi hanya dengan
upaya-upaya bernuansa filantropi (berbelas kasih
terhadap sesama), sekadar memberikan bantuan tenaga
relawan dan materi melimpah kepada para korban
bencana saja ? kalangan pendidikan Bumi Nyiur
melambai itu benar. Sangat mengharapkan suatu
kurikulum geografi yang lebih terfokus pada
peristiwa alam dan muasal bencana alam itu. Disiplin
ilmu geologi itulah jawabannya. Geologi berbeda
dengan ilmu pengetahuan geografi.
Dalam Ensiklopedi Geografi, arti kata geografi
sendiri yaitu : ilmu yang menguraikan tentang
permukaan bumi, iklim, penduduk, flora-fauna dan
hasil yang di peroleh dari bumi. Sedang ilmu geologi
adalah ilmu yang mempelajari bumi secarah
keseluruhan meliputi asal kejadian, struktur,
komposisi, sejarah dan proses alamiah yang membuat
perkembangan hingga sampai pada keadaan sekarang.
Ilmu geologi di kelompokkan dalam cabang-cabang
ilmu; 1) Kristalografi, mineralogi, petrologi, dan
geo kimia, 2) Geologi Struktur dan Geofisika, 3)
Stratigrafi dan Sejarah Geologi, 4) Paleontologi, 5)
Fisika Geologi dan Geomorfologi. (marbun 2004).
Ilmu Geologi memerlukan sarana dan fasilitas
pratikum laboratorium mineralogi/petrografi, fisika
dan laboratorium lapangan serta tenaga pengajar
profesional. Agar sumber daya manusia tanah toar
lumimuut, daerah yang sejatihnya memiliki sumber
daya alam (SDA) bidang pertambangan cukup potensial,
tetapi seharusnya juga jangan kita lupakan bahwa
daerah ini berpotensi rawan bencana alam. Jadi
tentunya wajib untuk mengenal pendidikan ilmu
geologi (kebumian). Tentu saja pemikiran positif
kalangan pendidikan daerah ini jangan hanya sekedar
wacana semata. Instansi terkait dan pemerintah
daerah yang harus berkompoten dalam merealisasinya.
Disiplin ilmu geologi mempelajari bumi secarah
keseluruhan meliputi : asal kejadian, struktur,
komposisi, sejarah hingga proses alamiah sampai pada
kenampakan masa kini. Cabang-cabang ilmu geologi
adalah : geofisika, paleontologi, geokimia,
geomorfologi, dan geologi struktur. Selain itu ilmu
vulkanologi yaitu cabang ilmu geologi yang
berhubungan dengan kegunungapian. Aplikasi ilmu
geologi yaitu ; geologi ekonomi, geologi kelautan,
geologi kewilayahan, geologi minyak dan gas bumi,
geologi pertambangan, geologi tata kota, geologi
lingkungan dan geologi teknik.
Pada cabang ilmu geologi yang terkait dengan asal
kejadian, struktur, komposisi, hingga kenampakan
keadaan sekarang (morfologi), dapat berkaitan juga
dengan muasal terjadinya bencana alam (natural
disaster). Ada cabang geofisika yaitu pengetahuan
tentang fisik bumi bagian dalam dengan memakai
metode dan teknik fisika seperti mengukur gelombang
gempa, magnet bumi, grafitasi, struktur lapisan
kulit bumi, dsb. Ada juga geologi struktur yang
mempelajari tentang susunan lapisan batuan
(stratigrafi), bentuk atau bangun daripada kulit
bumi akibat adanya gaya-gaya eksogen dan endogen
yang bekerja.
GEMPA BUMI
Definisi gempa atau yang berpadanan dengan gempa
bumi, yaitu ; gerakan atau getaran tiba-tib pada
bumi akibat terlepasnya dengan mendadak renggangan
yang terhimpun perlahan-lahan (eartquake). Bisa
berupa gempa darat, yaitu bersumber di bawah benua
(inland earthquake), boleh juga bersumber dari dasar
laut, tidak terasa didarat tapi mungkian saja terasa
di kapal (submarine earthquake). Adalagi gempa
tektonik ; yang terjadi lebih berhubungan dengan
“persesaran” (tektonik eartquake). Juga gempa
vulkanik yaitu yang terjadi berhubungan dengan
kegiatan gunung berapi (vulknik eartquake). (MM
Puebo-Hadiwidjoyo, 1992).
Sumber gaya yang mengakibatkan terjadinya gerakan
atau getaran gempa bumi yaitu dari gaya endogen.
Suatu gaya yang bekerja pada kulit bumi yang berasal
dari dalam bumi yang mengakibatkan gejala tektonis,
vulkanis dan seisme seperti aktivitas gunung berapi
dan gempa bumi.
PERSESARAN (TECTONIK EARTHQUAKE)
Persesaran yaitu, berasal dari kata “sesar” atau
di sebut “patahan”. Adalah struktur rekahan yang
telah mengalami pergeseran. Sifat pergeserannya
dapat bermacam-macam ; mendatar, miring, naik dan
turun. Selain itu gejala sesar tidak terlepas dari
gejala struktur yang lain, misalnya kekar, lipatan,
drag ( serstan, breksiasi akibat sesar, milonit,
dsb). (DR. Azis Magetsari, dkk-geologi struktur /
KBK Geologi dinamis Jurusan Tekhnik Geologi / Fak.
Tekhnologi Mineral-ITB bandung, Non published).
Gempa Bumi Yokyakarta
Gempa bumi yang mengguncang daerah Yokyakarta dan
beberapa kabupaten di sekitarnya pada tanggal 27 Mei
2006 berasal dari pusat gempa (episentrum) sekitar
25 km barat daya kota dengan kedalaman 17,1 km
berkekuatan gempa 6,2 Moment magnitude (Mw). Data
ini berasal dari pengukuran seismagraf yang di
hasilkan dari jejaring stasiun pengamat milik badan
Meteorologi & Geofisika (BMG) menunjukkan gempa
ini berkekuatan 5,9 SR ( Skala Richter ) dan berasal
dari episentrum sekitar 33 km di bawah dasar laut.
Dua analisis berbeda itu bila di konversikan akan
tetap ekuivalen. ( Suharyono / Ka. Pusat Gempa
Nasional-BMG, Kompas 31/5/2006).
Berbagai analisa para ahli geologi terungkap pada
diskusi “ Dinamika Kebumian Kawasan Jawa Tengah
“ yang di selenggarakan ikatan ahli Geologi
Indonesia (IAGI) di jakarta Selasa 30 Mei 2006. BMG
di wakili Dr. Fauzi tetap berpegang pada data yang
di keluarkan sebelumnya. Bahwa gempa tektonik
Yokyakarta berada pada dekat pantai pada ujung
“sesar Opak” aktif sepanjang 12 km berarah timur
laut. Dengan peralatan seismograf mengukur kecepatan
penjalaran energi gelombang maka di tamukan pusat
gempa berada dekat pantai, maka tidak akan
berpotensi menimbulkan tsunami. (Dr. Surono Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-DESDM,
Kompas 31/5/2006).
Namun dalam diskusi ilmiah ini sebuah argumen
menyatakan bahwa ; gempa di Sesar Opak itu di picu
oleh aktifitas gunung merapi. Karena sesar itu sudah
pada kondisi kritis maka adanya gangguan sedikit
saja dapat memicu terjadinya pergeseran sesar itu.
Selain oleh aktifitas merapi, gangguan terhadap
sesar itu telah terjadi dalam kurun waktu lama,
termasuk gempa tektonik akibat subduksi tahun 1998
(6,6 SR) dan tahun 2003 (6,3 SR). kegempaan di sesar
ini dapat terjadi karena tergolong aktif. Artinya
berpotensi bergerak bila terjadi gempa bumi karena
memotong lapisan permukaan tanah yamg berusia muda,
yaitu di bawah 10.000 tahun. Disarankan agar
melakukan penilitian “paleoseismologi”
(kegempaan purba) untuk membuktikan analisis ini,
juga agar dapat di buat peta Zona Sesar di wilayah
itu dan identifikasi sesar-sesar yang aktif. Hal ini
penting untuk penataan ruang, menetapkan lokasi
layak pemukiman dan fasilitas publik lainnya agar
bila terjadi gempa tidak lagi memakan korban seperti
ini. ( DR. Benyamin Sapi’ie/Katua Lab. Geo
Komputasi Dept. Tekhnik Geologi-ITB Bandung, Kompas
31/5/2006)
Mengenai pakar Geologi di atas (DR. Benyamin
sapi’ie) penulis pernah menjadi asisten Geolog
beliau ketika tahun 1987 kami melakukan pemyelidikan
Geologi Migas di Cekungan Kendilo daerah Kalimantan
Timur. Saat itu kami berkemah dan mengumpulkan data
Geologi ( sampling contoh batuan, pengukuran
struktur ) himgga ke bagian timur pegunungan
Meratus. Tahun 1987 pertamina daerah Kalimantan
bersinergi dengan perusahaan konsultan Geologi dari
ITB Bandung.
Zona Patahan Geser Mendatar
Pada kesempatan terpisah sebuah pernyataan
mengungkapkan bahwa; dampak paling parah gempa
Yogyakarta akibat adanya “Zona patahan geser
mendatar” yang membujur arah timur laut dari
pantai Parang Tritis hingga Piyungan, Kabupaten
Bantul. Zona patahan ini bergeser akibat goncangan
gempa tektonik sehingga merusak bangunan di atasnya.
Diawali tunjaman Lempeng Tektonik Samudera Hindia
dan Lempeng Eurasia. Tunjaman itu menyebabkan
pergeseran-pergeseran dan retakan pada lapisan
batuan lempeng Eurasia. Akibatnya terjadilah
pelepasan energi dari retakan dan terjadinya
perambatan gelombang energi ke segalah arah termasuk
daratan. Sementara itu di daratan sudah ada
“patahan geser mendatar” yang terbentuk kurang
lebih 5 juta tahun silam. patahan yang terkubur oleh
endapan gunung Merapi itu berada di bawah daerah
Kabupaten Sleman, kota Yogyakarta, dan Kabupaten
Bantul. Bagian tengah daerah Yokyakarta dari Slamen
Kota dan Bantul merupakan struktur patahan
“Graben” (amblessan). Di bagian barat juga naik
membentuk perbukitan Kulon Progo. Sejarah Geologi
DIY yang merupakan lembah graben itu kemudian terisi
material vulkanik gunung merapi. Di atas pasir
Merapi itulah di bangun kota-kota yang ada sekarang.
Masyarakat tidak mengetahui bahwa di bawah tempat
tinggal mereka terjadi patahan yang merupakan zona
lunak dan rawan terhadap gempa bumi. Saat terjadi
rambatan energi dari gempa tektonik, patahan di
daratan di goyang dan bergerak mendatar, pada saat
itu terjadi kerusakan bangunan yang ada di atasnya.
Kerusakan bergerak ke barat karena materialnya lebih
lunak di banding perbukitan sisi timur. Jelasnya
kerusakan paling parah terletak pada daerah zona
lemah. (DR. Dwikorita K & DR. Subagyo P, Fak.
Tekhnik-UGM Yokyakarta, Kompas 31/5/2006)
Pada tahun 1985 dalam rangka penyusunan kertas
kuliah wajib Jurusan Geologi AKAMIGAS – PPT MIGAS
Cepu-Jawa Tengah, penulis melakukan studi lapangan
di laboratorium Geologi Lapangan UGM Bayat, pantai
Parangtritis hingga museum Geologi Sangiran di Solo.
Pada penulisan opini ini penulis menjelaskan tentang
perbedaan antara pengetahuan Geografi dan disiplin
ilmu Geologi. Dan lebih khusus lagi kaitannya dengan
berbagai fenomena bencana alam. Meskipun di susun
berdasarkan referensi publikasi media harian
nasional tapi justru peristiwa bencana alam
Yokyakarta sarat dengan materi bidang ilmu Geologi
seperti; Geologi Struktur, Geologi Sejarah,
Geofisika, Vulkanologi, dan Geologi Tekhnik. Sangat
jelas dari ilmu Geologi yang telah di paparkan di
atas peranan Geologi Struktur, kita dapat mengatahui
apa yang di sebut Lempeng Benua, Patahan, Sesar,
Graben/Horst pada lapisan batuan dan gaya-gaya yang
bekerja hingga terciptanya gerakan atau getaran
penyebab gempa bumi seperti pada kenampakan hasil
analisa para pakar Geologi pada bencana alam bumi
Yogyakarta. Juga pada Geologi sejarah (paleohistory)
dimana daerah Yogya pada 10.000 tahun lalu (skala
waktu Geologi) telah tertutup oleh endapan material
vulkanik gunung Merapi dan kurang lebih 5 juta tahun
silam terjadi patahan geser mendatar dan telah
membentuk kenampakan morfologi kota Yogyakarta dan
sekitarnya seperti saat ini (pra bencana)
Peristiwa maha dahsyat Tsunami Aceh-Nias tanggal 26
Desember 2004 telah menelan korban jiwa mencapai
kurang lebih 80.000 jiwa serta kerugian materi tak
ternilai besarnya (Aceh-Nias mundur 10-15 tahun
dalam pembangunan infrastruktur). Saat itu gelombang
air laut Tsunami setinggi 2-3 meter dengan kecepatan
rambat gelombang 800 km per jam dari pusat gempa
(episentrum) berkekuatan 8,9 SR dari kurang lebih125
km sebelah barat Meulaboh pada kedalaman kurang
lebih 10,0 km di dasar laut India melanda sebagian
daratan Aceh. (Kompas, 8/1/2005). Selang beberapa
bulan kemudian pulau Nias pun masih di guncang gempa
dan korban pun berjatuhan kembali.
Saat ini selang tujuh belas bulan kemudian tanggal
27 Mei 2006 daerah Istimewa Yogyakarta di landa
musibah gempa bumi dahsyat berkekuatan 5,9 SR
berasal dari episentrum 33 km di dasar laut sekitar
40 km selatan Yogya. Bencana Yogya kembali menelan
korban 5.846 jiwa dan 17.515 orang luka berat dan
5.216 orang luka ringan. Jumlah rumah yang rata
tanah mencapai 48.873 unit, sekitar 56.559 unit
rumah penduduk rusak berat/roboh dan 62.155 unit
rusak ringan (data sementara Depsos) (Komentar,
1/6/2006)
Bentangan jajaran kepulauan Nusantara sejak dari
pulau Sumatera hingga Irian Jaya Barat/Papua
berdasarkan data PusLitBang Geologi sesuai
penelitian; J.A. Katili (1973), Silver (1983), W.
Hamilton (1978),Viser & Hermes (1962) terdapat
10 sesar aktif dan sebaran gempa bumi.
Suatu upaya memprediksi gempa dilakukan Japan Marine
Science & technologi Center (Jamstec). Program
Intergrated ocean drilling tahun 2006 dengan kapal
pemboran cikyu di daerah-daerah seismogenik dilaut
yang sudah di ketahui akan di bor dan dipasang alat.
Alat yang di pasang akan mengukur pada tekanan
berapa gempa terpicu di batuan itu. Kalau dari
bebagai pengukuran di peroleh konstanta tekanannya,
maka bila struktur batuannya sama akan bisa di
gunakan untuk memprediksi kedatangan gempa secarah
presisi (teliti). Kompas, 2/4/2005.
Sungguh menarik bukan ? selain dapat mengenal dan
merencanakan upaya antisipasi bencana (mitigasi)
akibat gempa bumi, tsunami dan tanah longsor,
disiplin ilmu Geologi (bukan Geografi) adalah
jawaban atas harapan kalangan pendidikan daerah
Sulut itu. Cabang-cabang ilmu Geologi; Geologi
struktur, Geologi Sejarah, Geofisika, Volkanologi,
serta Geologi Tekhnik adalah ilmu Geologi terkait
sumber daya alam lebih khusus lagi menjawab asal
mula kejadian dan bencana alam.
Sebuah proses evolusi kebumian sedang berlangsung,
dan dampaknya terkadang sebagai sebuah fenomena
tragedi bencana alam yang menimpa umat manusia.
Bukan memberi kesan pesimists terhadap natural
disaster berwujud monster alamiah itu. Tetapi bila
kita mengenal dan dapat mengidentifikasi
gejala-gejala fenomena alam kebumian (geologi) sejak
dini melalui disiplin ilmu geologi, mustahil kita,
terutama pemerintah dan instansi terkait tak dapat
mengantisipasi seminimal mungkin dampak yang di
akibatkannya.
Setelah Meulaboh Nangroe Aceh Darussalam, kini
Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, apakah mesti ada
pertanyaan yang menyatakan berikutnya di mana lagi ?
Wal’llahu alam bishawab! Tuhan jualah yang maha
mengetahui yang sebenarnya !
Penulis
Benhard C Korah
Alumni Jurusan Geologi AKAMIGAS
PPT-perminyakan & Gas Bumi
Cepu Jawa Tengah
|
|