HOME : FOOTBALL

Headlines News  

12 June 2006

 
NEWS CATEGORIES

 

KOMENTAR GROUP

(Football, Metro). Terbit 40 Hal.  Color-BW, Alamat: Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone: (0431) 879799,  Fax: (0431) 879798 

Kelaparan, 65.000 Warga NTT Makan Batang Pohon 


Ini benar-benar memiriskan. Puluhan ribu penduduk Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan menderita kelaparan akibat kehabisan persediaan pangan sejak Mei lalu. Tak ada beras, mereka pun bertahan hidup dengan memakan batang pohon.

Padahal pemerintah setem-pat sudah membagikan beras yang disiapkan untuk meng-hadapi kondisi rawan pangan. “Namun, pembagian beras ter-sebut hanya membantu untuk beberapa hari,” keluh Bupati Sikka Alexander Longginus, Sabtu (10/06).
Untuk penanganan jangka panjang, dia mengaku tidak dapat berbuat banyak guna membantu sekitar 13.000 ke-pala keluarga atau sekitar 65.000 jiwa yang saat ini men-derita kelaparan.
Penanganan sementara, tu-turnya, penduduk diberi ban-tuan beras rawan pangan sebanyak 346 ton, yang di-bagikan sejak Mei lalu. Tetapi jumlah itu tidak sebanding dengan jumlah warga di sana.
Dia juga mengungkapkan, te-lah mengajukan proposal ke-pada pemerintah pusat. Jawa-ban yang diperoleh dari kantor Menko Kesra, pemerintah ber-sedia mengalokasikan bantuan 9.200 ton beras bagi warga yang kelaparan dalam bentuk padat karya pangan selama delapan bulan. Selama Juni hingga Agus-tus nanti, warga diarahkan un-tuk mengerjakan fasilitas umum dan diberi upah kerja berupa beras. Setelah itu, warga di-minta menyiapkan lahan.
Menurut Alex, akibat ke-tiadaan bahan makanan, war-ga Desa Wolomotong dan Rubit sudah mulai mengkon-sumsi putak (bagian dalam batang pohon siwalan, red). Warga yang menderita kelapa-ran, tersebar di semua daerah di Kabupaten Sikka, mulai da-ri Nilo, Wuliwutik, Ladogahar, Nirangkliung, Mego, Paga dan daerah lainnya, kecuali bebe-rapa daerah di bagian utara.
Dia menjelaskan, bencana kelaparan di Sikka disebab-kan pola pertanian yang mo-nokultur. Masyarakat di sana banyak menanam tanaman perdagangan dan tidak ada tanaman pangan. Salah satu kelemahan tanaman mono-kultur ini, sambungnya, ke-tika ada bencana hujan, angin dan hama, tidak ada yang bisa dipanen. Akibatnya, terjadi ra-wan daya beli yang berdampak rawan pangan.
Secara terpisah, Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan NTT Petrus Langoday mengatakan, sebanyak tujuh dari 16 kabupa-ten/kota di NTT terancam rawan pangan. Ketujuh wilayah, yakni Ngada, Ende, Sikka, Lembata, Belu, Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara. Di wilayah-wilayah itu, sebanyak 145 desa berisiko tinggi, 192 desa berisiko sedang, dan 238 desa lainnya berisiko ringan. 
Risiko rawan pangan yang dihadapi masyarakat di tujuh kabupaten tersebut, disebab-kan angin kencang yang meru-sak tanaman, kurangnya cu-rah hujan maupun kelebihan curah hujan, yang menyebab-kan tanah longsor dan banjir sehingga menghancurkan areal tanaman pangan. 
Hingga kini, persediaan be-ras yang dikelola Pemerintah Provinsi NTT untuk bantuan rawan pangan sekitar 2.500 ton, di samping 800 ton per-sediaan beras lokal yang dapat digunakan untuk penanggu-langan rawan pangan. Selain itu, pemerintah setempat te-rus memantau gejolak kenai-kan harga beras di pasar.(spc)



  
© Copyright 2003 Komentar Group. All rights reserved. webadmin