|
|
Alamat:
Kawasan Megamas Blok. B1 No:38 Phone:
(0431) 879799, Fax: (0431) 879798
|
|
![]() |
![]() |
|
Kisah perjuangan Kawanua di Negeri Paman Sam
Sarjana IPB, Tapi di LA Jadi Perawat
|
Menyebut nama Hengky Robert Paul Warouw, tak bisa disangkal apabila pemiliknya berdarah kawanua. Namun, pria yang sudah lebih dari 16 tahun bermukim di Negeri Paman Sam ini mengaku tak pernah menetap di Bumi Nyiur Melambai. Semuanya dikarenakan sang papi, Wyen Obetnegro Warouw, nyong Tulap yang adalah anggota KNIL di zaman Belanda, bertugas di Sukabumi, kota di mana ia bertemu noni Amurang kelahiran Sukabumi Johanna Anatje Pakapente.
“Sempat sih beberapa kali liburan ke Manado, biasanya mengunjungi keluarga di Mi-nahasa. Cuma karena jarang pesiar ke Manado, kami ka-kak-beradik saat masih di In-donesia kurang bisa bicara de-ngan logat Manado. Lucunya, saya, kakak, dan beberapa ke-menakan, yang semuanya la-hir di Jawa dan sekarang me-netap di Amerika, sekarang bisa berbicara dengan logat Manado karena pergaulan ka-mi di sini sehari-harinya de-ngan komunitas Kawanua, terutama di gereja.”
Secara jujur, ungkap ayah dari seorang putra (9 thn) dan putri (3 bln), kedua-duanya la-hir di Los Angeles, merasa le-bih senang tinggal di Amerika. “Bukannya tidak nasionalis. Kalau situasi dan kondisi di Indonesia lebih baik, saya tidak akan ragu untuk pulang ke Indonesia, terlebih banyak ke-luarga di Sukabumi dan Mana-do. Ayah (94 thn) dan Ibu (75 thn) saya masih tinggal di Suka-bumi, dan mereka tidak mau pin-dah ke Amerika meskipun anak-anak dan cucu-cucu mereka banyak yang tinggal di sini.”
Hal lain, yang menjadi per-timbangan utama, selain kon-disi ekonomi, menurut Hengky adalah kebebasan beragama di Amerika. “Memang di Indo-nesia, Negara menjamin kebe-basan beragama setiap orang. Sayangnya, ada kelompok-ke-lompok di tanah air yang tidak sepenuhnya mematuhi un-dang-undang yang berlaku, dan sebagai penganut Kristen, ka-dang merasa kurang bebas.”
Dari sisi ekonomi, tambah-nya, di sini meski ia bekerja sebagai CNA/Certified Nursing Assistant (asisten perawat) di sebuah nursing home di Los Angeles, bidang yang tak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikannya di IPB Bogor (Mekanisasi Perta-nian), ia bisa menghidupi ke-luarganya dengan layak. Se-mentara di Indonesia - ter-akhir ia bekerja untuk peru-sahaan farmasi Bristol Meyer di Bogor (di bagian produksi pembuatan obat), “meski pu-nya pekerjaan, belum bisa menjamin bisa menghidupi keluarga dengan layak. Ba-nyak orang di Indonesia, yang meski suami-istri bekerja ke-ras, masih harus tinggal de-ngan orang tua mereka, kare-na dengan gajinya belum bisa menghidupi keluarga mereka secara layak.”
Hal senada dirasakan pula oleh istrinya, Elisabet Sidleku-Toding, wanita kelahiran Ma-kassar berdarah Flores-Tora-ja. Sarjana Pertanian Tekno-logi Pangan jebolan UNHAS Makasar ini datang ke Ameri-ka mengikuti kakak perempu-annya, seorang perawat. Se-mentara, si kakak pulang kembali ke tanah air empat bulan kemudian karena tak sanggup berpisah dengan anak dan suami yang diting-gal di Jakarta, Elisabet mem-beranikan diri bertahan di Amerika. Untunglah, tak lama kemudian di rumah salah seorang teman (juga orang Indonesia) ia bertemu Hengky Warouw.
Toh, tak selamanya semua berjalan mulus. Sebagaimana umumnya Kawanua yang da-tang mengadu nasib ke AS, Hengky Warouw pun datang dengan bekal bahasa Inggris yang jauh dari pas-pasan. Ka-rena nekat untuk mencoba peruntungannya di Amerika, ia memberanikan diri mengambil kursus CNA. “Saya berani untuk ambil kursus tersebut meskipun bahasa Inggris be-lum lancar karena ada empat teman lain asal Indonesia yang juga sekelas dengan saya. Jadi, saat kursus kami masih harus buka-buka kamus. Ini penga-laman yang tak terlupakan.”
Lebih dari 16 tahun di AS, Hengky belum bisa pulang ke tanah air karena masih menung-gu proses permohonan green card-nya. “Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar, dan permohonan visa kami (ia dan Elisabet, red) lolos,” harapnya. Setidaknya kedua anak mereka, yang karena lahir di AS, berhak atas status sebagai warga negara AS. Apabila permohonan mereka ditolak, ujarnya, mereka akan kembali pulang ke Indonesia.(***)
|
|