|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Identifikasi Fenomena
Alam(3)
Kurikulum pendidikan geografi di minta terfokus untuk mengenali bencana alam.
|
Berbagai analisa para ahli geologi terungkap pada dis-kusi “ Dinamika Kebumian Ka-wasan Jawa Tengah” yang di selenggarakan ikatan ahli Geologi Indonesia (IAGI) di Ja-karta Selasa 30 Mei 2006. BMG di wakili Dr Fauzi tetap berpegang pada data yang di keluarkan sebelumnya. Bah-wa gempa tektonik Jokyakarta berada pada dekat pantai pada ujung “sesar Opak” aktif sepanjang 12 km berarah ti-mur laut. Dengan peralatan seismograf mengukur kece-patan penjalaran energi ge-lombang maka di tamukan pusat gempa berada dekat pantai, maka tidak akan ber-potensi menimbulkan tsu-nami. (Dr Surono Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-DESDM, Kompas 31/05/2006).s
Namun dalam diskusi ilmiah ini sebuah argumen menyata-kan bahwa; gempa di Sesar Opak itu di picu oleh aktivitas gunung merapi. Karena sesar itu sudah pada kondisi kritis maka adanya gangguan sedi-kit saja dapat memicu terja-dinya pergeseran sesar itu. Selain oleh aktivitas merapi, gangguan terhadap sesar itu telah terjadi dalam kurun waktu lama, termasuk gempa tektonik akibat subduksi tahun 1998 (6,6 SR) dan ta-hun 2003 (6,3 SR). Kegem-paan di sesar ini dapat terjadi karena tergolong aktif. Artinya berpotensi bergerak bila terjadi gempa bumi karena memotong lapisan permu-kaan tanah yamg berusia muda, yaitu di bawah 10.000 tahun. Disarankan agar melakukan penilitian “paleo-seismologi” (kegempaan pur-ba) untuk membuktikan ana-lisis ini, juga agar dapat di buat peta Zona Sesar di wila-yah itu dan identifikasi sesar-sesar yang aktif. Hal ini pen-ting untuk penataan ruang, menetapkan lokasi layak pe-mukiman dan fasilitas publik lainnya agar bila terjadi gem-pa tidak lagi memakan kor-ban seperti ini. ( DR Benya-min Sapi’ie/Katua Lab. Geo Komputasi Dept. Tekhnik Geologi-ITB Bandung, Kompas 31/05/2006)
Mengenai pakar Geologi di atas (DR Benyamin sapi’ie) penulis pernah menjadi asis-ten Geolog beliau ketika tahun 1987 kami melakukan pemye-lidikan Geologi Migas di Ceku-ngan Kendilo daerah Kaliman-tan Timur. Saat itu kami ber-kemah dan mengumpulkan data Geologi ( sampling con-toh batuan, pengukuran struktur ) himgga ke bagian timur pegunungan Meratus. Tahun 1987 pertamina dae-rah Kalimantan bersinergi dengan perusahaan konsul-tan Geologi dari ITB Bandung.
Zona Patahan
Geser Mendatar
Pada kesempatan terpisah sebuah pernyataan mengung-kapkan bahwa; dampak pa-ling parah gempa Yogyakarta akibat adanya “Zona patahan geser mendatar” yang mem-bujur arah timur laut dari Pantai Parang Tritis hingga Pi-yungan, Kabupaten Bantul. Zona patahan ini bergeser akibat goncangan gempa tektonik sehingga merusak bangunan di atasnya. Diawali tunjaman Lempeng Tektonik Samudera Hindia dan Lem-peng Eurasia. Tunjaman itu menyebabkan pergeseran-pergeseran dan retakan pada lapisan batuan lempeng Eu-rasia. Akibatnya terjadilah pelepasan energi dari retakan dan terjadinya perambatan gelombang energi ke segalah arah termasuk daratan. Se-mentara itu di daratan sudah ada “patahan geser mendatar” yang terbentuk kurang lebih 5 juta tahun silam. patahan yang terkubur oleh endapan gunung Merapi itu berada di bawah daerah Kabupaten Sleman, kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Bagian tengah daerah Yokyakarta dari Slamen Kota dan Bantul merupakan struktur patahan “Graben” (amblessan). Di ba-gian barat juga naik mem-bentuk perbukitan Kulon Progo. Sejarah Geologi DIY yang merupakan lembah graben itu kemudian terisi material vulkanik gunung merapi.(bersambung)
|
|