|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
Peluang Industri
Mandiri Biodiesel di Sulut(5)
|
Seorang Jerman, Rudolf Christian Karl Diesel tahun 1900 memperkenalkan mesin diesel dalam World’s Exhibition di Paris dengan menggunakan minyak dari kacang. Namun dalam perkembangannya bahan bakar diesel turunan minyak bumi lebih banyak digunakan. Kini dengan makin berkurangnya cadangan bahan bakar fosil, keberadaan bahan bakar dari unsur hayati non-fosil (bio-energy) mulai dihidupkan kembali. Setidaknya pemerintah Indonesia sudah menoreh tinta emas di lembar sejarah dengan membangun proyek untuk solusi bangsa di bidang energi pada 20 Mei 2006, yaitu mengembangkan energi alternatif yang memiliki multiplier effect secara ekonomi dan ketahanan bangsa di sektor energi. Bagaimana peluang Sulut?
Berbagai uji coba yang dila-kukan di negara-negara maju pada peralihan dekade 1970/1980-an memang kemudian membuktikan kedua dampak negatif dikemukakan di atas, sehingga para ahli menya-takan SVO sangat tidak layak jika secara langsung dijadikan bahan bakar mesin diesel, kecuali kalau terbukti rendah kadar fosfor dan asam lemak bebas.
Kebanyakan ahli bahan ba-kar hayati berpendapat sama, dampak negatif penggunaan SVO sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel tersebut di atas disebabkan tiga faktor, yaitu SVO memiliki kekenta-lan (viskositas) yang jauh le-bih besar dari minyak/solar. Pompa penginjeksi bahan ba-kar di dalam mesin diesel tak mampu melakukan penga-butan (atomization) yang baik saat SVO disemprotkan ke ruang pembakar.
Kebanyakan SVO memiliki angka cetane rating yang ren-dah, yaitu 32-40. Angka ceta-ne adalah tolok ukur kemu-dahan menyala/terbakar da-ri suatu bahan bakar di dalam mesin diesel. Persyaratan angka cetane solar di Indonesia se-karang minimal 45, sedangkan di negara-negara maju lebih tinggi lagi, minimal 50.
Ada dua cara alternatif yang bisa ditempuh untuk menga-tasi hambatan-hambatan terhadap pemanfaatan SVO sebagai bahan bakar mesin diesel yang telah diuraikan di atas. Kedua cara tersebut adalah:
1. Memodifikasi (mengubah) mesin diesel agar dapat menggunakan langsung SVO sebagai bahan bakar (kata straight pada istilah SVO se-benarnya adalah sinonim dari unmodified).
2. Modifikasi SVO (atau mi-nyak lemak) agar sesuai de-ngan persyaratan bahan ba-kar mesin-mesin diesel yang lazim (sudah banyak ter-sedia). Modifikasi ini bertu-juan mengubah minyak-le-mak menjadi bahan bakar ya-ng berberat molekul lebih ke-cil, kekentalannya hampir sa-ma dengan minyak diesel/so-lar, dan berangka cetane be-sar. Biodiesel ester metil ada-lah contoh produk modifikasi yang dewasa ini paling popu-ler dan masyarakat biasanya menyebut sebagai Biodiesel.
Nah, modifikasi kimia justru paling mudah dilakukan un-tuk mengubah SVO menjadi bahan bakar yang berberat molekul lebih kecil, keken-talannya hampir sama de-ngan minyak diesel/solar, dan berangka cetane besar. Jadi modifikasi kimia memudah-kan pengguna mesin diesel untuk mengisikan Biodiesel Ester Metil dalam tangkinya layaknya mengisi solar.
STANDARISASI
Biodiesel bisa dibuat sen-diri? Tentu bisa! Hanya saja kita perlu standardisasi produk untuk memberikan perlindungan kepada kon-sumen jika produk ini dilepas ke pasaran.(Bersambung)
|
|