|
|
|
|
![]() |
![]() |
|
175 Tahun PI dan Pendidikan Kristen di Minahasa
|
TANGGAL 12 Juni setiap tahunnya, diperingati sebagai hari Pekabaran Injil (PI) dan Pendidikan Kristen di Tanah Minahasa. Tanggal ini dikaitkan dengan kedatangan dua orang penginjil yang diutus Badan Penginjilan Belanda NZG, yaitu Riedel dan Schwarz, di Tanah Minahasa pada tanggal 12 Juni 1831.
Kedua penginjil asal Jerman ini telah berjasa menanamkan Injil kepada hampir seluruh penduduk di Tanah Minahasa semasa hidup keduanya. Selain melakukan penginjilan, mereka juga mendidik orang Minahasa dengan mendirikan sekolah-sekolah. Sehingga mereka telah mempelopori peningkatan sumber daya manusia bagi orang Minahasa. Hal lain yang dilakukan adalah pengajaran mereka dalam bercocok tanam dan kegiatan pelayanan lainnya. Riedel dan Schwarz mengabdikan seluruh hidupnya di Minahasa, sampai akhir hidup mereka.
Dalam pekerjaan yang tidak mengenal lelah, mereka sanggup meyakinkan orang Minahasa tentang kebenaran Injil. Padahal pada waktu itu orang Minahasa masih sangat kental dengan kepercayaan lama, berupa agama suku yang sangat erat hubungannya dengan animisme dan dinamisme.
Setelah 175 tahun berlalu, tentulah momentum peringatan HUT PI dan Pendidikan Kristen ini, dapatlah warga Kristen di Minahasa, khususnya GMIM mengevaluasi sejauh mana pertumbuhan dan perkembangan gereja di Minahasa. Sebagaimana dikatakan oleh Wakil Ketua Badan Pekerja Sinode GMIM Pdt Herry JJ Plangiten pada saat memimpin ibadah agung peringatan HUT PI dan Pendidikan Kristen ke-175 se-Langowan, Senin (12/06) lalu, bahwa pertumbuhan gereja bukan hanya dilihat dari jumlah umatnya, tapi yang terutama adalah kualitas iman umatnya.
Berkaitan dengan peringatan tersebut, GMIM secara khusus juga harus mengevaluasi diri apakah taburan Injil yang telah dilakukan oleh para penginjil masih sesuai dengan Firman Tuhan, atau telah melenceng. Sebab sekarang ini bukan lagi rahasia bahwa para pemimpin GMIM tengah melakukan perebutan-perebutan ‘kekuasaan’. Sehingga di antara pemimpin GMIM sendiri saling menonjolkan ‘bodinya’ dan bukan budi. Padahal sama-sama punya komitment menjalankan tema gereja ‘Berubahlah oleh Pembaruan Budimu’.
Di sisi lain banyak warga GMIM yang akhirnya ‘berpindah ke lain hati’ karena mungkin saja pemimpinnya tidak lagi menunjukkan keteladanan. Sehingga tidaklah heran kini menjamur gereja-gereja baru yang siap menampung mereka yang ‘pindah ke lain hati’.
Kondisi ini tentu perlu dicermati dan diantisipasi. Sebab bukan tidak mungkin bahwa suatu saat GMIM akan mengalami kehancuran, dan tinggal kenangan.(**)
|
|